بسم الله الرحمن الرحيم
Hidup ini indah...Kulihat, Kudengar, Kurasa, Kubaca, Kutulis...

KAPAN DUNIA, KAPAN AKHIRAT

Apakah beda dunia dan Akhirat? Secara umum kita sebenarnya sudah ‘merasakan’ bedanya. Tetapi barangkali akan lebih baik kalau secara eksplisit kita memberikan definisinya.
Perbedaan dunia. dan Akhirat, diantaranya, ditandai oleh waktu dan tempat berlangsungnya. Dari segi waktu, alam dunia adalah alam kehidupan yang terjadi lebih dahulu. Dalam istilah bahasa, kata dunia juga berarti dekat. Artinya kehidupan yang dekat dengan kita sekarang. Kita alami saat ini. Sedangkan Akhirat,adalah kehidupan berikutnya, sesudah kehidupan dunia. Kata ‘Akhirat’ menunjukkan bahwa kehidupan Akhirat adalah kehidupan yang terakhir atau lebih akhir daripada dunia yang sekarang. Banyak yang berpendapat bahwa kehidupan Akhirat memang adalah kehidupan yang final. Tidak ada lagi kehidupan sesudah itu.
Secara terminologi waktu, Allah mengatakan bahwa manusia memang melewati beberapa tahapan kehidupan. Yang pertama, adalah suatu waktu ketika manusia belum berwujud apa-apa. Allah mengatakan sebagai ‘bentuk yang belum bisa disebut’. Ini menunjuk kepada bahan-bahan dasar tubuh manusia di dalam tanah. Pada waktu itu, manusia memang belum ada bentuk sedikit pun. Seluruh bahan dasar tubuhnya tersebar di seantero permukaan Bumi atau bahkan di udara bebas berupa gas.
Begitu Allah memulai penciptaan, maka Allah mengumpulkan berbagai zat dari permukaan Bumi untuk disenyawakan menjadi asam amino, bahan dasar pembentuk tubuh manusia. Pengumpulan bahan bahan dasar itu, dibantu oleh tanaman dan binatang.
Kehidupan tahap pertama itu diakhiri saat sperma seorang laki laki bertemu dengan ovum dari seorang perempuan. Sejak terjadinya pembuahan itulah, maka proses penciptaan terjadi. Dan sejak itu pula manusia memasuki ‘kehidupan’ tahapan kedua.
QS. Al Insaan: 1, “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang bisa disebut?”
Tahap kedua. Dimulai dengan terjadinya ‘pembuahan’ (yaitu bertemunya sperma sang ayah dengan ovum sang ibu), sampai terjadinya kelahiran seorang manusia. Ini adalah ketika manusia berproses di dalam rahim. Saat itu Allah menciptakannya lewat proses kehamilan. Di sini Allah semakin banyak bercerita tentang proses penciptaan itu. Di antaranya ayat berikut ini.
QS. Az Zumar (39): 6, “Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”
QS. Al Mu’minuun : 12 – 14, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang lain. Maka Maha Suci Allah pencipta yang paling sempurna”
Tahap yang ketiga, adalah kehidupan di alam dunia.. Kehidupan ini didahului oleh kelahiran seorang bayi, dan diakhiri dengan kematiannya. Inilah drama kehidupan manusia, dimana kita harus melakukan berbagai kebajikan dan menjauhi berbagai kemaksiatan. Segala apa yang kita lakukan akan membawa dampak pada kehidupan berikutnya, di alam Akhirat. Kematian manusia mengantarkannya menuju pada kehidupan yang lebih kekal abadi, yaitu Kehidupan Akhirat. Di kehidupan yang terakhir ini, manusia tidak akan mengalami kematian lagi, sebagaimana difirmankan Allah.
QS. Ad Dukhaan (44) : 56, “mereka tidak akan merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab Neraka”
Kualitas kehidupan manusia selalu dipengaruhi oleh tahapan sebelumnya. Karena itu, kualitas kehidupan Akhirat kita juga sangat dipenganihi oleh kehidupan kita di dunia. Kalau kehidupan kita di dunia jelek, maka. kualitas kehidupan kita di Akhirat juga akan jelek dan menyengsarakan.
Demikian pula, kualitas kehidupan kita di Dunia, sangat dipengaruhi oleh kualitas kita pada tahap sebelumnya, saat kita masih di dalam kandungan. Jika pada saat mengandung, ibu kita melakukan kesalahan-kesalahan tertentu, maka bisa jadi si bayi yang lahir tidak dalam keadaan normal sebagaimana bayi yang lain.
Perbedaan itu terletak pada usaha yang dilakukan. Namun pada pada tahap kedua ini di dalam kandungan kita tidak bisa berusaha sendiri. Kualitas kandungan sepenuhnya tergantung kepada usaha bapak dan ibu kita. Bagaimana mereka mengatur gizi saat kehamilan, atau bersikap secara psikologis, atau bagaimana pula saat melakukan konsepsi, semuanya akan berpengaruh pada kualitas kehamilan. Dan pada gilirannya, kualitas kehamilan itu akan berpengaruh pada kualitas bayi yang dilahirkan.
Bahkan kalau dirunut lebih jauh lagi, kualitas kehamilan itu juga dipengaruhi oleh kualitas tahap sebelumnya. Baik kualitas orang tua kita, maupun kualitas lingkungan dimana orang tua kita berada. Genetika dan polusi lingkungan, misalnya bisa menyebabkan kecacatan pada janin.
Jadi, secara keseluruhan, memang tahapan-tahapan itu saling mempengaruhi ke arah proses lebih lanjut. Dari semua itu ,yang harus kita camkan adalah pada fase ketiga, yaitu kehidupan dunia. Karena, di fase inilah semua kualitas itu sangat bergantung pada usaha kita sendiri. Bukan orang lain, dan juga bukan orang tua kita lagi. Kalau kita gagal dalam mengelola kehidupan kita di fase Dunia, maka kita akan sengsara di fase berikutnya, yaitu di fase Akhirat
Fase kehidupan dunia untuk manusia dimulai ketika Adam pertamakali diciptakan oleh Allah, sekitar 50 ribu tahun yang lalu. Bahkan, sebenarnya persiapan untuk kehidupan manusia itu telah ‘dirintis’ oleh Allah 5 miliar tahun yang lalu saat Bumi ini mulai diciptakan. Berikut ini adalah fase persiapan Bumi sampai munculnya kehidupan yang mengarah kepada penciptaan manusia.
QS. Al Anbiyaa’ (21) : 30, “Dan dari air (Allah memulai) setiap yang hidup. . . “
QS. An Nuur (24) : 45, “Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki Nya, sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Secara global, ilmu pengetahuan tentang sejarah kehidupan di muka Bumi memperoleh data-data dari berbagai fosil. Di antaranya, diperoleh data fosil tertua yang berumur sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu. Fosil tersebut menggambarkan bahwa di daerah perairan/lautan telah hidup sejenis bakteri dan makhluk bersel tunggal.
Sedangkan kehidupan makhluk bersel lebih banyak mulai diketemukan pada fosil-fosil yang berusia di bawah 1 miliar tahun yang lalu. Jenis-jenis ini mulai diketemukan hidup di daratan. Setelah itu, barulah diketemukan fosil-fosil dari makhluk-makhluk yang lebih kompleks strukturnya.
Kehidupan tanaman dan binatang, misalnya, diperkirakan dimulai sekitar 550 juta tahun yang lalu, pada zaman Cambrium. Evolusi terus berjalan menuju pada. kompleksitas yang semakin tinggi. Zaman Jurassic, dimana dinosaurus hidup, diperkirakan sekitar 150 200 juta tahun yang lalu. Dan kehidupan manusia modern diperkirakan baru sekitar 50 ribu tahun yang lalu.
HIDUP YANG SESUNGGUHNYA
Judul di atas membawa pikiran kita kepada sebuah persepsi bahwa ada hidup yang sesungguhnya dan ada yang tidak sesungguhnya. Yang manakah yang sesungguhnya dan mana yang tidak sesungguhnya? Hanya Allah lah yang mengetahuinya, karena Dialah pemilik dan pembuat hidup kita. Karena,itu, marilah kita lihat firman-firman Allah berikut ini.
QS. Ali Imran (3) : 186
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”
QS. Al Anaam (6) : 32
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung Akhirat itu lebih baik bagi orang orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?”
QS. At Taubah (9) : 38
“Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di Akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di Akhirat hanyalah sedikit.”
Allah mengatakan di dalam firman-firmanNya di atas bahwa kehidupan kita di dunia ini sebenarnya bukanlah hidup yang sesungguhnya.. Kehidupan kita yang sesungguhnya baru akan terjadi nanti di Akhirat. Di dunia ini, kata Allah, hanya main-main saja. Hanya sendau gurau belaka. Hanya saling pamer-pamer gengsi saja.
Bukankah hidup kita ini memang hanya saling pamer saja. Kadang pamer rumahnya yang baru dibangun. Atau juga pamer mobilnya yang baru dibeli. Atau seringkali juga pamer keluarga, anak anak dan berbagai prestasi yang dimilikinya. Padahal, bukankah semua itu bersifat sementara?
‘Yang pasti’ dari semua aspek kehidupan kita ini sebenarnya hanyalah satu yang pasti, yaitu: bahwa kita akan mengalami kematian dan meninggalkan semua kebanggaan kita yang bersifat duniawi tersebut. Ketika kita mati, rumah bagus yang kita miliki akan kita tinggalkan. Mobil mewah juga tidak kita bawa. Bahkan istri, suami, anak dan segala prestasi yang membanggakan itu juga tidak bisa ikut serta. Kita tinggal sendirian saja menghadap Allah, Sang Maha Pencipta.
Maka, sungguh benarlah adanya, bahwa kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Bahkan kata Allah hanya main-main dan sendau gurau belaka. Hidup yang sesungguhnya justru akan terjadi setelah kematian kita.
Boleh jadi kita akan sangat terkejut dengan kehidupan kita sesudah mati itu. Kita tidak pernah menyangka bahwa ‘kehidupan sesudah mati’ itu memiliki bentuk dan ukuran nilai yang sangat berbeda dengan kehidupan kita di dunia. Bagaikan seorang bayi yang baru lahir. Ketika masih di dalam rahim dia terendam dalam air ketuban, tidak bernafas, dan peredaran darah serta denyut jantungnya mengikuti denyut jantung ibunya. Demikian pula, seluruh kebutuhan makananya dipasok oleh ibunya lewat plasenta (ari-ari).
Namun, begitu dia terlahir ke dunia ini, dia menemukan kenyataan yang berbeda, bahwa dia harus bernafas sendiri. Juga harus mempertahankan hidupnya dengan cara makan dan minum yang tidak pernah dialaminya ketika masih berada di dalam kandungan. Bahkan,dia lantas harus belajar berjalan dan menggerakkan anggota anggota badannya. Dia juga harus mengaktifkan seluruh panca inderanya agar bisa berinteraksi dengan ‘dunianya’ yang baru. Pendek kata, meskipun masih menggunakan badan yang sama, sang bayi temyata harus hidup di dalam dunia yang berbeda.
Kurang lebih sama. Ketika kita dibangkitkan olehNya di alam Akhirat nanti, kita akan mengalami berbagai macam penyesuaian dengan kehidupan baru itu. Persis seperti mengalami kelahiran kembali.
Badan kita masih sama dengan saat hidup di dunia akan tetapi kemampuannya berbeda, dan lingkungan hidup kita juga sangat berbeda dengan kondisi di sini. Hal ini dikatakan oleh Allah di dalam QS. Ibrahim : 48, bahwa Bumi dan langit pada waktu itu telah diganti dengan yang baru. Kondisinya sangat jauh berbeda, sehingga menyebabkan kita bisa hidup lebih kekal dibandingkan dengan kehidupan di dunia.
Pada waktu itu, banyak hal yang akan mengalami perubahan. Mulai dari lingkungan hidup, ketajaman dan kemampuan indera kita, ketahanan fisik, sampai pada ukuran nilai dan, kebahagiaan yang akan kita alami. Kehidupan kita di sana nanti akan berlangsung selama 15 miliar tahun! Itulah kehidupan yang sesungguhnya.
QS Al Mu’min (40): 39
“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara), dan sesungguhnya Akhirat itulah negeri yang kekal”
QS. Al Kahfi: 45 - 46
“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia) kehidupan dunia adalah bagaikan air hujan yang Kami turunkan dari langit. Maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka Bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”
QS. Thaahaa .(20) : 124-126
“Barangsiapa berpaling dari peringatanKu maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”
“Berkatalah ia : ya Tuhanku mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulunya aku adalah seorang yang melihat ?”
Allah berfirman : demikianlah telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu pula, pada hari kiamat ini kamupun dilupakan.”
KIAMAT SUDAH DEKAT ?

Sejak zaman Nabi Muhammad saw masih hidup, Al-Qur’an mengatakan bahwa kiamat sudah dekat dan akan terjadi sewaktu-waktu. Namun, kini sudah berjalan hampir 1500 tahun, kiamat belum juga terjadi. Apakah kita keliru dalam memahami makna informasi tersebut ?
Kita sebagai orang Islam, pasti tidak akan meragukan sedikitpun kebenaran Al Qur’an sebagai firman Allah. Dan berbagai cara pendekatan dalam memahami Al Qur’an juga menunjukkan bahwa tidak ada kekeliruan sedikitpun di dalam informasi Al Qur’an. Jadi kesimpulannya, agaknya kita harus cermat dalam menginterpretasikan informasi dari kitab suci kita itu.
Di dalam Al Qur’an banyak sekali informasi tentang kejadian kiamat. Termasuk waktu terjadinya. Untuk itu, kita sebaiknya tidak membuat penafsiran secara sepotong-sepotong. Yang baik adalah kita kumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, lantas kita pahami secara komprehensif. Di antaranya adalah beberapa ayat di bawah ini, yang bisa kita kelompokkan kedalam 3 bagian, yaitu tentang ‘Kepastian Terjadinya Kiamat’, ‘Terjadi secara Rahasia dan Tiba-Tiba’. Serta ‘Waktunya Sudah Dekat’
QS. Al Mu’min (40) : 59
“Sesungguhnya hari kiamat pasti akan datang, tidak ada keraguan tentangnya, akan tetapi kebanyakan manusia tiada beriman (mempercayainya).”
QS. Thaahaa (20) : 15
“Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan agar supaya setiap diri dibalas dengan apa yang telah dia usahakan.”
QS. Al Hijr (15) : 85
“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan Bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. Dan sesungguhnya saat (kiamat) itu pasti akan datang, . . .”
QS. Muhammad (47): 18
“Maka tidaklah yang mereka tunggu-tunggu melainkan hari kiamat (yaitu) kedatangannya kepada mereka dengan tiba-tiba, karena sesungguhnya telah datang tanda tandanya…”
QS. An Najm (53) : 57 - 58
“Telah dekat terjadinya kiamat. Tidak ada yang menyatakan terjadinya hari itu kecuali Allah.”
QS. An Nahl (16): 77
“Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
QS. Al A’raaf (7): 187
“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuanku tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
Dan masih banyak lagi ayat-ayat tentang kiamat yang bisa kita jumpai di dalam Al-Qur’an. Dari beberapa ayat tersebut marilah kita diskusikan beberapa pemahaman berikut ini.
Kiamat Pasti Datang
Secara ilmiah maupun informasi Al-Qur’an kita mendapatkan kepastian bahwa Kiamat memang bakal terjadi. Tidak ada peluang untuk tidak mempercayai tentang terjadinya Kiamat. Akan tetapi, kita tentu harus paham dulu tentang definisi Kiamat. Secara umum., Kiamat adalah kehancuran dunia kita.
Dalam konteks ilmiah, dunia kita akan mengalami kiamat dua. kali : yaitu kehancuran planet Bumi dan kehancuran Alam Semesta. Ternyata , agama kita pun mengenal dua macam kiamat, yaitu Kiamat Sughra (Kiamat Kecil) dan Kiamat Kubra (Kiamat Besar). Maka, kedua pemahaman itu sebenarnya sudah berjalan seiring. Sehingga kita bisa menyimpulkan bahwa kiamat kecil adalah hancurnya Bumi. Sedangkan Kiamat besar adalah hancurnya alam semesta.
Secara ilmiah, Bumi kita memang diperkirakan akan mengalami kehancurannya. Setidak-tidaknya ada 2 mekanisme yang bisa menyebabkan hancurnya Bumi. Yang pertama. adalah padamnya Matahari dan yang kedua adalah terjadinya tabrakan antara Bumi dengan batu-batu angkasa. Secara ilmiah hal tersebut bisa diperhitungkan dan bisa dijelaskan.
Akan tetapi secara umum, Bumi ini memang dipastikan bakal mengalami kehancuran secara alamiah. Maka jika Bumi mengalami kehancuran yang dahsyat, seluruh kehidupan di permukaannya pun akan ikut punah.
Demikian pula, secara Qur’ani. Allah berkali-kali mengatakan bahwa kiamat pasti akan datang. Tidak perlu ada keraguan tentang datangnya kiamat itu. Bumi akan mengalami kehancuran yang sangat dahsyat dan fatal. Allah masih merahasiakan peristiwa itu, tetapi pasti ia datang!
Rahasia dan Tiba Tiba
Meskipun Allah mengatakan bahwa kiamat bakal terjadi, tetapi menurut Allah terjadinya secara tiba tiba. Sehingga, Dia katakan bahwa kiamat itu menjadi rahasia Allah. Di ayat berbeda Allah menyampaikan bahwa pengetahuan tentang kiamat adalah di sisi Allah.
Tetapi, kalau kita cermati, kalimat itu bukan berarti Allah tidak memberikan pengetahuan tentang Kiamat kepada manusia. Di QS. Al A’raaf : 187 Allah mengatakan bahwa ‘kebanyakan’ manusia memang tidak mengetahui. Berarti, sebenarnya ada ’sedikit’ manusia yang diberitahu oleh Allah tentang informasi kiamat tersebut. Di antaranya para rasul. Hal itu difirmankan Allah di dalam Al Qur’an.
QS. Zukhruf (43) : 61
“Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberitahukan pengetahuan tentang hari Kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang Kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”
Maka, dari berbagai ayat tersebut kita mendapatkan pemahaman bahwa pengetahuan tentang Kiamat itu memang berasal dari Allah saja. Tidak ada seorang pun yang tahu secara persis, kecuali orang-orang yang dekat denganNya. Akan tetapi, secara umum Allah berkenan menunjukkan tanda-tandanya kepada umat manusia.
Dan secara ilmiah, manusia lantas menangkap ‘tanda-tanda’ itu untuk diformulasikan sebagai pengetahuan empirik tentang kiamat. Maka, manusia boleh saja melakukan rekonstruksi terhadap peristiwa kiamat itu. Tetapi, semua kebenarannya tetap, berada di Genggaman Allah semata.
Kiamat Sudah Dekat
Dari sekian banyak firmanNya, Allah memberikan tanda-tanda kepada kita bahwa Kiamat itu sebenarnya sudah dekat. Akan tetapi, sebagaimana saya kemukakan di depan, bahwa sejak zaman Nabi Muhammad saw. ternyata kiamat itu belum juga terjadi. Maka, agaknya kita perlu melakukan rekonstruksi terhadap berita-berita Al Qur’an itu, dengan berdasarkan pada tanda-tanda yang diberikan Allah kepada kita lewat berbagai ayatNya. Baik yang ada di alam semesta maupun yang berada di dalam Al Qur’an. Untuk itu sebelumnya saya merasa perlu untuk mengajak pembaca memahami tentang, ‘Waktu’.
Kiamat Bumi & Kiamat Alam Semesta.
Bahwa kiamat akan terjadi, dua kali. Yang pertama adalah kiamatnya Bumi, dan yang kedua adalah kiamatnya alam semesta secara keseluruhan.
Kapankah Bumi akan mengalami kehancurannya? Diperkirakan masih sekitar beberapa ribu tahun lagi, akibat bertabrakan dengan batuan angkasa yang besar ukurannya. Bumi akan masuk ke suatu wilayah penuh batu angkasa, di luar sistem tata surya kita sekarang ini.
Dan kapankah terjadinya kiamat alam semesta? Diperkirakan masih sekitar 18 miliar tahun lagi. Yaitu sesudah terjadinya periode Akhirat. Jadi kalau dibuatkan ringkasan penciptaan alam semesta ini dari segi urutan waktunya, kira-kira adalah sebagai berikut :
1. Sekitar 12 miliar tahun yang lalu alam semesta. diciptakan Allah lewat sebuah ledakan yang sangat dahsyat.
2. Kemudian, sekitar 5 miliar tahun yang lalu terbentuklah tatasurya kita, termasuk di dalamnya adalah Bumi dan 8 planet lainnya. Sejak itu pula Allah membentuk kondisi Bumi yang memungkinkan untuk kehidupan. Termasuk di dalamnya adalah lapisan udara yang disebut atmosfer.
3. Lantas sekitar 3,5 miliar tahun yang lalu Allah menciptakan makhluk bersel satu di. daerah perairan. Sekitar 1 miliar tahun yang lalu Dia memulai kehidupan di daratan, lewat mahluk yang bersel lebih banyak. Dan, sekitar 550 juta tahun yang lalu Allah menciptakan berbagai jenis tanaman dan binatang yang kompleks struktur tubuhnya.
4. Barulah sekitar puluhan ribu tahun yang lalu Allah menciptakan manusia untuk pertama kalinya, yang kemudian berkembang biak hingga. kini.
5. Seterusnya,, Allah tetap memproses kejadian alam semesta ini sehingga sekitar beberapa ribu tahun lagi Bumi akan mengalami kiamat. Bumi bakal hancur, dan kehidupan makhluk di atasnya pun musnah. Mirip kejadian punahnya Dinosaurus sekitar 150 - 200 juta tahun yang lalu.
6. Bumi akan mengalami recovery alias perbaikan lingkungannya kembali selama 2 - 3 miliar tahun, untuk mengembalikan kehidupan di muka Bumi ini. Maka, ketika kondisi Bumi sudah ideal untuk kehidupan tahap kedua, manusia dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya. itulah dimulainya periode Akhirat.
7. Manusia akan dihidupkan selama sekitar 15 miliar tahun di alam Akhirat, sampai kemudian semuanya lenyap, kembali kepada Sang Pencipta.
Jadi alam semesta, ini dulu berada di satu titik, pusat alam semesta. Ketika terjadi ledakan maha dahsyat itu, seluruh isi alam ini terlontar ke segala penjuru langit, sampai sekarang. Diperkirakan perkembangan itu akan terus terjadi sampai sekitar 3 miliar tahun lagi. Apa yang terjadi setelah itu? Alam akan berbalik menciut menuju ke satu titik, di pusat alam semesta, kembali ke asalnya.
Nah, dimanakah terjadinya proses kiamat. Bahwa Kiamat ada 2 macam. Yang pertama adalah Kiamat Sughra alias kiamat Kecil. Sedangkan yang kedua adalah Kiamat Kubra alias Kiamat Besar.
Kiamat Kecil adalah proses kehancuran ‘Bumi saja’ karena dibombardir oleh jutaan meteor dari angkasa luar. Seluruh kehidupan di muka Bumi akan mengalami kehancurannya. Termasuk manusia, jin, binatang dan berbagai tumbuhan. Kecuali malaikat. Kejadian itu diperkirakan bakal terjadi beberapa ribu tahun lagi.
Sedangkan Kiamat Besar adalah kehancuran alam semesta termasuk Bumi, Matahari, bintang dan galaksi karena terjadi proses penciutan kembali alam semesta, kemudian hancur di pusatnya. Dalam terminologi alam semesta ini akan musnah dan lenyap, sekitar 18 miliar tahun lagi, setelah kita.hidup di alam Akhirat selama 15 miliar tahun.
Jadi ringkasnya : 12 miliar tahun yang lalu alam semesta ini diciptakan. Beberapa ribu tahun lagi Bumi akan mengalami kehancuran. Kemudian sekitar 3 miliar tahun ke depan Bumi akan mengalami pemulihan dari kerusakan akibat kiamat Bumi. Saat itu pula, alam semesta. bergerak menciut. Maka, dimulailah kehidupan Akhirat. Lamanya 15 miliar tahun. Sampai alam semesta ini hilang lenyap di satu titik. Yang ada hanya eksistensi Allah semata.
MEKANISME KIAMAT BUMI
Bagaimanakah mekanisme terjadinya kiamat Bumi?
Apakah disebabkan oleh padamnya Matahari ataukah karena bertabrakan dengan batu batu angkasa, ataukah karena sebab lain? Al Qur’an menggambarkan hancurnya Bumi itu dalam puluhan ayat. Salah satunya adalah berikut ini.
QS. Al Mulk (67) 16 – 17: “Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku?”
Jadi menurut informasi al Qur’an, kehancuran Bumi ini bukan disebabkan oleh padamnya Matahari, perang nuklir, atau sebab-sebab lain. Tetapi digambarkan bahwa Bumi ini akan ‘ditenggelamkan’ Allah ke suatu wilayah yang penuh dengan batu meteor di angkasa luar.
Kejadian itu, tentu saja sangat mengerikan. Sebab, dampaknya akan sangat luar biasa. Bumi seperti dibombardir oleh jutaan batu-batu angkasa. Akibatnya, Bumi akan berguncang-guncang sangat dahsyat. Bahkan sampai terjungkir balik, diserbu oleh badai berbatu.
Berita dari Allah ini ternyata dibenarkan juga oleh ilmu Astronomi. Secara ilmiah, diakui bahwa Bumi suatu ketika akan mengalami peristiwa tersebut. Seorang ilmuwan Belanda memperkirakan bahwa sekitar beberapa ribu tahun lagi Bumi kita ini akan memasuki suatu wilayah berkabut di luar tatasurya kita, yang berisi jutaan batu meteor. Wilayah yang sangat luas tersebut diberi nama Kabut Oort, sesuai dengan nama penemunya. Hal ini sudah pernah terjadi di zaman Dinosaurus.
Apa yang terjadi jika Bumi ini masuk ke dalam kabut berbatu tersebut? Yang terjadinya adalah, Bumi ini seakan-akan dibombardir oleh jutaan batu meteor dari angkasa luar. Ukurannya sangat beragam, mulai dari sebesar kepalan tangan, sebesar mobil, sebesar rumah, sampai sebesar gunung.
Apa akibatnya? Tentu saja, sangat mengerikan! Sebagai gambaran : jika ada 1 buah saja, batu meteor dengan diameter sebesar 1 kilometer jatuh ke Bumi, maka akan muncul 5 efek yang luar biasa dahsyatnya.
Pertama, batu tersebut akan terbakar ketika memasuki atmosfer Bumi diakibatkan gesekan yang sangat keras. Batu tersebut bergerak menuju permukaan Bumi sambil terbakar, seperti sebuah panah api yang melesat di angkasa. Sehingga muncullah lintasan api yang sangat panjang di langit. Udara yang dilewatinya akan ikut terbakar, dan menimbulkan panas ribuan derajat.
Kedua, akan muncul badai akibat desakan udara yang sangat kencang, di sepanjang lintasan meteor tersebut. Badai itu sangatlah kencang disebabkan oleh massa udara yang terdesak oleh batu sebesar 1 km. Jangankan batu sebesar itu, ketika kita diselip bus di jalan raya saja, kita merasakan betapa kencang angin yang dihasilkan. Apalagi batu sebesar itu. Angin badai yang dihasilkannya, bisa merobohkan bangunan bangunan di jalur yang dilewatinya.
Ketiga, langit akan menjadi gelap disebabkan oleh abu meteor yang bertaburan memenuhi angkasa. Diperkirakan separo dari massa batu angkasa itu akan terbakar menjadi abu. Dan tentu saja, abu itu akan berhamburan di lintasan yang dilewatinya, dan. kemudian menyebar ke mana-mana karena tertiup angin dan pergerakan atmosfer. Seperti ketika gunung Krakatau meletus, abunya menyebar sampai jarak ribuan kilometer dari lokasi letusannya, ke benua Eropa dan Amerika.
Keempat, material meteor tersebut tidak terbakar habis di angkasa. la masih memiliki sisa separo, yang kemudian menghantam permukaan Bumi. Ketika jatuh di daratan, meteor akan menyebabkan gempa Bumi yang sangat dahsyat di atas 8 skala richter. Maka gedung gedung akan hancur berantakan terkena hantaman meteor dan gempa.
Bahkan bukan hanya getaran yang menyebabkan hancurnya bangunan bangunan itu, melainkan juga gelombang permukaan tanah, dikarenakan oleh hantaman meteor tersebut. Bumi kita memiliki lapisan paling luar di permukaannya. Ketika dihantam oleh meteor, permukaan itu akan bergelombang seperti permukaan air yang dilempar batu. Ketinggian gelombang tanah itu mencapai beberapa meter. Tentu saja segala benda yang ada di atasnya akan berhamburan dan berantakan ke mana mana.
Dan yang kelima, setelah menghantam permukaan tanah, batu meteor yang masih tinggal separo itu akan terus melesak ke dalam perut Bumi, menuju pusat magma Bumi. Akibatnya, magma di dalam perut Bumi akan terdesak oleh material yang sangat besar itu, dan kemudian dimuntahkan lewat gunung-gunung berapi terdekat. Untuk kawasan Jawa Timur misalnya, gunung-gunung seperti Semeru, Bromo dan Kelud akan meletus menyemburkan lava pijar. Semua gunung yang berada di sekitar jatuhnya meteor, tiba-tiba menjadi aktif kembali. Gelombang Tsunami akan bergejolak sangat hebat! Jika sisa meteor itu jatuh di lautan, akan menyebabkan badai dan gelombang air setinggi sampai puluhan meter. Gelombang itu lantas bergerak ke daratan dan akan menyapu pantai sampai beberapa kilometer ke arah pemukiman terdekat. Kejadian yarig sungguh sulit untuk dibayangkan!
Itu baru gambaran untuk 1 meteor, yang besamya 1 kilometer, jatuh ke Bumi. Padahal kabut Oort itu berisi jutaan meteor, yang besarnya sangat beragam. Ada yang sebesar mobil, sebesar rumah, sebesar gunung, atau bahkan jauh lebih besar lagi.
Maka, inilah yang digambarkan dalam Al Qur’an. Bahwa Bumi akan ditenggelamkan ke dalam kabut yang penuh batu. Bumi bakal mengalami hujan batu dalam ukuran yang tidak terkirakan sebelumnya. Sehingga digambarkan begitu dahsyat, di berbagai ayat berikut ini.
QS. Infithaar 1 – 3:“Ketika langit terbelah. Dan ketika bintang-bintang jatuh berserakan. Dan ketika lautan diluapkan …”
QS. Zalzalaah 1 – 3:“Ketika berguncang Bumi seguncang-guncangnya, dan Bumi mengeluarkan beban berat (isi perut), yang dikandungnya. Dan manusia bertanya : kenapa Bumi ini ?
QS. Qaari’ah 4 – 5:”Pada hari itu manusia seperti kupu-kupu berterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan”
Ayat-ayat di atas menggambarkan betapa Bumi dibombardir oleh jutaan bintang-bintang (meteor pijar yang kelihatannya seperti bintang) sehingga atmosfer kita bagaikan terbelah-belah. Sebelumnya, atmosfer kita sangat berguna untuk melindungi kehidupan di muka Bumi. Setiap ada batu angkasa yang masuk digesek dengan sangat keras oleh atmosfer dan kemudian terbakar habis.
Tetapi itu kalau ukuran batunya kecil. Jika ukurannya sangat besar maka atmosfer kita tidak mampu lagi melindungi kehidupan di muka Bumi ini. Apalagi jika jumlahnya jutaan meteor seperti digambarkan di atas. Langit alias atmosfer kita soperti terbelah-belah oleh bebatuan yang jatuh dari luar angkasa. Dan bebatuan itu meluncur ke permukaan Bumi menghancurkan segala yang ada, baik di daratan maupun di lautan.
Digambarkan dalam berbagai ayat di atas, bahwa lautan akan bergejolak meluap-luap. Sedangkan Bumi mengeluarkan segala isi perutnya, yaitu magma, yang keluar dari segala penjuru. Termasuk, dari gunung-gunung berapi dan rekahan-rekahan tanah di mana mana. Pada saat itu, manusia hanya bisa kebingungan atas apa yang terjadi.
Bahkan yang menarik, al Qur’an juga memberikan informasi bahwa miliaran manusia di muka Bumi akan terlontar berhamburan ke angkasa seperti gerombolan kupu-kupu atau rama-rama yang beterbangan (QS Qari’ah : 4-5). Kenapa bisa demikian?
Ya, karena manusia ini berada di atas sebuah planet Bumi yang sedang bergerak dengan kecepatan 1.669 km per jam. Maka ketika Bumi kita bertabrakan dengan batu angkasa yang sangat besar, kejadiannya adalah seperti sebuah truk berpenumpang menghantam sebuah pohon besar. Apa yang terjadi?

Kalau ada sebuah truk sarat penumpang melaju dengan kecepatan 100 km per jam, kemudian dia mendadak menabrak pohon, maka seluruh penumpangnya akan terhambur ke udara. Sebab, truk berhenti secara mendadak, tetapi penumpangnya masih memiliki kecepatan 100 km per jam.
Itulah yang terjadi dengan penduduk Bumi pada saat kiamat. Ketika Bumi secara mendadak dihentikan oleh tabrakan meteor berukuran raksasa maka seluruh benda di permukaan Bumi akan terhambur ke angkasa. Bagaikan rama-rama yang beterbangan! Begitu dahsyatnya. Kenapa? Karena seluruh penghuninya akan dihamburkan ke langit dengan kecepatan 1.669 km per jam!.
Miliaran manusia, miliaran binatang, tumbuhan, mobil, rumah, dan berbagai benda lain akan terhambur ke angkasa, akibat hentakan yang sangat dahsyat.
Bahkan dikatakan oleh Allah di QS. Mulk: 16, bahwa sesudah hujan badai berbatu, itu, Bumi akan terjungkir balik dibuatnya. Demikian hebat tabrakan itu sehingga menyebabkan Bumi terjungkir balik! Maka, tidak heran jika Rasululah mengatakan bahwa Matahari akan terbit dari barat. Bagaimanakah menjelaskannya?
Bumi adalah sebuah benda langit yang ‘tergantung’ di awang awang. Tidak ada yang mengikat Bumi kecuali hanyalah gaya-gaya gravitasi yang tidak kelihatan antar benda langit. Karena itu, ketika Bumi bertabrakan dengan benda langit lainnya, maka Bumi akan bergoyang-goyang. Semakin hebat tabrakan yang, terjadi, semakin goyang Bumi dibuatnya. Dan jika terlalu besar, maka Bumi bisa terjungkir balik karenanya. Malahan bisa terlepas dari garis edar atau orbitnya.
Selain itu, masuknya batu-batu meteor ke dalam perut Bumi bisa menyebabkan gangguan arus magma yang berdampak pada kacaunya sistem kemagnetan Bumi. Hal ini, pada gilirannya, bisa menyebabkan Bumi terjungkir balik kutub utaranya terjungkir menjadi kutub selatan, dan sebaliknya.
Maka, jika tadinya Bumi berputar dari Barat ke Timur (sehingga Matahari terlihat terbit dari arah Timur), maka ketika ‘Bumi terjungkir, perputaran rotasi Bumi menjadi berlawanan arah dari Timur ke Barat. Sehingga, Matahari terlihat terbit dari Barat!
Maka, pada hari kiamat, Bumi benar-benar mengalami kehancuran total. Seluruh penjuru Bumi tidak ada yang bisa diselamatkan, akibat Bumi dibombardir oleh badai berbatu. Mulai dari atmosfemya, daratannya, gunung-gunung, lautan, sampai seluruh makhluk hidup yang menghuni Bumi, semuanya mengalami kerusakan sangat parah. Sehingga Allah mengatakan betapa Bumi menjadi hancur dan datar tidak ada bagian yang tinggi atau pun yang rendah.
QS. Thaahaa (20): 105 - 107
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, Maka katakanlah : Tuhanku akan menghancurkan (di hari kiamat) sehancur hancurnya. Maka Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali. Tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi”
Kalau gunung gunung saja mengalami kehancuran demikian dahsyatnya, maka tentu kita bisa membayangkan apa, yang terjadi terhadap makhluk hidupnya. Pasti telah mengalami kepunahan. Maka, Bumi betul-betul telah mengalami ‘kematian’nya.
Dan ini, kematian itu bakal berlangsung dalam kurun waktu yang sangat panjang, sampai Bumi mengalami rehabilitasi atau perbaikan kembali. Diperkirakan proses rehabilitasi itu memakan waktu jutaan atau bahkan miliaran tahun. Namun dipastikan bahwa Bumi ini akan dirubah oleh Allah menjadi Bumi yang baru, sebagaimana difirmankan dalam kitabNya,.
QS. Ibrahim (14) 48: “Pada hari diganti Bumi ini dengan Bumi yang baru, demikian pula langitnya. Dan mereka semua akan menghadap kepada Allah yang Satu lagi Maha Perkasa.”
Bahkan, di ayat tersebut, Allah menginformasikan bahwa bukan hanya Bumi yang direhabilitasi menjadi ‘Bumi baru’ melainkan juga langitnya. Dalam hal ini, termasuk perbaikan atmosfer sebagai langitnya Bumi. Dan juga langit alam semesta, bakal mengalami perubahan. Memang kalau proses pembaruan Bumi itu berlangsung selama jutaan atau bahkan miliaran tahun, maka sudah bisa dipastikan kondisi langit alam semesta juga sudah berubah sangat drastis.
BANGKIT DARI ALAM KUBUR
Apa yang telah diceritakan di bagian yang lalu adalah proses kehancuran Bumi, yang kita kenal dalam istilah agama kita sebagai Kiamat Sughra alias Kiamat kecil. Kehancuran Bumi, sekaligus menandai punahnya kehidupan di atasnya. Dan beberapa, miliar tahun kemudian, manusia akan dihidupkan dan dibangkitkan kembali dari dalam kuburnya untuk mempertanggung jawabkan seluruh perbuatannya ketika hidup di dunia.
Orang-orang Kafir Tidak Percaya
Permulaan kehidupan Akhirat ditandai oleh proses kebangkitan manusia dari dalam kuburnya. Hal ini sudah diinformasikan oleh Allah sejak ribuan tahun yang lalu. Dan sejak itu pula, orang-orang kafir tidak pernah mau mempercayainya.
Bahkan, bukan hanya pada zaman itu. Di zaman yang lebih kemudian pun, masih banyak yang tidak mempercayai bahwa manusia kelak akan dibangkitkan dari dalam kuburnya. Itu merupakan suatu informasi yang sangat fantastis bagi mereka : makhluk yang sudah mati bisa hidup kembali ?!
QS.Al Israa (17) 98: “…dan mereka berkata apakah bila kami telah menjadi tulang belulang yang berserakan, kami akan benar-benar dibangkitkan menjadi makhluk yang baru?”
QS. Al Israa (17) 49: “…benarkah kami akan dibangkitkan kembali sebagai makhluk yang baru?”
QS. Al Mukminun (23) 82: “Mereka berkata : apakah betul kalau kami sudah mati dan kami telah menjadi tanah dan tulang belulang, apakah sesungguhnya kami benar benar akan dibangkitkan?”
Dan masih banyak lagi ayat ayat di dalam Al Qur’an yang menggambarkan betapa orang-orang kafir itu tidak percaya kalau suatu saat nanti mereka akan dibangkitkan dari dalam kuburnya.
Akal mereka tidak bisa menerima, masa’ iya ‘ badan yang telah hancur dikubur di dalam tanah akan bisa dihidupkan kembali. Secara eksplisit mereka mengatakan bahwa tidak mungkin tubuh yang telah hancur menjadi tulang belulang itu bakal bisa hidup kembali.
Bukan hanya di kalangan yang tidak berilmu, di kalangan para pakarnya pun mereka meragukan atau bahkan tidak percaya terhadap hari kebangkitan itu.
Ketika seseorang mati, maka badannya akan membusuk dan terurai menjadi molekul-molekul yang lebih sederhana oleh bakteri bakteri dalam tanah. Maka hancurlah dagingnya,. lumatlah kulitnya, dan berbagai organ tubuhnya. Kecuali beberapa bagian saja dari tubuhnya, di antaranya rambut, gigi dan tulang. Sebagiannya rusak, tetapi sebagiannya tidak.
Jadi mana mungkin badan yang sudah hancur tidak berbentuk itu bisa kembali utuh. Bahkan hidup. Jiwanya dikembalikan kepada badannya. Maka, mereka mengatakan itu sebagai kebohongan saja. Atau boleh jadi sekadar sihir. Sehingga, dengan begitu yakinnya mereka mengatakan bahwa kehidupan itu ya cuma di dunia ini saja. Tidak ada lagi kehidupan sesudah itu.
QS. Huud (11) 7: “… Dan jika kamu mengatakan : sesungguhnya kamu akan dibangkitkan sesudah mati, niscaya orang-orang yang kafir itu akan berkata : ini tidak lain hanyalah sihir yang nyala”
QS. Al An’am (6) 29: “Dan tentu mereka akan mengatakan (pula): ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali- kali tidak akan dibangkitkan”.
QS. Al Mu’minuun (23) 83:”Sesungguhnya kami dan bapak-bapak kami telah diberi ancaman ini dahulu, ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu kala.
Tapi sungguh mereka bakal kecele. Sebab, Allah benar-benar akan membangkitkan manusia seluruhnya dari dalam kubur. Dengan tegas Allah mengatakan hal itu berulang-ulang di dalam Al Qur’an.
QS. Taghaabun (64) 7:“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah : Tidak demikian, demi Tuhan ku, benar benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”
QS. Al Mu’minuun (23) 16: “Kemudian sesungguhnya kamu sekalian akan dibangkitkan (dari kuburmu) di hari Kiamat”
QS. Al Hajj (22) 7: “Dan sesungguhnya hari Kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya. Dan bahwasannya Allah membangkitkan semua orang dari dalam kubur”
QS Al An’am (6) 30: “Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya. Berfirman Allah: Bukankah (kebangkitan) ini benar ? Mereka menjawab : Sungguh benar, demi Tuhan kami. Berfirman Allah : Karena itu rasakanlah azab ini dikarenakan kamu mengingkarinya”
Ayat terakhir di atas memberikan gambaran betapa orang-orang kafir itu merasa kecele, dan kemudian mengakui bahwa mereka memang benar benar dibangkitkan kembali. Bahkan dalam berbagai ayat yang lain, digambarkan betapa mereka menyesali kebangkitan itu. Ternyata, kebangkitan itu benar-benar terjadi!
QS. Yasin (36) 52: “Mereka berkata : Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur)?
QS. Al Anbiyaa’ (21) 97:”Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari Kebangkitan) maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata) : aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami dalam kelalaian tentang hal ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zalim.”
QS. Ash Shaaffaat (37) 20: “Dan mereka berkata : Aduhai celakalah kita Inilah Hari Pembalasan.” ADAM, MANUSIA PERTAMA
Sampai sekarang memang masih kontroversial, siapakah manusia pertama di muka Bumi ini. Dunia ilmiah belum menemukan jejak yang pasti. Penemuan penemuan fosil manusia masih memberikan kesimpulan yang mengaburkan. Barangkali masih butuh waktu panjang untuk memperoleh kesimpulan yang dear tentang manusia pertama. Sehingga, demikian banyak teori tentang manusia pertama di muka Bumi ini. Dalam kesempatan ini, saya tidak akan membahas secara detil tentang teori-teori tersebut. Secara ringkas, saya hanya ingin mengutip firman Allah tentang manusia pertama itu.
QS. Al A’raaf (7) 172
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka. . . ”
Ayat di atas memberikan kesimpulan kepada kita bahwa Adam dan Hawa adalah orang tua seluruh manusia yang kini hidup di muka Bumi. Bahkan kalau kita mengutip ayat yang lain [QS. Al Baqarah (2): 36] kita juga memperoleh kesan bahwa Adam memang manusia pertama yang kemudian dijadikan khalifah di muka Bunii oleh Allah. Kepadanyalah diserahkan pengelolaan planet Bumi ini. Dan kini kemudian diwariskan kepada kita semua, anak turunnya.
QS. Al Baqarah (2) : 36
“…dan Kami berfirman : turunlah kamu (dari Surga) sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di Bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.”
Penciptaan Adam dan Hawa
Di kalangan umat Islam ada beberapa konsep dan pemahaman yang belum ‘tertangkap’ secara tuntas. Di antaranya adalah tentang penciptaan Adam. Ada sejumlah keraguan yang terpancar dalam mena fsirkan kejadian Adam. Hal tersebut menurut hemat saya tidak memberikan atmosfer yang kondusif dalam upaya membangun keyakinan terhadap agama kita sendiri.
Memang, dalam setiap penafsiran selalu ada bagian-bagian yang perlu dilengkapi dengan berbagai informasi dan data-data empirik yang terus berkembang; akan tetapi pada bagian-bagian yang mendasar, konsepnya mesti dipersepsi secara utuh dan proporsional terlebih dahulu.
Dalam hal penciptaan Adam, ada beberapa pertanyaan yang mestinya bisa dijawab dengan menggali informasi dari Al Qur’an sendiri. Di antaranya adalah tentang mekanisme kejadian Adam, dan tempat Adam diciptakan.
Masih sangat banyak di kalangan kita yang mempersepsi ayat ayat penciptaan manusia (Adam) dengan cara yang sangat sederhana, dan justru terkesan menyimpang dari Sunnatullah. Karena itu, agaknya, kita harus melakukan rekonstruksi ulang terhadap proses penciptaan manusia itu.
Ayat-ayat tentang penciptaan manusia tersebar dalam jumlah cukup banyak di Al Qur’an. Agar memperoleh pemahaman yang komprehensif, kita mesti mengumpulkan ayat itu sebanyak-banyaknya. Barulah kita bisa mengambil pemahaman yang holistik alias utuh menyeluruh.
Untuk itu, marilah kita mulai pemahaman terhadap firman Allah berikut ini.
QS. Al Baqarah (2) : 30
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalitah di muka Bumi. Malaikat berkata : mengapa Engkau hendak menjadikan di muka Bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau. Tuhan mengatakan : Sesungguhnya Aku lebih tahu segala sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya.”
Dalam dialog antara Allah dan malaikat tersebut bagian yang menarik adalah ketika malaikat mengatakan kepada Allah bahwa khalifah yang akan diciptakan Allah itu akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka Bumi. Kita lantas bertanya-tanya, darimanakah malaikat tahu bahwa khalifah yang akan diciptakan Allah itu akan berbuat seperti itu? Bagaimana mungkin malaikat bisa mendahului ilmu Allah ?
Akan tetapi, agaknya prediksi atau perkiraan malaikat itu ‘tidak dianggap’ oleh Allah. Terbukti, dalam dialog tersebut, Allah mengatakan bahwa Allah lebih tahu hal-hal yang malaikat tidak mengetahuinya. Sehingga, Allah tetap menciptakan manusia sebagai khalifah di muka Bumi. Dan kemudian dalam ayat berikutnya (dan juga di ayat lain) malaikat akhimya tunduk mengakui kehebatan manusia (Adam).
Maka, lantas perlu ditelusuri, darimanakah malaikat memperoleh kesimpulan awal tersebut. Salah satu penafsiran (dikemukakan oleh Prof Ahmad Baiquni), mengatakan bahwa pada waktu itu sebenarnya telah ada makhluk seperti manusia (tetapi bukan manusia) yang telah hidup di muka Bumi. Mereka memiliki kebiasaan yang buruk, yaitu selalu membuat kerusakan dan pertumpahan darah di antara sesamanya. Maka, malaikat tidak setuju jika Allah menjadikan ‘makluk itu’ sebagai khalifah di muka Bumi. Tetapi, malaikat kecele. Bukan makhluk itu yang dijadikan khalifah oleh Allah, melainkan Adam seorang manusia.
Adam memiliki karakteristik yang berbeda dengan makhluk yang dikira malaikat akan dijadikan khalifah di Bumi itu. Bukan sekadar berbeda dengan mereka secara fisik, bahkan digambarkan, Adam adalah makhluk yang memiliki ilmu pengetahuan yang bisa mengalahkan malaikat. Tetapi, kenapa malaikat bisa kecele menganggap.Adam sama dengan makhluk sebelumnya. Jawabannya mengarah kepada : bahwa secara fisik, agaknya makhluk sebelum Adam itu memang mirip dengan Adam. Akan tetapi, sangat berbeda dalam jiwa dan kepribadiannya.
Disinilah Prof A. Baiquni menafsirkan bahwa makhluk sebelum Adam itu adalah makhluk ’setengah manusia’ yang telah diketemukan fosil-fosilnya oleh para pakar sejarah kemanusiaan (Anthropologi). Mereka adalah ‘manusia’ purbakala yang sebenarnya belum bisa disebut sebagai manusia. Fisiknya boleh mirip, tetapi keduanya memiliki perbedaan yang sangat mendasar, yaitu Adam telah memiliki ruh yang ditiupkan Allah kepadanya saat penciptaan. Ruh adalah potensi ‘Kesadaran’ dan ‘Akal Budi’. Dan ini tidak dimiliki oleh ‘makhluk setengah manusia’ tersebut.
PENCIPTAAN ADAM MIRIP ISA
Bagaimanakah proses penciptaan Adam terjadi? Ada beberapa informasi yang sangat menarik di dalam al Qur’an. Di antaranya adalah yang difirmankan Allah berikut.
QS. Al Imran (3) : 59
“Sesungguhnya masalah penciptaan Isa di sisi Allah itu seperti penciptaan Adam. Aku ciptakan dia dari tanah, kemudian dikatakan kepadanya kun fa yakuun”
Ayat tersebut dengan gamblang menjelaskan bahwa penciptaan Isa adalah seperti penciptaan Adam, yaitu dibuat dari tanah kemudian Allah mengatakan kun fa yakun.
Ada logika yang harus kita kembangkan dalam memahami ayat ini. Yang pertama, tentang penciptaan Isa yang dikatakan oleh Allah berasal dari tanah. Padahal kita tahu dalam berbagai Firman Allah yang lain dikatakan bahwa Isa diciptakan Allah bukan dari tanah, melainkan dilahirkan oleh Maryam, tanpa melewati perkawinan dengan seorang laki-laki pun. Tetapi, dalam ayat ini, kenapa Allah mengatakan Isa diciptakan dari tanah?
Maka, agaknya, kita harus mengembangkan pemahaman kita bahwa yang disebut diciptakan dari tanah itu bukan dalam pengertian yang sederhana. Melainkan sebuah proses yang sangat kompleks. Jangan berpikir secara simple dengan mengatakan bahwa Allah menciptakan Isa dengan cara mengambil segumpal tanah yang dibentuk seperti boneka, kemudian ditiupkan ruh Allah, dan jadilah Isa.
Di firmanNya yang lain Allah mengatakan bahwa saripati tanah itu diproses terlebih dahulu oleh Allah.
QS,. Al Mukminun : 12 - 14
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani pada tempat yang kukuh dan terpelihara. Kemudian Kami menjadikannya air mani itu segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang-tulang. Maka Kami liputi tulang-tulang itu dengan daging, kemudian Kami menjadikannya satu bentuk yang lain. Maha Suci Allah, sebaik baik Pencipta.”
Firman Allah tersebut memberikan gambaran kepada kita bahwa saripati tanah itu dirubahNya menjadi sperma atau air mani terlebih dahulu di dalam tubuh manusia. Kemudian sperma itu diproses oleh Allah mengikuti tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi di dalam rahim seorang perempuan. Dan akhirnya berubah menjadi manusia.
Jadi, Allah menciptakan manusia bukan di luar rahim. Apalagi digambarkan di alam terbuka, langsung berasal dari tanah yang dibentuk. Allah telah menetapkan sunatullahNya, bahwa penciptaan. manusia mesti dilakukan di dalam rahim. Di ayat lain lagi, Allah tegas mengatakan.
QS. Ali Imraan (3) : 6
“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendakiNya, tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”
Memang, sebagaimana di dalam ayat-ayat berikut ini Allah mengatakan bahwa manusia diciptakan dari tanah yang diberi bentuk. Akan tetapi seperti terbaca pada ayat di atas, pembentukan itu terjadi di dalam rahim. Bukan di luar rahim.
QS. Al Hijr (15) : 26
“Sesungguhnya Kami ciptakan manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk”
QS. Al Infithaar (82) : 8
“Dalam bentuk (apa saja) yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu”
QS. Ath Thiin : 4
“Sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik baiknya”
Lantas, bagaimana cara memahami informasi bahwa manusia diciptakan dari tanah? Di sinilah ilmu pengetahuan biologi berperanan. Dikatakan bahwa tubuh manusia terdiri dari zat-zat Carbon, Hidrogen, Oksigen, Nitrogen, Sulfur, Phospor, Calsium, Besi, dan lain sebagainya. Zat-zat tersebut membentuk zat dasar penyusun tubuh manusia, di antaranya protein atau asam amino. Nah, temyata seluruh zat-zat penyusun tubuh manusia itu memang terdapat di dalam tanah.
Bagaimana cara zat-zat tersebut berubah menjadi sperma atau air mani? Caranya adalah lewat mata rantai proses yang cukup panjang dan kompleks. Tetapi secara sederhana bisa dijelaskan berikut ini.
Tanah mengandung puluhan jenis unsur termasuk yang terdapat di dalam tubuh manusia. Allah lantas memilih zat-zat tertentu saja, yang disebut sebagai unsur-unsur organik untuk menyusun tubuh manusia.
Bagaimana cara memilihnya? Allah menggunakan berbagai macam tanaman untuk memilih unsur-unsur yang diperlukan. Akar-akar tanaman tersebut menyerap, zat-zat dari dalam tanah untuk diubah menjadi berbagai jenis buah, bermacam-macam sayuran, biji-bijian, umbi-umbian, dan lain sebagainya.
Semua itu lantas dikonsumsi oleh manusia atau binatang. Maka tubuh manusia ini sebenarnya terdiri dari berbagai unsur saripati tanah. Termasuk ketika manusia mengkonsumsi daging binatang, ia sebenamya telah makan sari pati tanah, secara tidak langsung.
Sari pati itu lantas dijadikan Allah sebagai sperma yang tersimpan di dalam organ reproduksi manusia laki-laki. Dan termasuk ovum atau sel telur yang berada di dalam alat reproduksi seorang wanita.
Maka ketika keduanya bertemu dalam proses pembuahan terjadilah konsepsi yang nantinya bisa menghasilkan seorang manusia. Begitulah Allah menjadikan proses penciptaan manusia. Memang berasal dari tanah, tetapi semua itu diproses oleh Allah lewat sebuah mekanisme yang sangat kompleks dan canggih di dalam tubuh manusia atau makhluk hidup. Bukan di alam bebas, karena tidak ada satu pun penjelasan al Qur’an yang mengatakan demikian.
Kalau pun Allah mengatakan bahwa manusia diciptakan dari jenis-jenis tanah seperti lumpur hitam, tanah liat kering seperti tembikar, dan lumpur berbau, itu semua menunjuk kepada zat yang terkandung di dalam beragam jenis tanah itu. Misalnya tanah lumpur yang berbau, itu menunjukkan bahwa di dalam tanah itu terkandung senyawa Asam Belerang (H2S). Artinya, badan kita memang tersusun, satunya, dari unsur Hidrogen dan Belerang.
Demikian. pula di jenis tanah yang lain, Allah menunjukkan bahwa ada kandungan Calsium, Besi, Carbon, dan lain sebagainya. Jadi jangan ditafsirkan secara apa adanya, bahwa berbagai jenis tanah itu dibentuk seperti patung oleh Allah, lantas ditiupkan ruhNya. Maka, jadilah manusia.
Penafsiran yang seperti ini bisa merendahkan kemuliaan agama kita sendiri. Karena sebenarnya Allah telah menjelaskan secara gamblang di dalam al Qur’an lewat berbagai ayatNya, bahwa kejadian manusia adalah kejadian yang sangat sempurna dan kompleks.
Jadi, bagaimana seharusnya kita menafsirkan penciptaan Adam? Bukankah Adam adalah manusia pertama? Lantas, beliau dikandung oleh siapa?
Disinilah kita mencoba menganalisa firman Allah di atas. Dia telah mengatakan bahwa penciptaan Isa adalah sebagaimana penciptaan Adam. Maka, secara logika, kita boleh mengatakan bahwa penciptaan keduanya adalah memiliki mekanisme yang sama.
Logikanya, kalau saya mengatakan bahwa A=B, maka tentu saya juga boleh mengatakan bahwa B=A. Artinya, kalau Allah menjelaskan bahwa penciptaan Isa sama dengan penciptaan Adam, maka saya juga boleh menyimpulkan bahwa penciptaan Adam sama dengan penciptaan Isa.
Padahal kita ketahui bersama bahwa Isa diciptakan Allah lewat seorang perempuan yang menjadi ibunya, yaitu Maryam. Beliau hamil tanpa harus melewati perkawinan tedebih dahulu. Berarti, kita bisa menyimpulkan bahwa Adam juga dilahirkan lewat ’seorang’ perempuan tanpa melewati perkawinan tedebih dahulu.
Apakah ini mungkin? Di dalam ilmu kedokteran, proses demikian itu ternyata dimungkinkan. Peristiwa yang sangat jarang terjadi itu disebut sebadai proses pembuahan Parthenogenesis. Yaitu pembuahan yang terjadi dengan sendirinya, tanpa harus lewat perkawinan antara laki-laki dan perempuan. Dalam sejarah kemanusiaan, hal tersebut bukan hanya terjadi pada Maryam saja, tetapi juga terjadi pada beberapa perempuan lain. Tetapi memang sangatlah jarang. Satu kejadian dalam sekian juta kelahiran.
Setiap orang, temyata memang memiliki sifat laki-laki dan perempuan dalam dirinya. Hanya saja, pada seorang pria, sifat atau hormon laki-lakinya yang lebih dominan. Tetapi sebenamya dia tetap memiliki sekian persen sifat kewanitaan. Sebaliknya, seorang wanita juga memiliki kadar sifat laki-laki sekian persen. Akan tetapi hormon kewanitaanyalah yang lebih dominan, sehingga organ-organ kewanitaan yang lebih berkembang.
Artinya, sebenamya setiap kita ini memiliki kedua sifat itu. Dan, sangat mungkin, suatu ketika kedua sifat itulah yang bertemu di dalam diri yang sama untuk menghasilkan keturunan. Karena itu, pada seorang waria, perkembangan antara hormon wanita dan laki-lakinya bertumbuh sama, kuat. Sehingga begitulah jadinya.
Sebenamya contoh tentang makhluk hidup yang bisa menghasil-kan keturunan tanpa harus kawin itu sudah ditunjukkan Allah pada cacing. Binatang ini disebut sebagai binatang Hermaphrodite, yaitu hewan yang memiliki kelamin ganda. Maka, cacing bisa melakukan ‘perkawinan’ dengan dirinya sendiri untuk menghasilkan keturunan. Kalau Allah menghendaki, tidak ada yang tidak mungkin. Namun sekali
lagi, Allah menetapkan semua proses dan mekanisme itu lewat Sunnatullah.
Pertanyaan berikutnya berkait dengan kelahiran Adam itu adalah: lantas siapakah yang mengandung Adam sebagai manusia pertama? Bukankah belum ada manusia sebelum Adam? Ya, disinilah kita coba melihat kembali dialog antara Allah dan malaikat saat akan menciptakan Adam.
Disana digambarkan bahwa malaikat dibuat kecele oleh Allah, karena mengira bahwa khalifah yang akan dijadikan Allah itu adalah makhluk yang sudah ada di muka Bumi ketika itu. Padahal makhluk itu, dalam pandangan malaikat, tidaklah layak untuk menjadi khalifah. Berarti, ada hubungan yang sangat erat antara makhluk tersebut dengan proses kejadian Adam.
Saya membayangkan, bahwa malaikat sampai kecele, itu disebabkan kareha mungkin lewat makhluk itulah Adam diciptakan Allah. Artinya, boleh jadi, rahim makhluk setengah manusia itu ‘dipinjam Allah’ untuk memproses kelahiran Adam.
Secara fisik, makhluk itu memang sudah sangat mirip manusia, seperti telah kita lihat dalam berbagai rekonstruksi fosil-fosil manusia purbakala. Namun, tetap saja, mereka itu belumlah manusia karena belum memiliki Ruh kemanusiaan. Karena itu, dalam berbagai rekonstruksi digambarkan bahwa volume otak mereka masih sangat kecil dibandingkan manusia. Kebudayaan yang terekam di berbagai fosil, juga menunjukkan sangat primitif, belum menggambarkan kecerdasan kebudayaan manusia.
Nah, di dalam rahim makhluk perempuan itulah boleh jadi proses penciptaan Adam berlangsung. Sangat boleh jadi juga Allah melakukan mutasi genetika terhadap janin Adam, sehingga memiliki sifat-sifat fisik yang lebih sempurna dibandingkan dengan ‘ibunya’. Mutasi genetika itu sangat mungkin disebabkan oleh radiasi kosmik yang waktu itu diperkirakan sangat tinggi
Kemudian, di dalam rahim itu juga, Allah meniupkan RuhNya, sehingga terciptalah manusia pertama, Adam. Dan, Adam tidaklah lahir sendirian, melainkan lahir kembar bersama.
Hawa, calon istrinya. Allah mengatakan bahwa Hawa diciptakan dari diri yang satu. Sama dengan asalnya Adam. Maka, dalam penafsiran ini, agaknya mereka memang diciptakan dari sel yang sama. Dan, sel tersebut membelah secara kembar, menjadi Adam dan Hawa.
QS. Al A’raaf (7) : 189
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Dia menciptakan istrinya.”
Jadi Adam dan Hawa adalah hasil mutasi genetika yang diberi ruh oleh Allah di dalam rahim seorang ‘ibu’ yang secara fisik sudah sangat dekat dengan kondisi manusia. Tetapi ruh, untuk pertamakalinya, diberikan kepada Adam dan Hawa sebagai manusia yang pertama.
Karena kembar itu, maka lantas kita ketahui bahwa anak keturunan Adam dan Hawa ini lahir kembar-kembar juga. Di antaranya adalah Qabil dan Habil.
DI SURGA MANALKAH ADAM DICIPTAKAN ?
Selain tentang proses penciptaannya, pertanyaan yang juga mencuat adalah : dimanakah pencipta.an mereka itu berlangsung?
Selama ini, pemahaman yang berkembang memang agak rancu. Di satu sisi, dikesankan bahwa Adam diciptakan dari tanah secara langsung. Artinya, menurut penafsiran itu, badannya dibentuk dari tanah yang diambil dari Bumi seperti membuat patung, lantas ditiupkanlah Ruh Allah. Maka,. Tiba-tiba ‘patung tanah’. itu berubah menjadi Adam.
Sedangkan di sisi lain, digambarkan kejadian itu bukan terjadi di Bumi. Ada kesan, proses itu terjadi di “sebuah langit” atau angkasa yang entah dimana. Lantas, sesudah itu, Adam dimasukkan di Surga, yang juga entah dimana. Seringkali, hanya dikatakan bahwa itu terjadi di wilayah alam ghaib, yang tidak kelihatan, sehingga kita tidak perlu membahasnya lebih jauh.
Padahal, badan manusia adalah badan fisik yang kelihatan. Berbeda dengan jin dan malaikat. Fisiknya terikat di langit dunia, yang ruangannya berdimensi 3. Maka, mestinya cukup jelas, bahwa badan manusia harus berada di dalam alam semesta ini.
Hanya saja, tinggal pilih, di planet manakah kejadian itu berlangsung. Apakah di Planet Mars, Jupiter, atau dari tatasurya dan galaksi lain. Atau, ya sebenarnya sederhana saja.: bahwa Adam diciptakan di Bumi ini. Toh, bahan bakunya adalah campuran berbagai jenis tanah yang ada di permukaan Bumi. Jadi, kenapa kita lantas susah susah mencarikan planet yang cocok untuk proses penciptaan itu. Sementara, sampai kini ilmu pengetahuan belum pernah menemukan sebuah planet, pun di alam semesta ini yang cocok untuk kehidupan manusia.
Hanya disebabkan oleh pemahaman kita tentang Surga yang abstrak, maka kita lantas kebingungan dan mencoba mencarikan planet asal muasalnya Adam, selain Bumi.

Maka, bagi saya, pemahamannya sangat sederhana saja. Bahwa Adam memang diciptakan oleh Allah di permukaan Bumi ini. Bahan baku tubuhnya adalah berbagai jenis tanah yang mengandung unsur unsur, organik pembentuk protein. Bersamaan dengan Adam lahirlah Hawa sebagai saudara kembarnya.
Setelah itu, Adam.dan Hawa ditempatkan di sebuah taman yang sangat indah dengan berbagai macam buah-buahan dan berbagai kebutuhan alamiahnya. Di manakah Surga itu? Dalam pemahaman saya, ya di permukaan Bumi juga, di sebuah wilayah yang kini disebut sebagai Timur Tengah.. Yang persisnya, perlu dilakukan penelusuran lebih jauh. Saya kira, disinilah para ahli sejarah Islam harus mengambil peran.
Persepsi yang seperti ini saya kira membuat kita menjadi lebih gamblang dan realistis dalam memahami informasi-informasi Al Qur’an. Daripada mengungkung pemahaman kita dengan sesuatu yang tidak jelas, seperti di atas. Memang, ada dimensi lain yang terkait dengan Surga itu. Dan ini akan saya jelaskan lebih mendetil pada bagian. Tentang Surga dan Neraka. Namun pada tahap ini, sementara kita pahami, Surga tersebut berada di Bumi.
Surga atau Jannah memang memiliki arti:’Kebun atau Taman yang Indah’. Maka, saya kira tidak masalah jika kita mempersepsi Surga tempat Adam dan Hawa dibesarkan itu sebagai sebuah kebun yang Indah yang terletak di sebuah dataran tinggi. Di sana banyak mata air yang jernih, pohon-pohon yang rindang serta buah-buahan yang lebat. Sebuah keadaan alam yang sangat ideal, yang disediakan bagi Adam dan Hawa hingga masa dewasanya.
Maka Turunlah dari Surga
Dikisahkan, Adam dan Hawa dilarang oleh Allah untuk mendekati pohon Khuldi. Namun, setan telah menipu mereka, sehingga mereka memakannya. Karena itu lantas Allah memerintahkan Ada dan Hawa untuk turun dari taman indah itu, mengembara di muka Bumi, menjadi kholifah yang mengelolah bumi hingga anak turunnya kini.
QS. Al A’raaf (7) : 22
“Maka setan membujuk keduanya dengan tipu daya. Maka tatkala keduanya te1ah merasakan buah pohon itu, nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun Surga. Kemudian Tuhan mereka menyeru keduanya : bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu sesungguhnya setan itu adalah musuh nyata bagi kamu berdua.
QS. Al A’raaf (7) : 27
“Hai keturunan Adam janganlah sekali kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana dia telah dapat mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga. Dia tanggalkan pakaian dari keduanya supaya dia dapat memperlihatkan kepada keduanya akan auratnya.. Sesungguhnya setan dan kelompoknya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka … Secara halus Allah mengisahkan peralihan masa kecil Adam dan Hawa ke masa dewasanya dengan perumpamaan memakan buah ‘kuldi’ Di sana digambarkan bahwa setelah memakan buah itu aurat keduanya menjadi tampak, sehingga mereka lantas ‘menutupinya dengan dedaunan.
Setelah dewasa itulah Adam dan Hawa diperintah Allah untuk turun mengarungi kehidupan yang sesungguhnya di muka Bumi. Dan secara eksplisit Allah lantas juga mengingatkan anak keturunan Adam untuk waspada kepada hawa nafsu, khususnya seksualitas, karena di situlah setan seringkali memanfaatkan kelemahan manusia untuk menggelincirkan kita dari kedekatan dengan Allah.
Memang, setan menjadi demikian perkasa ketika manusia sedang berada dalam cengkeraman hawa nafsunya. Sehingga Rasulullah mengatakan bahwa orang yang sedang berada dalam pengaruh nafsu seksnya, ia telah kehilangan 2/3 akalnya. la menjadi sangat lemah, dan seringkali baru menyesali setelah peristiwa itu terjadi.

SEMUA DICIPTAKAN UNTUK MANUSIA
Bumi memang diciptakan sebagai tempat untuk menggelar drama kehidupan manusia. Segala yang ada di muka Bumi diadakan untuk manusia. Mulai dari atmosfer, gunung gunung, hujan, angin, miliaran jenis tanaman dan binatang, semuanya diciptakan Allah untuk melayani manusia. Hal itu dijelaskan oleh Allah sendiri, dalam firmanNya berikut ini.
QS. Al Baqarah (2) : 29
“Dialah (Allah) yang menciptakan semua yang ada di muka Bumi ini untukmu, dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikanNya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”
Di sini kita merasakan betapa ada ‘kesengajaan’ yang sangat besar untuk menjadikan bumi ini sebagai panggung drama kehidupan kita. Maka, untuk mendukung terjadinya kehidupan di muka Bumi ini secara sempurna Allah menciptakan berbagai fasilitas kepada manusia.
Mulai dari bentuk Bumi yang bulat, kemiringannya yang 23,5 derajat, atmosfer yang tujuh lapis sebagai pelindung kehidupan, Bumi yang berotasi (berputar pada diri sendiri) dengan kecepatan lebih dari 1.600 km per jam, mau pun kecepatan revolusi (mengitari Matahari) yang sangat tinggi.
Demikian pula, air hujan yang terukur kadarnya, komposisi udara yang sangat khas, dan miliaran fasilitas lainnya yang sangat kompleks, terdapat di alam sekitar kita, temasuk tanam tanaman dan seluruh binatang di permukaan planet ini. Untuk memahaminya, marilah kita lihat beberapa di antaranya.
1. Bumi, Kendaraan Angkasa yang Sempurna
Pernahkah terpikir di benak kita bahwa kita sedang mengendarai sebuah ‘pesawat angkasa luar’ yang sangat besar. Dimana kendaraan angkasa ini, kita tumpangi bersama dengan miliaran manusia, miliaran binatang dan tumbuh -tumbuhan. Ya, inilah dia, planet Bumi!
Bumi bukan sekadar pesawat angkasa luar seperti yang dibikin manusia. Tetapi, ia adalah sebuah ‘Kendaraan Canggih’ yang memiliki fasilitas luar biasa. Di dalamnya kita memperoleh segala yang kita inginkan untuk kelangsungan hidup. Mulai dari makanan, minuman, berbagai macam sumber energi, udara dan atmosfer yang ideal, dan segala macam fasilitas yang memungkinkan kita melangsungkan kehidupan sehingga menurunkan generasi generasi selanjutnya, selama ribuan tahun. Tidak ada satu pun kendaraan ciptaan manusia yang sehebat dan sekomplet ini.
Bumi,sebagai kendaraan angkasa luar sedang melaju di angkasa semesta dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tidak ada satu pun pesawat buatan manusia yang. bisa menandingi kecepatannya. Sebutlah kendaraan manusia yang tercepat di era modern ini yaitu pesawat ulang alik Challenger, Columbia atau Ariane. Rata rata kecepatannya barulah sekitar 20.000 km per jam.
Tahukah Anda, berapa kecepatan Bumi kita melesat di angkasa luar? Tak kurang dari 107.000 km perjam! Sebuah kecepatan yang sangat tinggi. Cepat sekali, lebih dari 5 kali kecepatan pesawat ulang alik buatan manusia.
Untuk apa Bumi melesat dengan kecepatan sedemikian tinggi? Temyata, Bumi. sedang bergerak mengitari Matahari pada jarak sekitar 150.000.000 km. Dengan kecepatan tersebut, Bumi bisa menyelesaikan putarannya terhadap Matahari, sekali putar dalam setahun atau 365 1/4 hari.
Kenapa Bumi mesti mengitari Matahari? Kenapa kok tidak diam saja? Ya, kalau seandainya Bumi berdiam diri, tidak berputar mengelilingi Matahari, maka Bumi kita ini sudah sejak lama mengalami kematiannya. Lho, kenapa? Karena Bumi akan tersedot menuju Matahari. Dan kemudian lenyap terbakar di dalam bola api raksasa itu.
Sebagaimana kita tahu bahwa setiap benda langit memiliki gaya gravitasi yang bersifat menarik atau menyedot benda lain yang ada di dekatnya. Justru karena gerakan melingkarnya itulah, maka sedotan Matahari terhadap planet Bumi bisa diimbangi.
Putaran Bumi mengelilingi Matahari dengan kecepatan 107.000 km per jam itu telah menghasilkan gaya sentrifugal yang melawan gaya tarik Matahari secara seimbang. Maka, selama 5 miliar tahun, keseimbangan itu terjadi. Sehingga. muncullah kehidupan di muka Bumi ini. Termasuk manusia.
Sebagai gambaran, Anda pernah melaju dengan kendaraan, bermotor di tikungan yang tajam? Ketika Anda bergerak menikung, maka saat itu Anda seperti terkena gaya yang melempar kendaraan Anda ke arah luar lintasan. Itulah yang disebut sebagai gaya sentrifugal. Nah, gaya itu bekerja pada Bumi saat dia berputar mengelilingi Matahari. Gaya itu pula yang menyebabkan terjadinya keseimbangan antara gaya tarik Matahari dengan putaran Bumi.
Jika kecepatan Bumi lebih lambat sedikit saja, maka Bumi ini dipastikan akan ‘jatuh’ ke Matahari dan kita semua dipastikan lenyap. Sebaliknya, kalau kecepatan Bumi dalam mengelilingi Matahari lebih cepat sedikit saja, maka Bumi ini akan ‘terlepas’ dari orbitnya. Bumi akan ‘terlempar’ ke angkasa luar yang tidak bertepi. Dan kita pun ikut lenyap di kedalaman langit …
Ada suatu ‘Kekuatan’ yang luar biasa dahsyat, yang terus menerus menjaga keseimbangan Bumi berputar mengelilingi Matahari itu. Bayangkan selama 5 miliar tahun Bumi terus berputar dengan kecepatan yang seimbang dengan gaya tarik Matahari. Seandainya ‘Kekuatan’ itu lengah sedikit saja, maka hancurlah Bumi kita, baik karena tersedot oleh Matahari ataupun lepas dari orbitnya.
QS Mulk (67): 3
“Yang telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat. Kamu sekali kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?”
Suatu ketika, pernah terlintas pertanyaan di benak saya : seberapa besar ya, energi yang digunakan untuk menggerakkan Bumi selama 5 miliar tahun?
Marilah kita coba menghitungnya. Bayangkan saja, massa Bumi ini adalah sekitar 6 juta juta juta juta kg. Atau angka 6 dengan nol sebanyak 24. Kecepatan Bumi dalam mengelilingi Matahari sebesar 107.000 km per jam. Anggap saja gerakan Bumi itu linear alias mengikuti garis lurus, maka secara sederhana kita bisa menghitung energi geraknya dengan menggunakan rumus energi kinetik E=1/2 mv2. Hasilnya adalah 2,65 x 10 (33) Joule, per detiknya.
Sehingga, kalau kita hitung selama 5 miliar tahun, energi yang sudah terpakai adalah :
E = 2,65 x 10(33) joule x 5 miliar tahun x 365 hari x 24 jam x
60 menit x 60 detik
= 418 x 10 (48) Joule
= 418.000.000.000.000.000.000.000.000.000.000.
000.000.000 000.000.000 Joule
Suatu jumlah energi yang tidak mungkin tercukupi, meskipun seluruh energi yang ada di dalam perut Bumi kita tambang dan kita ‘bakar’ untuk memenuhi kebutuhan itu..
Di sini, kembali kita melihat bahwa ada suatu ‘kesengajaan’ yang sangat jelas, bahwa Bumi ini memang didesain untuk tempat kehidupan manusia. Allah telah menjaga Bumi untuk terus bergerak mengitari Matahari. Dan karena bergerak itu, maka Bumi ini bisa tetap eksis. Dan pergerakan itu ternyata membutuhkan tenaga yang sangat besar serta dengan ketelitian orbital yang sangat cermat. Jika tidak, maka kehidupan di muka Bumi ini tidak akan pernah terjadi.
Bukan hanya gerakan Bumi mengelilingi Matahari saja yang menimbulkan kekaguman. Sebab selain berputar pada Matahari, Bumi juga berputar pada dirinya sendiri. Perputaran Bumi pada Matahari dikenal dengan istilah revolusi. Sedangkan perputaran Bumi pada dirinya sendiri dikenal, dengan istilah rotasi Bumi.
Jadi, ringkas kata, Bumi ini sebenamya berputar seperti sebuah gasing. Tetapi sumbu putarnya tidak tegak lurus. Bumi berputar dengan posisi miring 23,5 derajat. Kenapa Bumi harus berputar pada dirinya sendiri? Dan Kenapa mesti miring dengan sudut 23,5 derajat?
Seandainya Bumi ini tidak berputar pada dirinya sendiri, maka di permukaan Bumi ini dipastikan tidak akan pernah terjadi kehidupan seperti adanya kini. Kenapa begitu? Ya, karena lantas ada bagian Bumi yang menghadap Matahari terus menerus, dan juga ada bagian yang membelakangi Matahari terus menerus. Lho, memangnya kenapa?
Bagian yang menghadap Matahari terus menerus, dipastikan akan mengalami pemanasan yang berlebihan. Dengan kata lain, belahan Bumi tersebut mengalami siang terus. Sedangkan bagian yang tidak memperoleh cahaya Matahari akan mengalami malam terus. Bagian ini, sebaliknya, akan mengalami pendinginan terus. Jika ada bagian Bumi yang mengalami siang terus menerus, maka belahan Bumi tersebut akan mengalami pemanasan yang tidak terbayangkan tingginya. Diperkirakan dalam waktu 100 jam saja, air di permukaan Bumi yang menghadap ke Matahari itu akan mendidih. Dan 100 jam berikutnya, air yang ada akan menguap sehingga tidak akan ada kehidupan.
Sebaliknya, di bagian yang malam terus akan mengalami pendinginan secara berlebihan pula. Sehingga, diperkirakan dalam waktu 100 jam, belahan Bumi tersebut akan mengalami pembekuan., Seluruh air menjadi es. Dan 100 jam berikutnya, dipastikan tidak akan ada kehidupan di sana.
Karena itu, Bumi perlu untuk berputar pada dirinya sendiri alias berotasi. Jika tidak berotasi, maka konsekuensi dari pertanyaan Allah dalam ayat berikut ini akan terjadi pada kita :
QS. Al Qashash (28) : 71 - 72
“Katakanlah : Terangkanlah kepadaku. fika Allah menjadikan untukmu malam itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar kepadamu? Maka apakah kamu tidak mendengar?”
“Katakaniah : Terangkanlah kepadaku. jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu, yang kamu beristirahat kepadanya? Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
Selain perputaran Bumi tersebut, kemiringan sumbu putar juga memiliki arti yang sangat penting. Lho, memang kalau nggak miring kenapa? Ya, tidak akan terjadi dinamika di atas permukaan Bumi. Bayangkan saja, jika Bumi ini berputar secara tegak pada sumbunya, maka kutub utara dan kutub selatan Bumi tidak akan pernah mengalami siang hari.
Karena kemiringan itulah maka terjadi musim di permukaan Bumi. Di bagian utara dan bagian selatan mengenal 4 musim (yaitu : musim panas, gugur, dingin dan semi) sedangkan di bagian ekuator mengenal 2 musim saja (yaitu: kemarau dan hujan). lklim ini yang menyebabkan terjadinya berbagai fasilitas kehidupan makhluk di muka Bumi.
Dengan adanya musim ini maka terjadilah angin, yang arahnya bisa berubah ubah. Dengan perubahan musim ini juga terjadi beraneka ragam tumbuhan dan berbagai macam binatang. Bukan hanya berfungsi sebagai keindahan, melainkan juga berfungsi untuk mencukupi segala kebutuhan manusia,sepanjang drama kehidupannya di muka Bumi.
Bahkan juga keberadaan gunung, memiliki maksud. yang luar biasa besar. Allah mengatakan gunung itu diciptakan Allah sebagai pasak, agar Bumi tidak berguncang-guncang.
Gunung adalah jalan keluarnya magma dari dalam perut Bumi. Jika, tidak ada gunung, maka magma yang menggelegak di dalam perut Bumi itu tidak akan tersalurkan. Maka, boleh jadi Bumi kita ini akan berguncang-guncang terus karena tidak stabil akibat tekanan sangat besar dari dalam perut Bumi. Selain itu, gunung juga berfungsi seperti timah penyeimbang pada velg mobil. Dengan adanya gunung itu, putaran Bumi menjadi balance.
QS. Luqman (31) : 10
“Dia telah menciptakan langit tanpa tiang sebagaimana kalian lihat, dan dia meletakkan gunung-gunung di Bumi supaya Bumi tidak mengguncangkan kamu. . .”
2. Air Hujan yang Terukur
Pernahkan kita berpikir tentang hujan? Fenomena alam yang biasa kita alami itu sungguh menyimpan berbagai proses yang mengagumkan. Allah berfirman di dalam Qur’an:
QS Az Zukhruf (43) : 11
“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (tertentu) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur).”
Dalam firmanNya di atas Allah mengatakan bahwa Allah mengukur kadar hujan. Pernahkah kita berpikir seandainya hujan diturunkan secara tidak terukur ke permukaan Bumi? Dampaknya sungguh sangatlah dahsyat!
Hujan berasal dari awan. Di awan itu terkandung jutaan ton air hujan. Bayangkan, berjuta juta ton air sedang bergelayutan di atas kepala kita pada ketinggian beberapa kilometer. Kenapa jutaan ton air itu tidak berjatuhan ke Bumi? Karena Allah membuat mekanisme yang sangat canggih.
Air dari permukaan Bumi dirubah terlebih dahulu menjadi uap air yang memiliki berat jenis lebih ringan dari udara. Sehingga uap air itu bergerak ke angkasa. Di ketinggian tertentu, uap air itu lantas berkumpul dengan uap air yang lain, yang berasal dari berbagai daerah di permukaan Bumi.
Di langit itu Allah mengarak jutaan ton uap air menuju daerah yang dikehendaki, dengan menggunakan kekuatan angin. Anginnya bergerak dikarenakan perputaran Bumi yang miring pada sumbunya sebesar 23,5 derajat.
Berapa besar kekuatan yang menggerakkan awan itu sehingga bisa menghidupkan daerah-daerah yang tandus. Kalau seandainya kita melakukan sendiri mekanisme itu, betapa besamya biaya yang kita keluarkan.
Hal ini misalnya, dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi. Mereka berusaha memindahkan air tawar yang disuling dari lautan menuju ke daratan. Maka, dibikinlah pipa-pipa dan proses penjernihan air dalam skala yang sangat besar. Biayanya tentu luar biasa. Namun Allah dengan sangat gampangnya melakukan itu semua secara terus menerus, sejak berjuta juta tahun yang lalu, untuk menghidupi seluruh makhlukNya di muka planet Bumi ini.
Cara Allah menurunkan air hujan ke muka Bumi pun dilakukanNya dengan sangat ’santun’ dan terukur. Bayangkan kalau Allah menghendaki air hujan yang jumlahnya jutaan ton itu turun secara sekaligus, seperti sebuah air terjun, di suatu daerah tertentu. Kita tidak bisa membayangkan betapa akan hancur lebur daerah itu, diterjang oleh air bah yang jatuh dari langit.
Allah telah mengukur jatuhnya air itu. Baik dalam jumlahnya maupun dalam mekanismenya. Jika, suatu daerah sudah ‘dirasa’ cukup memperoleh siraman air hujan, maka Allah menghentikannya. Dia memindahkan guyuran air hujan itu ke daerah lain yang membutuh-kannya. Jika tidak, tentu daerah tersebut akan mengalami banjir yang tidak terkira. Allah menggiring uap air dari lautan menuju ke daratan. Sebagian besar turun di gunung-gunung, kemudian menghasilkan sejumlah mata air yang sangat berguna pada musim kemarau. Air itu mengalir lewat sungai-sungai, dan bisa dimanfaatkan untuk kehidupan manusia di luar musim hujan.
Selain dalam hal jumlah, mekanisme turunnya air itu juga memunculkan rasa kagum kita. Kenapa air hujan turun sebagai butiran butiran? Barangkali, di antara kita ada yang menjawab : kalau seandainya air hujan itu turun sekaligus seperti air bah, maka bisa dipastikan hidup kita akan terancam. Akan terjadi bencana yang sangat dahsyat di muka Bumi ini, setiap kali musim hujan.
Namun demikian, pernahkah kita mencermati tentang butiran butiran air hujan itu? Proses pendinginan yang tidak seragam terhadap uap air yang terkandung di dalam awan dan jarak jatuh air dari awan ke permukaan Bumi telah menyebabkan air hujan itu jatuh tercerai berai menjadi butiran air yang berukuran kecil.
Sebenarnya, meskipun air hujan itu turun sebagai butiran, bahayanya tidaklah kalah besar dibandingkan dengan turun sekaligus. Kenapa demikian ?
Butiran air hujan itu sesungguhnya bisa berlaku bagaikan sebutir peluru yang jatuh dari angkasa. Kecepatan butiran air hujan itu, sangatlah tinggi akibat mengalami percepatan terus menerus disebabkan gaya gravitasi Bumi.
Seandainya tidak dihambat oleh angin dan atmosfer Bumi, butiran air hujan itu bisa memiliki kekuatan tembus yang sangat dahsyat. Bisa jadi genting-genting rumah kita bisa bolong-bolong akibat diterjang oleh butiran hujan itu. Akan tetapi kenapa hal itu tidak terjadi? Dan ternyata, kecepatan butiran air hujan ketika sampai di permukaan Bumi hanya berkisar pada kecepatan 8 km per jam saja.
Ini disebabkan oleh hambatan atmosfer Bumi. Bumi berputar pada dirinya sendiri dengan kecepatan lebih dari 1.600 km per jam. Akibatnya, udara atau atmosfer yang melingkunginya juga bergerak terbawa oleh putaran itu. Maka ketika ada butiran air hujan jatuh dari ketinggian awan, dia tidak mengalami tambahan kecepatan terus menerus akibat tarikan Bumi. Melainkan mengalami hambatan hambatan di dalam perjalanannya. Sehingga, ketika sampai di permukaan Bumi kecepatannya sudah sangat rendah, tidak membahayakan lagi.
Di sini, lagi lagi, kita melihat betapa berbagai mekanisme di Bumi ini telah didesain oleh Allah sedemikian rupa sehingga cocok Dan nyaman untuk kehidupan manusia di atasnya. Jika terjadi penyimpangan terhadap mekanisme-mekanisme itu, maka sungguh, manusia akan mengalami masalah yang besar dengan lingkungannya. Namun, Allah sangat menyayangi kita. Dia selalu menjaga semua itu untuk kenikmatan kehidupan manusia.
3. Atmosfer Sebagai Pelindung
Apa jadinya kalau Bumi ini tidak memiliki atmosfer? Bisa dipastikan tidak akan ada kehidupan di planet ini. Sebagaimana di planet-planet lain yang tidak memilikinya. Atmosfer memiliki manfaat yang sangat banyak buat kehidupan kita.
Yang pertama, atmosfer menyediakan udara buat makhluk hidup di dalamnya. Manusia membutuhkan oksigen untuk melangsungkan kehidupannya. Oksigen itu terdapat di atmosfer kita sebesar 23 %. Yang terbanyak adalah gas Nitrogen, sekitar 76 %. Dan sisanya adalah gas-gas lain sebesar 1 %.
Sudah pasti manusia tanpa oksigen tidak bisa hidup. Tetapi, kenapa di dalam atmosfer kita cuma terkandung 23%? Kenapa tidak lebih banyak lagi, misalnya yang 76% itu bukan Nitrogen, melainkan Oksigen. Sebaliknya, Nitrogennya cukup 23 % saja.
Ternyata, komposisi gas-gas dalam atmosfer kita itu sudah didesain oleh Allah dengan ukuran yang ideal bagi berlangsungnya kehidupan. Kalau seandainya komposisi Oksigen dan Nitrogen terbalik, maka yang terjadi bukanlah berkah, melainkan bencana. Kenapa bisa begitu? Bukankah Oksigen diperlukan oleh manusia?
Ya, memang tetapi kalau kebanyakan justru menyebabkan kehancuran lingkungan kita. Jika jumlah oksigen di dalam atmosfer terlalu besar, maka udara di sekitar kita akan menjadi sangat reaktif. Bahkan terlalu reaktif.
Sebagai contoh, adalah proses korosi alias karatan. Besi atau logam pada umumnya, mengalami korosi akibat bereaksi dengan oksigen. Reaksinya disebut sebagai reaksi oksidasi. Jika kandungan oksigen meningkat, maka kecepatan korosi logam-logam di sekitar kita juga akan meningkat. Seperti besi yang direndam di dalam air.Atau bahkan lebih cepat lagi.
Sehingga, dalam komposisi oksigen yang berlebihan sebagian besar logam logam di sekitar kita akan mengalami kehancuran yang sangat dramatis. Semua logam itu akan hancur’dimakan korosi. Bahkan bukan hanya logam, berbagai reaksi oksidasi terhadap makanan, minuman, bahkan bebatuan akan terjadi secara besar besaran. Maka, sungguh bukan berkah yang kita peroleh, melainkan bencana. Allah selalu menjaga agar kadar oksigen di dalam atmosfer kita tidak melampaui batas.
Sebaliknya, jika kandungan oksigen di dalam atmosfer kita terlalu sedikit, juga akan menimbulkan bencana. Manusia akan sulit bernafas, dan berbagai reaksi oksidasi yang sangat bermanfaat untuk kelangsungan hidup kita juga akan terhambat. Itu kalau kita berbicara tentang komposisi atmosfer. Padahal bukan hanya itu yang mengagumkan dari desain udara yang meliputi Bumi itu.
Allah mengatakan di dalam firmanNya, bahwa atmosfer juga berfungsi. sebagai pelindung. Melindungi terhadap apa? Terhadap bahaya-bahaya yang datang dari angkasa luar. Misalnya, batu-batu meteor yang jatuh ke Bumi atau juga sinar-sinar yang membahayakan kehidupan manusia.

Setiap saat, selalu ada saja batu-batu angkasa yang jatuh ke arah Bumi. Memang, di angkasa luar sana banyak sekali batu berseliweran. Terutama yang berukuran kecil dan sedang, yang sering ‘menyerang’ planet Bumi, dan juga planet-planet lain. Bahkan Bulan juga termasuk yang sering dibombardir oleh batu-batu angkasa itu.
Di berbagai planet yang tidak punya atmosfer, termasuk satelit Bumi, yaitu Bulan, batu-batu yang berjatuhan itu bisa sampai ke permukaan tanahnya. Kalau hal itu terjadi di Bumi tentu sangat membahayakan. Setiap saat kepala kita bisa terancam oleh berbagai ukuran batu angkasa.
Untunglah kita punya atmosfer yang melindungi Bumi. Atmosfer telah menyelamatkan kita dari ancaman itu. Setiap ada batu yang datang ke arah Bumi, mereka pasti akan dihadang oleh atmosfer. Untung juga, Bumi kita berputar dengan kecepatan yang sangat tinggi, sehingga atmosfernya juga ikut berputar. Perputaran ini temyata memunculkan mekanisme yang sangat hebat untuk menghancurkan berbagai batu angkasa yang menyerang Bumi.Setiap ada batu yang jatuh ke Bumi, akan mengalami gesekan yang keras, sehingga bebatuan itu terbakar. Dan karena ketinggian atmosfer itu mencapai sekitar 1000 km, maka batu yang terbakar itu seringkali tidak sempat menyentuh tanah. Mereka sudah habis terbakar menjadi abu ketika masih di angkasa Bumi. Maka, selamatlah kita. Kecuali, batu yang jatuh ke Bumi itu berukuran raksasa. Misalnya, berdiameter 1 km. Tentu akan membawa masalah yang serius terhadap kehidupan manusia di Bumi.
Perlindungan atmosfer kepada kita bukan hanya terhadap serangan bebatuan angkasa, melainkan juga terhadap berbagai sinar yang membahayakan. Misalnya sinar ultraviolet, dan berbagai radiasi kosmis.
Dalam QS. Al Baqarah (2): 29, setelah menciptakan Bumi, Allah mengarah ke langit. Lantas diciptakanlah langit (atmosfer) dengan bertingkat tingkat sebanyak 7 lapis
Dalam pemahaman ilmu pengetahuan modern memang atmosfer kita diketahui memiliki 7 lapisan, yaitu Troposfer, Stratosfer, Ozonosfer, Mesosfer, lonosfer, dan Eksosfer.
Setiap lapis langit memiliki fungsi yang berbeda. Semuanya untuk kepentingan kehidupan manusia di muka Bumi. Bagian yang paling bawah, Troposfer misalnya, memiliki fungsi untuk menjaga kestabilan hidup manusia di permukaan Bumi.
Diantaranya adalah mengandung kadar oksigen untuk mencukupi kebutuhan bernafas. Juga untuk menjaga kestabilan kelembaban udara dan temperatur ideal. Lapisan ini memiliki komposisi paling besar dari jumlah udara yang terkandung di dalam atmosfer, yaitu 90 %. Angin, hujan, salju dan berbagai parameter cuaca hanya terjadi di lapisan ini.
Secara umum, Troposfer berperan sangat besar untuk keberlangsungan iklim dan cuaca di Bumi. Jika lapisan ini kacau, maka iklim dan cuaca juga akan kacau.
QS. Fushilat (41) : 12
“Maka Dia menjadikan tujuh langit dalam dua hari, dan Dia mewahyukan kepada tiap-tiap langit urusannya …”
Di antara lapisan-lapisan itu, bagian yang paling luar berfungsi untuk melindungi Bumi dari bahaya angkasa luar. Hal ini juga difirmankan Allah.
QS. Al Baqarah (2) : 22
“Dialah yang menjadikan Bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap …”
QS. Al Anbiyaa’: 32
“Dan Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka berpaling dari segala tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya.”
4. Miliaran Binatang dan Tumbuhan
Bukan hanya pergerakan Bumi, gunung, hujan dan atmosfer yang sengaja didesain oleh Allah untuk menggelar drama kehidupan manusia, tetapi binatang dan tumbuhan pun semuanya diciptakan untuk kelengkapannya.

Benarkah demikian? Agaknya begitu. Secara Qur’ani, Allah telah mengatakan di berbagai ayatNya bahwa segala yang ada ini memang diciptakan untuk manusia. Di antaranya adalah ayat-ayat berikut ini.
QS. Al Mu’minuun (23) : 17 - 21
Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu tujuh buah jalan (tujuh buah langit). Dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami).
Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di Bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.
Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur, di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebagian dari buah-buahan itu kamu makan
dan pohon kayu ke luar dari Thursina (pohon zaitun), yang menghasilkan minyak, dan menjadi kuah bagi orang-orang yang makan.
Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian darinya kamu makan.
Demikian pula dalam memahami realitas di sekitar kita, logika kita juga mengatakan bahwa binatang dan tumbuhan juga diciptakan Allah untuk manusia. Apakah hal-hal yang mendukung ke arah kesimpulan tersebut?
Marilah kita amati satu per satu. Pernahkah kita berpikir kenapa pohon mangga berbuah sebanyak itu? Untuk dirinya sendiri ataukah untuk siapa?
Kalau hanya untuk kepentingan pohon mangga itu sendiri agaknya dia tidak perlu berbuah sebanyak itu. Katakanlah, pohon mangga perlu berbuah untuk menyambung keturunannya, maka kenapakah dia harus berbuah ratusan. Cukup beberapa saja, maka itu sudah memadai.
Namun, yang kita lihat pohon mangga berbuah begitu banyak. Jauh melebihi kebutuhannya sendiri. Untuk siapa? Rasanya tidak mungkin untuk binatang. Karena kebutuhan binatang juga tidak terlalu banyak, katakanlah codot. Berapa banyak sih codot yang memakan buah mangga. Sungguh pohon mangga tidak perlu berbuah sebanyak itu. Kecuali hanya satu jawabannya, yaitu : pohon mangga memproduksi buah sebanyak itu untuk kesenangan hidup manusia!
Bahkan bukan hanya dari segi jumlah. Jenis pohon mangga juga demikian banyaknya. Ada mangga Gadung, mangga Golek, Arumanis, Manalagi, dan lain sebagainya yang saya tidak bisa menyebutkan satu persatu. Semuanya memiliki rasa yang berbeda dan khas.
Kenapa mesti ada bermacam-macam jenis mangga? Untuk siapa semua itu diciptakan? Jawabannya hanya satu, untuk manusia!
Buah-buahan. Bukan hanya mangga. Ada ribuan, jenis buah di permukaan Bumi ini. Dan cobalah lihat, semuanya berbuah demikian banyak. Terlalu banyak kalau hanya untuk kepentingan pohon itu sendiri.
Durian, jeruk, jambu, pear, kelengkeng, rambutan, semangka, apokat, anggur, dan ribuan lagi jenis buah yang ada di berbagai belahan Bumi ini. Semuanya diciptakan Allah untuk kesenangan dan keperluan manusia.
Dan tentu bukan hanya buah-buahan. Tanaman demikian banyak ragamnya ada sayuran, ada kayu kayuan, ada obat obatan, ada tanaman. hias, ada tanaman perdu, ada tanaman hama, ada tanaman penghasil biji bijian, dan ribuan atau jutaan lagi jenis yang tersebar di seantero bumi. Semuanya tidak lain, kecuali diciptakan hanya untuk manusia.
Bukan hanya tumbuh tumbuhan. Binatang juga demikian. Pernahkah kita mengamati sapi perah. Dan, pernahkah kita juga bertanya, untuk apa dan untuk siapa sapi perah itu menghasilkan susu sedemikian banyaknya. Kalau hanya untuk anaknya, pasti tidak perlu sedemikian banyak.

Anak sapi hanya butuh sedikit saja tiap harinya. Dan itu pun ketika anak sapi masih kecil. Ketika sudah dewasa, anak sapi itu tidak butuh lagi susu dari induknya. Namun toh demikian, produksi susu sapi perah itu berjalan terus. Sekali lagi tidak ada jawaban lain dalam kasus ini. Jawabannya hanya satu : semua itu diciptakan Allah untuk manusia. Supaya manusia memperoleh minuman bergizi darinya. Supaya manusia mendirikan pabrik pengolahan susu. Dan supaya, muncul lapangan pekerjaan baru dimana manusia lantas bisa berinteraksi secara dinamis dalam kehidupannya.
Juga, pernahkah kita mencermati lebah. Siapakah yang menyuruhnya mengumpulkan madu. Dan untuk siapa? Padahal makanan lebah bukanlah madu. Lebah memakan nektar bunga. Tapi dia bersusah payah mencari madu dari berbagai jenis bunga untuk dikumpulkan di sarangnya. Untuk siapakah madu itu?
Madu itu demikian bermanfaat buat kehidupan manusia, dan ‘tidak terlalu’ bermanfaat untuk kehidupan lebah. Kenapa mereka mesti mengumpulkan demikian banyak? Sekali lagi, jawabannya tidak ada yang lain : memang Allah menciptakan lebah dan madu untuk kepentingan manusia.
Jika kasus kasus ini kita perluas ke berbagai jenis binatang, kita juga akan menemui jawaban yang sama. Kenapa mesti ada harimau, kenapa mesti ada babi hutan, kijang, kerbau, unta, kuda, jutaan jenis ikan dan burung, ular dan reptilia, serangga, dan miliaran binatang lainnya. Semuanya, tidak ada kecuali, diciptakan Allah untuk kenikmatan hidup manusia.

Relativitas waktu.

Banyak sekali ayat di dalam Al Qur’an yang berbicara tentang ‘Waktu’. Bahkan Allah juga bersumpah demi ‘Waktu’ di surat Al Ashr. Artinya, kita harus benar-benar cermat dalam memahami ‘Waktu’, karena di dalamnya terkandung misteri dan rahasia yang sangat besar.
‘Waktu’ ternyata tidak berjalan secara konstan. ‘Waktu’ ternyata juga ada permulaannya, dan kemudian ada akhirnya. ‘Waktu’, dulu pernah tidak ada. Dan kemudian menjadi ada karena diciptakan oleh Allah. Karena itu suatu ketika nanti, ‘Waktu’ juga akan lenyap, sehingga tidak ada ‘waktu’ lagi yang mengikat kita.
‘Waktu’ ternyata bisa, ‘mulur-mungkret’ (memanjang dan memendek, melambat dan mencepat) bergantung pada kondisi seseorang. Hal ini telah dibuktikan secara ilmiah oleh, Einstein lewat teorinya yang terkenal, Relativitas Waktu. Dan ternyata, kita menemukan fenomena relativitas waktu itu di dalam Al Qur’an
Banyak ayat al Qur’an yang mengindikasikan bahwa alam semesta ini memiliki relativitas waktu. Hal tersebut ditujukan untuk berbagai kondisi, seperti ketika Allah menciptakan langit dan Bumi, ketika terjadi kiamat, dan ketika malaikat dan ruh bergerak menuju ke langit.
Pada saat penciptaan langit dan Bumi, Allah mengatakan, Dia menciptakan alam semesta ini hanya dalam waktu 6 hari. Padahal kita tahu, bahwa alam semesta ini telah berusia sekitar 12 miliar tahun. Dan itupun, sebenarnya proses; penciptaan alam semesta belum selesai.
Dalam perhitungan ilmu Astronomi, sejak alam semesta ini diciptakan sampai kemudian lenyap kembali akan memakan waktu sekitar 30 miliar tahun. Maka, selama itu pulalah proses penciptaan alam ini berlangsung.
Selama alam ini masih eksis dan berkembang seperti sekarang ini, selama itu pula proses penciptaan benda-benda langit terus terjadi. Setiap saat muncul bintang dan Matahari baru. Dan yang lainnya padam. Begitu juga planet-planet dan satelit-satelit akan terus tercipta dan mengalami kehancuran secara sebagian-sebagian. Alam masih sedang dalam proses penciptaan, sampai sekarang! Bahkan sampai nanti saat kehancurannya.

Ringkasnya, ilmu pengetahuan mengatakan bahwa alam semesta.ini sesungguhnya diciptakan dalam kurun waktu 30 miliar tahun. Tetapi Al Qur’an mengatakan hanya 6 hari. Ini adalah sebuah relativitas waktu. Bagi manusia, proses berjalan 30 miliar tahun, tetapi di sisi Allah berjalan hanya 6 hari. Lho kok bisa begitu?
Ya begitulah memang ‘Waktu’. Ternyata ia bukanlah besaran (ukuran) yang bersifat tetap (konstanta) bagi siapa saja. Waktu bagi saya bisa berbeda dengan waktu yang pembaca alami. Semuanya ternyata bergantung kepada sudut pandang kita, bergantung pada ‘kecepatan gerak’ si pelaku.
‘Keanehan’ waktu ini digambarkan oleh Einstein lewat teorinya : Paradoks si Kembar. “Jika ada dua orang kembar, yang bergerak dengan kecepatan berbeda, maka waktu bagi keduanya akan berjalan berbeda pula.
Katakanlah A dan B adalah orang kembar. Si A tetap tinggal di Bumi, sedangkan si B berkelana ke angkasa luar meninggalkan Bumi dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Maka, seandainya si B melakukan perjalanan ke angkasa itu selama 1 jam saja, ketika dia kembali ke Bumi akan menemukan saudara kembarnya sudah tua dengan rambut memutih sudah beruban.
Bagi si B (yang bergerak dengan kecepatan tinggi) waktu hanya berjalan selama 1 jam, akan tetapi bagi si A yang diam di Bumi waktu sudah berjalan selama puluhan tahun. Kenapa bisa demikian? Karena ternyata,waktu itu memang bisa mulur mungkret sesuai dengan kecepatan pelakunya.
Bagi yang berkecepatan tinggi, waktunya akan memanjang. Sedangkan yang berkecepatan rendah, waktunya akan memendek. Ini adalah sebuah realitas! Bukan sekadar perasaan semata. Jam yang kita gunakan benar-benar akan menunjukkan waktu yang berbeda.
Di dalam laboratorium Fisika. hal ini juga telah dibuktikan. Ada sebuah partikel sub atomik ydng disebut Muon. Partikel ini, dalam. kondisi biasa, bisa memancarkan cahaya yang kemudian padam lagi dalam usia hampir 1 detik. Ternyata, ketika Muon itu.dipercepat dengan mesin pemercepat Cyclotron, cahaya yang biasanya padam dalam waktu tidak sampai 1 detik itu, tidak padam-padam. Alias mencapai umur yang jauh lebih panjang.
Hal ini benar-benar telah memberikan dukungan kepada teori relativitas waktu.. Bahwa ‘waktu’ ternyata. berlaku berbeda bagi setiap makhluk yang memiliki ‘kecepatan’ berbeda. Termasuk ketika berbicara tentang penciptaan langit.
Demikian juga, ketika Allah bercerita tentang kecepatan malaikat. Allah berfirman:
QS. Al Ma’arij 4: “Naik malaikat dan ruh kepadaNya dalam waktu sehari yang kadarnya 50 ribu tahun”
Dalam ayat ini Allah memberikan gambaran kepada kita bahwa ada relativitas waktu antara dunia manusia dan dunia malaikat, disebabkan oleh perbedaan kecepatan. Menurut Einstein, jika ’sesuatu’ bergerak melesat dengan kecepatan mendekati cahaya, maka waktunya akan mulur mendekati, tidak terhingga.

Artinya, karena malaikat dibuat Allah dari bahan cahaya, maka dia bisa melakukan pergerakan dengan kecepatan yang sangat tinggi mendekati kecepatan 300.000 km per detik. Nah, maka ‘waktu’ bagi malaikat akan mulur, yaitu sehari malaikat = 50 ribu tahun manusia! Dalam peristiwa ini, ternyata kecepatan malaikat ketika bergerak kepada Allah adalah sebesar 0,999 999 999 999 999 kecepatan cahaya.
Namun malaikat juga bisa memiliki ‘waktu’ yang berbeda-beda, dikarenakan kecepatannya bisa berubah-ubah sesuai kebutuhan. Hal ini dikatakan oleh Allah:
QS Fathiir (35) 1: “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Ayat di atas mengatakan bahwa malaikat memiliki kecepatan yang sangat bervariasi. Hal itu diumpamakan Allah dengan jumlah sayap. Bukankah sayap adalah alat untuk terbang dengan kecepatan tertentu?
Di ayat lain Allah mengatakan bahwa malaikat bergerak naik kepadaNya dalam waktu sehari yang kadarnya seribu tahun menurut perhitungan manusia. Maka di sini kita melihat, bahwa ternyata waktu itu bisa berubah-ubah kadarnya sesuai dengan kecepatan pelakunya.
QS. As Sajdah (32) 5: “Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadaNya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu”
Demikian pula pada saat hari kiamat. Allah mengatakan bahwa pada hari itu kadar waktu juga akan mengalami relativitas. Sehari pada waktu itu akan mulur sampai 1000 tahun waktu manusia sekarang.
Hal ini menunjukkan bahwa ketika terjadi kiamat itu, pergerakan benda-benda langit memiliki kecepatan yang sangat berbeda dengan sekarang. Kondisi saat itu adalah sedemikian rupa sehingga 1 hari pada waktu itu sama dengan 1000 tahun sekarang. Itulah saat saat terjadinya kiamat.
Kembali kepada persoalan semula. Maka, ketika Allah mengatakan bahwa Dia memerlukan waktu 6 hari untuk proses penciptaan alam semesta, itu harus dipahami dari sisi Fisika Modern.
Enam hari di sisi Allah pada saat penciptaan langit dan Bumi itu pada kenyataannya memiliki kadar 30 miliar tahun, sesuai dengan fakta Astronomi bahwa alam semesta ini sudah berusia 12 miliar tahun, dan masih akan terus berkontraksi sampai 18 miliar tahun kernudian.
Jadi, sekarang kita bisa memahami kenapa Allah mengatakan kiamat sudah dekat. Karena di sisi Allah, teenyata usia alam sernesta ini sangatlah singkat. Usia yang 12 miliar tahun ini, di sisi Allah barulah sekitar 2 hari saja!
Tinjauan tentang dekatnya kiamat, sebenarnya juga bisa dilihat dari sudut pandang yang lain, seperti firman Allah.
QS. Al Israa’ (17) 52:“yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.”
Artinya, ayat tersebut menggambarkan kepada kita bahwa selama kita berada di alam Barzakh, kita tidak merasakan masa penantian itu sebagai waktu yang lama. Bahkan rasanya hanya sekitar satu hari saja. Sehingga, praktis, begitu kita mati, maka tak lama kemudian kita sudah akan bertemu dengan hari kiamat. Meskipun, nanti akan kita diskusikan di bagian berikutnya, bahwa bagi manusia yang hidup kejadian kiamat itu masih ribuan tahun lagi. Tapi pada kenyataanya kita akan menemuinya beberapa tahun lagi, ’sesaat’ sesudah kita mengalami kematian kita !
Jadi bagi yang sekarang sudah berusia 40 tahun misalnya, jika diambil rata-rata usia manusia 65 tahun, maka kiamat baginya hanya tinggal 25 tahun lagi. Baik kiamat yang berarti kematiannya, maupun kiamat hancurnya Bumi. Kenapa begitu?
Karena, begitu dia meninggal, dia sudah tidak merasakan lagi masa penantian ‘kiamat bumi’ yang diperkirakan masih ribuan tahun lagi. Baginya waktu ribuan tahun itu tidak ada bedanya dengan 1 hari saja. Apalagi bagi yang sudah berumur 60 tahun. Sebenarnya, kiamat baginya hanya tinggal sekitar 5 tahun lagi. Begitu dekatnya hari kiamat itu, persis seperti digambarkan Allah di dalam berbagai firmanNya.
Allah Mengajak Berlogika

Pada umumnya manusia memang tidak bisa segera mencerna dengan akalnya ketika Allah menginformasikan akan membangkitkan mereka dari kuburnya. Namun, itu lebih dikarenakan mereka sombong dan tidak membuka pikirannya untuk menerima berbagai kemungkinan. Seperti dialog yang dilakukan Ibrahim dengan Raja Namrudz, pada waktu itu. Padahal, kalau mereka membuka hatinya untuk kebenaran, Insya Allah mereka bisa menerimanya.
QS Al Baqarah 258, “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: “Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan,” orang itu berkata: “Saya dapat menghidupkan dan mematikan”. Ibrahim berkata: “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat,” lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
Ayat di atas menunjukkan kepada kita betapa orang-orang kafir itu memang memiliki pola pikir yang tidak terbuka. Mereka menganggap dirinyalah yang paling pintar dan paling benar, sehingga tidak mau menerima apa yang disampaikan oleh orang lain. Padahal Allah dan para Rasulnya selalu memberikan argumentasi argumentasi yang logis dalam menyebarkan agama. Termasuk apa yang disampaikan Nabi Ibrahim kepada raja Namrudz.
Nah, berkaitan dengan hari kebangkitan ini, Allah juga memberikan logika-logika yang menarik. Asalkan kita open mind, maka setiap kita akan bisa menerimanya.
Untuk meyakinkan bahwa manusia pasti dibangkitkan dari dalam kuburnya, Allah memberikan logika-logika sebagai berikut.
Yang pertama : bahwa Allahlah yang dulu menciptakan kita dari tanah (benda mati), kemudian dihidupkanNya melewati sebuah proses bertingkat dari sperma sampai menjadi janin di dalam rahim seorang ibu. Dan kemudian setelah hidup di dunia sekian lama, mereka akan dimatikan oleh Allah dikembalikan lagi ke tanah alias dikubur. Maka, apalah sulitnya bagi Allah untuk menghidupkan kembali orang orang yang sudah mati itu.
QS. Al Hajj 5 – 7, “Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkilan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya maupun yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian sampailah kamu kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan di antara kamu (ada pula) yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dulu dia ketahui Dan kamu lihat Bumi itu kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di alasnya, hiduplah Bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbah-tumbuhan yang indah.”
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq, dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati, dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
“Dan sesungguhnya hari kiamat itu pastilah datang, tak ada keraguan padanya, dan bahwasanya Allah membangkitkan semua orang yang di dalam kubur”
Dalam logika pertama ini, Allah membeberkan fakta kehidupan kita, bahwa kita dulu adalah sekadar benda mati, yaitu Tanah. Lantas Allah mengambil zat-zat penyusun tubuh kita darinya seperti C, H, 0, N, S, P, Ca, Fe, dan lain sebagainya melewati mekanisme ‘rantai makanan’ dalam tumbuhan, hewan, kemudian manusia.
Setelah itu, diprosesNya semuanya dengan suatu mekanisme yang sangat canggih di dalam rahim ibu kita. Dan tiba-tiba benda yang tadinya mati itu terlahir sebagai makhluk yang hidup, yaitu bayi manusia. Bisakah kita merasakan betapa Allah sedang ‘menarik’ perhatian dan pemahaman kita tentang proses berubahnya benda ‘mati terurai’ menjadi makhluk hidup yang kompleks?
Maka, Allah menegaskan di dalam firmanNya di atas bahwa memang Allah adalah penguasa segala eksistensi ini. Hanya Dialah yang bisa menghidupkan benda-benda mati berubah menjadi makhluk hidup. (Yang mana, tidak satu pun pakar biomolekuler bisa menciptakan yang demikian).
Karena itu Dia lantas menggunakan logika itu untuk menjelaskan proses kebangkitan. Bahwa Tuhan yang menciptakan kehidupan ini, pasti sangat mudah dan tidak menemui kesulitan sedikitpun untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali manusia dari dalam kuburnya.
Ayat berikut ini juga menegaskan logika itu. Dulu Allah menciptakan manusia dari tanah dengan proses yang sangat menakjubkan. Setelah itu, Allah mematikan kita, dan kemudian kita dikubur lagi ke dalam tanah. Lantas, kalau Allah berkehendak untuk mengeluarkan lagi dari dalam tanah, “apa susahnya?”
QS Nuh 17 – 18, “Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya. Kemudian Dia mengembalikan kamu ke dalam tanah, dan mengeluarkan kamu (daripadanya pada hari kiamat) dengan sebenar benarnya.
Logika kedua, Allah mengatakan bahwa membangkitkan manusia dari kubur itu adalah pekerjaan yang jauh lebih mudah dibandingkan dengan menciptakan manusia pada awal mulanya. Kenapa demikian? Karena, membangkitkan itu hanyalah sekedar mengulang kejadian. Tentu saja, melakukan pengulangan adalah jauh lebih mudah daripada menciptakan dari tidak ada menjadi ada.
QS. Ar Ruum 27, “Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya kembali. Dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagiNya…”
QS. Al Israa 51, “…Maka mereka akan bertanya Siapa yang akan menghidupkan kami kembali? Katakanlah : yang menghidupkan kamu pada kali pertama. Lalu mereka akan menggeleng-gelengkan kepalanya kepadamu, dan berkata: Kapan itu (akan terjadi)? Katakanlah: Mudah-mudahan waktu berbangkit itu sudah dekat.”
QS. Qiyaamah 1 - 4, “Aku bersumpah dengan hari Kiamat Dan aku bersumpah dengan jiwa Yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan tulang belulangnya? Bukan demikian, sebenarnya kami kuasa menyusun (kembali) jari-jemarinya dengan sempurna.”
Logika Biomolekuler
Logika ‘pengulangan’ ini sebenarnya bisa dijelaskan dengan pemahaman biomolekuler. Bahwa setiap makhluk hidup, termasuk manusia, memiliki untaian genetika, yang membawa seluruh sifat sifatnya.
Sebagaimana kita ketahui bahwa di dalam sel manusia ada bagian yang disebut chromosome. Bentuknya bisa diumpamakan sebagai pilinan pita atau untaian rantai, yang berjumlah 23 pasang. Laki laki maupun perempuan.
Chromosome ini berperanan penting untuk menentukan sifat sifat bayi hasil perkawinan antara seorang laki-laki dan perempuan. Setiap bayi membawa separo chromosome bapaknya (23 untai) dan separo dari ibunya (23 untai). Sehingga di dalam setiap bayi tetap terdapat 23 pasang (46 untai) chromosome lagi, perpaduan dari bapak dan ibunya.
Nah, di dalam chromosome itulah terdapat mata rantai pembawa sifat yang disebut gen. Setiap mata rantai membawa satu sifat. Misalnya, bayi itu memiliki hidung yang mancung, mata bulat, rambut hitam, kulit kuning langsat, dan seterusnya. Masing-masing sifat itu diwakili oleh 1 gen.
Sehingga, jika kita bisa mengambil sifat-sifat dominan yang kita sukai dari rangkaian genetika seseorang dan membuang yang lemah maka kita bisa menciptakan bayi dengan kualitas dan karakteristik yang istimewa, sesuai dengan kemauan kita. Ilmu yang mempelajari tentang hal tersebut disebut sebagai Ilmu Rekayasa Genetika atau Biomolekuler.

Ilmu ini, kini berkembang sangat pesat. Salah satu keberhasilan-nya adalah menciptakan cloning (’bayi’ hasil mengcopy’ bapaknya atau ibunya) pada hewan domba. Dan konon, kabarnya, sudah mulai diujicobakan pada manusia. Meskipun, sampai kini belum ada laporan yang bisa dipertanggungjawabkan tentang keberhasilan cloning pada manusia.
Sebenarnya, dalam konteks ini, saya hanya ingin mengatakan bahwa tubuh makhluk hidup termasuk manusia bisa ‘dicetak ulang’, karena di dalamnya selalu ada gen pembawa sifatnya. Seluruh sifat makhluk hidup itu bisa direplika, berdasarkan genetika yang dirumuskan secara biokimiawi oleh genome-genome.
Di dalam tubuh manusia, misalnya, terdapat sekitar 4-5 miliar genome dalam bentuk komposisi biokimiawi. Setiap komposisi itu berpengaruh dan bertanggungjawab terhadap salah satu sifat yang kita miliki.
Logika yang Ketiga. Dalam logika ini Allah mengatakan bahwa Dialah yang menciptakan langit dan Bumi. Kalau menciptakan Langit dan Bumi yang demikian dahsyat saja Dia bisa, apalagi untuk menciptakan manusia.
QS. Al Ahqaaf 33, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah yang menciptakan langit dan Bumi, dan Dia yang tidak merasa payah karena menciptakannya, kuasa menghidupkan orang-orang mati? Ya, sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
QS. Al Israa 99, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah yang menciptakan langit dan Bumi itu kuasa pula menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya ? Dan orang zalim itu (memang) tidak menghendaki kecuali kekafiran.”
Seperti kita tahu, bahwa planet Bumi yang kita tempati ini adalah benda langit yang sangat kecil dibandingkan dengan besarnya alam semesta. Perbandingannya adalah bagaikan debu di padang pasir ’semesta’. Maka, manusia yang hidup di atas Bumi itu pun adalah makhluk yang sangat kecil di ‘hadapan’ alam semesta ini.
Karena itu, Allah memberikan perbandingan tersebut untuk menyadarkan kita akan kekuasaan Allah. Kalau menciptakan alam semesta yang demikian besar dan dahsyat saja Allah bisa, tentu sangatlah mudah bagiNya untuk menciptakan manusia. Apalagi cuma membangkitkan saja dari dalam kuburnya. Tidak ada kesulitan sedikit pun bagi Allah.
Sebagaimana difirmankan Allah, jin juga seperti manusia. Dia dikenai kewajiban untuk beribadah. Karena itu, juga bakal dimintai pertanggungjawaban atas segala perbuatannya, pada Hari Kiamat.
QS. Adz Dzariyat 56, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah (menyembah) kepadaKu.”
Maka, di kalangan mereka ada juga jin yang baik, jahat atau pun kafir. Bagi yang kafir, sama saja, mereka juga tidak percaya bahwa mereka akan dibangkitkan sesudah matinya.
QS. Jin 7, “Dan sesungguhnya mereka (jin) menyangka sebagaimana persangkaan kamu (orang-orang kafir Makkah) bahwa Allah sekali-kali tidak akan membangkitkan seorang pun”
Pada hari kiamat itu, segala yang hidup, temasuk jin dan manusia akan mengalami kematian. Kecuali para malaikat. Sebagaimana manusia, jin memang bisa mengalami kematian dalam hidupnya. Hanya saja, karena badannya yang terbuat dari gelombang panas (api), maka dia memiliki relativitas waktu yang ukurannya lebih panjang dibandingkan manusia.
Secara umum, dikatakan bahwa usia jin adalah sepuluh kali lipat usia manusia. Jadi kalau jin menyebutkan dirinya berusia 70 tahun, misalnya, sebenarnya dalam dunia manusia itu berarti dia sudah berumur 700 tahun.
Namun demikian, dari golongan jin itu ada yang tidak mati hingga saat berbangkit. Dia adalah Iblis. Dia telah diberi kesempatan oleh Allah untuk hidup terus sampai hari kiamat, sesuai permintaannya sendiri, dengan maksud untuk menyesatkan manusia dari pertunjuk Allah.

QS. Al Hijr 37 – 38, “Allah berfirman: (Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan”
Karena itu, Neraka akan dihuni secara bersama-sama oleh manusia dan jin yang kafir dan banyak dosanya. Allah mengistilah-kannya sebagai kayu bakar api Neraka.
QS. Jin 15, “Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api Neraka Jahannam.”
Saat-saat Kebangkitan
Bagaimanakah gambarannya, ketika Allah membangkitkan manusia dari dalam kuburnya. Allah menginformasikan dalam berbagai firmanNya.
QS. Fathiir 9, “Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan, maka Kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati, lalu Kami hidupkan Bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianiah kebangkitan itu.”
QS. Al Araaf 57, “Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.
QS Az Zukhruf 11, “Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (tertentu) lalu Kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati. Seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari kubur)”
QS. An Nazi’aat 13 – 14, “Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan sekali tiupan saja. Maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan Bumi.
Di sini sangat jelas, Allah memberikan perbandingan dan perumpamaan antara proses kebangkitan manusia dari dalam kubur dengan proses tumbuhnya pepohonan. DisiramkanNya air hujan di daerah tersebut, maka hidup kembalilah Bumi yang telah ‘mati’.
Selain itu, ada nuansa, proses kebangkitan manusia itu berjalan secara massal. Allah menggambarkan seperti pepohonan di daerah tandus yang tiba-tiba bertumbuhan akibat turunnya hujan. Penyebabnya satu, yaitu hujan, tetapi efeknya berjalan secara massal, bagi semua tumbuhan yang ada di daerah itu.
Bahkan di ayat lain Allah mengatakan bahwa proses kebangkitan itu bagaikan menghidupkan satu jiwa saja. Sekali ’stimulasi’, efeknya berjalan secara massal. Seluruh manusia yang ada di dalam kubur bangkit.
QS. Luqman 28, “Tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah seperti satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
Hanya saja muncul pertanyaan : bagaimanakah kebangkitan itu berlangsung? Apakah butuh proses lama ataukah cepat? Kalau kita menginterpretasi dari ayat-ayat di atas sepertinya butuh waktu yang lama. Sebab Allah mengidentikkan dengan proses; bertumbuhannya berbagai tanaman.
Untuk bisa tumbuh menjadi pohon besar, ada suatu proses; yang mesti dilalui. Mulai dari Uji, tunas, pohon kecil, dan kemudian pohon besar. Dan semua itu dihidupkan oleh Allah lewat turunnya air hujan, sebagai penyebabnya.
Itulah yang dijadikan perumpamaan olehNya untuk menggambarkan proses, kebangkitan. Artinya, tidak secara tiba-tiba dan tanpa proses. Meskipun di ayat-ayat lain Allah menggambarkan betapa manusia keluar secara cepat dari kuburan-kuburan yang terbongkar.
QS Al Qomar 7, “Sambil menundukkan pandangan-pandangan mereka keluar dari kuburan seakan-akan belalang yang beterbangan.”
Namun, itu hanya mengambarkan saat-saat keluarnya manusia dari dalam kubur. Akan tetapi, proses ‘persiapan’ kebangkitan itu sendiri berjalan selama jutaan atau bahkan miliaran tahun.

Bayangkan, pada waktu kiamat, Bumi telah mengalami kerusakan yang sangat parah. Sehingga Allah menggambarkan gunung gunung pun telah hancur berubah menjadi pasir. Dan Bumi, menjadi rata, tidak memiliki daerah-daerah yang naik turun.
QS. Thaaha 105 – 107, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang gunung-gunung, maka katakanlah : Tuhanku akan menghancurkannya (dihari kiamat) sehancur hancurnya”
“Maka Dia akan menjadikan bekas gunung-gunung itu datar sama sekali.”
“Tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan tempat yang tinggi.”
Padahal di ayat-ayat lain tentang Surga dan Neraka, kita mendapati Bumi telah kembali ideal. Di sana ada tempat-tempat tinggi yang digambarkan penuh dengan pepohonan yang subur dan banyak mata air serta sungai-sungai di bawahnya. Dan Neraka juga digambarkan sebagai tempat yang rendah penuh keadaan yang mengerikan, seperti pohon-pohon berduri dan sumber-sumber api yang sangat panas.
Sehingga, jika demikian keadaannya, kita bisa menarik kesimpulan bahwa ada suatu proses yang sangat panjang untuk menjadikan Bumi ini kembali ideal seperti zaman Adam dan Hawa dulu diciptakan. Waktu itu, Adam dan Hawa juga digambarkan berada di dalam Surga yang sangat menyejukkan.
Nah, untuk mengembalikan kondisi Bumi yang sangat rusak menjadi sangat ideal itulah diperlukan waktu jutaan sampai miliaran tahun. Tetapi yang jelas Allah memang merubah dan merehabilitasi Bumi yang telah mengalami kehancuran itu, sebagaimana Dia firmankan berikut ini.
QS. Ibrahim 48, “(yaitu) pada hari (ketika) Bumi diganti dengan Bumi yang lain, dan (demikian pula) langitnya, dan mereka semuanya berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Satu Lagi Perkasa.”
Dalam ayat di atas, Allah memberikan penjelasan yang sangat gamblang, bahwa Bumi dan langit yang menyelimuti nya telah diganti dan direhabilitasi. Dan setelah semuanya siap untuk kehidupan, maka Allah membangkitkan seluruh manusia dari dalam kuburnya, untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatannya di kehidupan sebelumnya.
Nah, dalam rekonstruksi ini, kemungkinan proses rehabiltasi itu memakan waktu sekitar 3 miliar tahun. Sejak Bumi mengalami kehancuran, sampai ketika alam semesta berhenti berkembang (memuai).
Sekadar mengingatkan. Alam semesta ini sedang berkembang atau memuai ke segala penjuru. Pemuaian itu berlangsung selama sekitar 12 miliar tahun, sejak terjadinya Ledakan Dahsyat (Big Bang) di pusatnya. Diperkirakan, pemuaian itu akan berhenti sekitar 3 miliar tahun lagi.
Kurun waktu itulah yang dipakai oleh Allah untuk merehabilitasi Bumi sehingga kembali ideal. Termasuk lapisan-lapisan atmosfernya, semuanya diperbaiki olehNya. Maka, ketika semua siap, saat itu pula alam semesta mengalami penciutan kembali.
ITULAH WAKTU DIMULAINYA ALAM AKHIRAT. Sejak saat itu hukum alam berjalan terbalik (seiring berbaliknya arah pergerakan alam semesta, dari berkembang menjadi menciut.)
Jika sekarang, manusia cenderung menuju pada kematian, maka pada waktu itu justru sebaliknya. Manusia justru akan cenderung mengarah pada kehidupan abadi. Yang tadinya MATI, justru akan HIDUP KEMBALI. Secara Fisika, dikatakan bahwa kalau sekarang Entropi alam semesta ini naik terus, maka nanti pada periode Akhirat itu, entropinya akan turun terus.
Itulah saat-saat malaikat meniupkan terompet untuk kedua kalinya. Yang pertama, ditiupkan ketika Bumi mengalami kehancurannya, Kiamat Sughra. Sedangkan yang kedua, pada saat alam semesta mengalami pembalikan arah pergerakan, alias dimulainya Periode Akhirat.
QS. An Nazi’aat 6 – 10, “Pada hari ketika tiupan pertama menggoncangkan alam”
“Tiupan pertama itu diiringi oleh tiupan kedua”
“Hati manusia pada waktu itu sangat takut.
“Pandangannya tertunduk.”
“(Mereka) berkata : Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?”
Tiupan.itu adalah sebuah suara yang sangat keras. Pada tiupan yang pertama, suara keras yang memekakkan telinga itu muncul dari badai berbatu yang dikirimkan oleh Allah ke Bumi, yang berasal dari kabut Oort.
QS. ‘Abasa 33 – 36, “Dan ketika datang suara yang memekakkan.
“Pada hari ketika manusia lari dari saudara-saudaranya
“Dari ibu bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya.”
Proses penghancuran Bumi itu membuat panik manusia, sehingga digambarkan seperti di atas. Suara ledakan karena hajaran batu batu angkasa itu demikian dahsyatnya. Bahkan banyak terdengar suara seperti tiupan yang berasal dari berseliwerannya batu-batu itu di angkasa Bumi. Bumi betul-betul dibombardir oleh desingan-desingan ‘peluru’ meteor dari angkasa, diiringi badai sangat dahsyat.
Setelah itu, lenganglah Bumi. Selama miliaran tahun kemudian. Sampai pada suatu ketika alam semesta bergerak berbalik arah. Di situ, lagi-lagi malaikat meniupkan terompetnya, sebagai dimulainya hari berbangkit. Perbalikan gerakan itu menimbulkan ‘efek’ tiupan lagi, disebabkan oleh berbaliknya hukum alam.
Dalam waktu yang bersamaan, atau tidak lama sesudah itu, tubuh manusia yang hancur lumat di dalam tanah tiba-tiba berkumpul secara alamiah. Berbagai molekul tubuhnya berangsur-angsur terbentuk akibat hukum alam yang berjalan terbalik itu.
Demikian pula sel-sel tubuhnya terbentuk dari molekul-molekul yang bergerak mengumpul dengan sendirinya (dalam KehendakNya). Lantas sel-sel itu mulai membentuk organ-organ tubuhnya. Dan akhimya organ-organ itu berkumpul membentuk tubuh manusia secara utuh.
Kenapa hal itu bisa terjadi? Bayangkanlah sebuah film yang merekam sebuah kejadian jatuhnya gelas dari atas meja. Rekaman tersebut menggambarkan urut urutan kejadian, mulai dari gelas di atas meja, yang kemudian terguling. Lantas, gelas itu terjatuh ke lantai. Berikutnya, rekaman itu akan menggambarkan betapa gelas tersebut hancur, semburat kemana-mana.
Kemudian muncul pertanyaan? Bisakah gelas itu utuh kembali? Bagaimana caranya? Jawabnya: cobalah putar rekaman itu secara terbalik. Maka, ketika rekaman ‘gelas pecah’ itu diputar secara terbalik, kita. akan melihat kejadiannya berjalan terbalik pula : dimulai dari kondisi gelas pecah berserakan, kemudian pecahan-pecahan gelas itu akan terkumpul menjadi gelas yang utuh. Setelah itu, tiba-tiba gelas itu terangkat kembali ke atas meja, seperti sediakala.
Begitulah gambaran proses kebangkitan yang bakal terjadi, kelak. Karena. hukum alam berjalan terbalik, maka ‘trand’ kehidupan bukan menuju kepada kematian, melainkan justru dari, kematian menuju pada hidup selama-lamanya. Benda-benda yang rusak justru akan berproses menjadi baik kembali. Makanan-makanan yang busuk menjadi segar kembali. Tidak akan pernah berubah rasa, kata Allah ketika menggambarkan Surga.
Karena itu, Allah menegaskan bahwa sangatlah gampang mengumpulkan kembali atom-atom dan molekul-molekul tubuh yang sudah tercerai-berai di dalam tanah. Di ayat lain Allah bertanya : Apakah kalian mengira bahwa Aku tidak bisa mengumpulkan jari-jari tangan mereka yang sudah hancur di dalam tanah itu? Sungguh semua itu bakal tedadi dengan sangat mudahnya, ketika hukum alam ini sudah dibalik oleh Nya.
QS. An Nazi’aat 13 – 14, “Sesungguhnya pengembalian itu hanya satu kali tiupan saja. Maka serta merta mereka kembali hidup di permukaan Bumi.”
Dalam pemahaman yang sedikit berbeda, kita bisa menjelaskan rekonstruksi kebangkitan itu seperti dihidupkannya kembali pohon pohon yang sudah mati.

Bagaimanakah Allah menghidupkan pohon yang sudah mati? Katakanlah kita mempunyai pohon Mangga Gadung. Jika karena sesuatu hal, pohon Mangga Gadung tersebut mati, maka apakah yang kita lakukan agar kita memiliki pohon seperti itu lagi ?
Tanamlah bijinya yang sudah masak. Maka, akan tumbuh pohon Mangga Gadung seperti semula. Rasa dan karakteristiknya sama dengan Mangga Gadung sebelumnya. Kenapa bisa begitu? Sebab di biji Mangga Gadung yang ditanam itu terdapat seluruh sifat-sifat pohon yang telah mati tersebut. Hal ini telah dielaskan secara biomolekuler di bagian sebelumnya.
Maka, ketika, biji itu ditanam, terjadilah proses replika terhadap pohon sebelumnya. Seluruh sifat yang terkandung di dalam genetikanya diturunkan kepada pohon berikutnya, lewat bijinya.
Proses kebangkitan manusia dari dalam kubur kurang lebih sama. Setiap manusia memiliki gen pembawa sifat di dalam sel kita. Memang sebagian besar badan kita hancur ketika, terkubur di dalam tanah selama bertahun-tahun. Akan tetapi, selalu masih ada yang tertinggal dan tidak hancur. Di antaranya adalah gigi, tulang, dan rambut. Maka, di dalam bagian tubuh yang tidak hancur itu, masih terdapat genome-genome yang membawa sifat asli dari tubuh yang mati itu.
Sehingga, sebenarnya tidak ada kesulitan yang berarti Allah membangkitkan manusia dari dalam kuburnya Sebab, seluruh cetak biru manusia tersebut telah tersimpan di dalam genetikanya. Berdasar gen gen itulah Allah mereplika tubuh manusia yang telah hancur ‘dimakan tanah’. Ini sama dengan proses tumbuhnya kembali biji Mangga Gadung yang saya uraikan di atas.
Nah, kombinasi dari dua rekonstruksi itu menjadi perpaduan yang lebih baik untuk menjelaskan proses kebangkitan.Yaitu, seluruh sifat dan. perbuatan manusia yang tersimpan di dalam tubuhnya, termasuk dalam genetikanya, akan menjadi acuan untuk mereplika / mengcopy kembali badannya. Sedangkan pemicunya muncul dari peristiwa berbalik arahnya gerakan alam semesta, sehingga hukum alamnya juga ikut terbalik.
Dengan demikian, kebangkitan itu bukan sekadar proses kehidupan yang berjalan terbalik. Melainkan ‘kelanjutan’ kehidupan, dari dunia berlanjut ke Akhirat. Kenapa demikian?
Sebab, kalau hanya berjalan terbalik, itu tidak memberikan konsekuensi terhadap pertanggung jawaban atas seluruh perbuatan manusia pada saat hidup di dunia. Peristiwa kebangkitan itu, lantas hanya menjadi sebuah peristiwa pengulangan mundur saja. Kalau di dunia beranjak dari bayi ke dewasa dan tua, maka di Akhirat nanti sebaliknya, beranjak dari tua menuju bayi. Tidak. Bukan demikian keadaannya.
Yang terjadi adalah : ‘waktu’ tetap berjalan ke depan, artinya bertambah terus dari 12 miliar ke 13, 14, dst. Tetapi hukum hukum energi dan entropinya berjalan terbalik.
Hal inilah yang bisa menjelaskan, bahwa drama kehidupan ini tetap berjalan ke arah depan. Bukan berbalik arah. Alam Akhirat, tetap saja adalah suatu periode sesudah Alam Dunia. Drama tetap berjalan ke arah depan menuju ending yang sesungguhnya. Akan tetapi, di periode Akhirat itu, hukum alamnya berjalan terbalik. Kita tidak bisa mati lagi, karena hukum alamnya memang tidak mengarahkan kita pada kematian. Justru pada kehidupan abadi. Sehingga, Allah berfirman sebagai berikut.
QS. Ad Dukhaan 56, “Mereka tidak merasakan mati di dalamnya kecuali mati di dunia. Dan Allah memelihara mereka dari azab Neraka.”
Bukan hanya itu, di Akhirat itu manusia juga tidak bisa merasa letih. Karena letih itu memang hukum Alam Dunia. Di sana justru terbalik, semakin lama kondisinya semakin segar.
Malahan, Allah menggambarkan orang-orang yang disiksa di Neraka itu badannya kembali pulih, mesidpun telah hancur oleh beratnya siksaan di sana. Kenapa demikian? Sekali lagi, karena hukum alamnya berjalan terbalik. Kondisi kita bukan bergerak menuju kehancuran, melainkan justru menuju pada keadaan yang lebih baik.

Dengan demikian, tidak ada keraguan sedikitpun, seharusnya untuk memahami peristiwa kebangkitan itu. Sehingga jangan sampai, nanti kita menjadi orang yang menyesal karena kecele. Kita mengira tidak akan ada kebangkitan itu, temyata teladi dengan sesungguhnya.
QS. Al An’aam 30, “Dan seandainya katnu melihat kefika mereka dihadapkan kepada Tuhannya. Berfirman Allah: Bukankah (kebangkitan) ini benar? Mereka menjawab : Sungguh benar, demi Tuhan kami. Berfirman Allah : Karena itu rasakan!ah azab ini dikarenakan kamu mengingkadnya”
ALAM BARZAKH
Alam Barzakh adalah Alam Kubur dimana manusia melakukan ‘penantian’ untuk dibangkitkan pada hari Kiamat. Jadi waktunya bisa berjalan jutaan tahun atau mungkin malah miliaran tahun. Sejak dia meninggal sampai Kiamat Sughra, dan kemudian dilanjutkan sampai hari Berbangkit.
QS. Al Mu’minun 99 – 100, “Hingga apabila datang kematian kepada sesoorang di antara mereka, dia berkata : Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia)”
“Agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding (barzakh) sampai mereka dibangkitkan.”
Yang menarik dari keberadaan alam Barzakh ini adalah waktunya. Banyak sekali ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa masa peralihan antara Alam Dunia dan Alam Akhirat itu terasa demikian singkat. Kebangkitan kita dari Alam Kubur itu diibaratkan orang tidur, yang kemudian dibangunkan. Dia tidak merasakan berapa lama tidur yang barusan dialaminya.
QS. Yasin 52, “Mereka berkata : Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkit-kan kami dari tempat tidur kami (kubur)?
QS. Al Israa 52, “Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhiNya sambil memujiNya dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja”
QS. Ar Ruum 55 – 56, “Dan pada hari terjadinya kiamat, bersumpahlah orang-orang yang berdosa : “mereka tidak berdiam (di dalam kubur) melainkan sesaat saja. ” Seperti demikianlah mereka selalu dipalingkan (dari kebenaran). ”
“Dan berkata orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan dan keimanan : sesungguhnya kamu telah berdiam (di dalam kubur) menurut ketetapan Allah, sampai hari berbangkit, maka inilah hari berbangkit itu, akan tetapi kamu selalu tidak meyakininya.
Kita memperoleh kesan terhadap ayat-ayat di atas, bahwa ketika berada di alam kubur itu manusia seperti tidak sadar sebagaimana ketika masih hidup. Sehingga ketika dibangkitkan, ya seperti orang yang terbangun dari tidurnya.
Sewaktu ditanyakan kepada mereka tentang lamanya tinggal di alam kubur itu, mereka tidak bisa menjawab dengan benar. Kata mereka, hanya sebentar saja. Dan Allah mengatakan, itu tidak benar. Karena mereka sebenarnya telah tinggal di alam kubur itu selama jutaan tahun atau bahkan miliaran.
Mereka tidak merasakan apa-apa. Seperti orang yang tidur atau pingsan. Bahkan di beberapa ayat lainnya, mereka dibuat terkejut oleh peristiwa kebangkitan itu.
QS. Ash Shaaffaat 20, “Dan mereka berkata Aduhai celakalah kita! Inilah Hari Pembalasan.”
QS. Thahaa 103 – 104, “Mereka berbisik-bisik di antara mereka : kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sepuluh (hari).”
“Kami lebih mengetahui apa yang mereka katakan, ketika berkata orang yang paling lurus jalannya di antara mereka kamu tidak berdiam (di dunia) melainkan hanya sehari saja.
Alam Barzakh adalah alam penantian jiwa yang akan dibangkitkan. Ketika seseorang mati, badannya hancur terurai menjadi unsur-unsur dalam tanah. Tetapi jiwanya ‘melayang’ memasuki Alam Barzakh. Sebuah alam yang memiliki dimensi berbeda dengan dunia manusia. Di sana kata Allah, ada dinding yang membatasi jiwa supaya tidak bisa kembali ke dunia.

Seorang manusia atau pun jin yang telah meninggal, jiwanya tetap hidup di Alam Barzakh. Kebanyakan kita tidak bisa melihatnya atau mendengamya lagi. Akan tetapi orang-orang tertentu bisa mengobservasinya. Secara umum, Allah mengatakan bahwa eksistensi mereka itu tertangkap secara samar-samar.
QS. Maryam 98, “Dan berapa banyak telah Kami binasakan umat-umat sebelum mereka. Adakah kamu melihat seorang dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?”
QS. Al Baqarah 154, “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur dijalan Allah, mati. Bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”
QS. Ali Imran 169, “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapatkan rezeki.”
Demikianlah, Allah memberi informasi kepada kita bahwa di sekitar kita ada alam Barzakh yang berisi jiwa-jiwa yang menanti kebangkitan. Mereka hidup di sana, meskipun kita tidak bisa mengobservasinya secara jelas. Kadang-kadang, ada di antara kita yang bisa menangkap keberadaannya, meskipun samar-samar saja, kata Allah.
Dan yang menarik, jiwa-jiwa itu ternyata memiliki ‘kesadaran’ yang berbeda dengan ketika hidup di dunia. Terbukti ketika dibangkitkan kelak, mereka terkejut. Tidak menyangka.
Antara orang tidur dengan orang terjaga. Keduanya memiliki ‘kesadaran’ yang berbeda. Orang tidur, sebenarnya memiliki ‘kesadaran’. Tetapi di alam tidurnya sendiri. Sehingga ia bisa bermimpi. Mengalami ‘kejadian’ di alam tidur itu. Mimpi, sesungguhnya adalah sebuah ‘kenyataan’ di Dunia Mimpi itu sendiri. Dan sebenarnya, juga memiliki korelasi atau hubungan tertentu dengan dunia kenyataan.
Sehingga, bagi orang yang memiliki kemampuan untuk menafsirkan mimpi, ia bisa tahu bahwa suatu mimpi, memiliki makna tertentu dalam kehidupan nyatanya. Kemampuan seperti itu diceritakan di dalam Al Qur’an dimiliki oleh nabi Yusuf as. Beliau bisa melihat korelasi antara mimpi dengan dunia nyata.
Jiwa di alam Barzakh suatu ketika akan kembali kepada badan masing-masing. Dan sebagian mereka yang tidak percaya pada hari Berbangkit akan dibuat terkejut saat itu. Mereka memperoleh kesadaran Kehidupannya kembali. Bahkan inderanya lebih tajam dibandingkan dengan ketika masih hidup di dunia, Mereka justru bisa mengobservasi banyak hal yang tidak bisa diobservasinya pada saat hidup di dunia.
DOSA DI DUNIA ‘LAHIR’ CACAT DI AKHIRAT
Seperti telah saya kemukakan di depan, bahwa kelahiran kita kembali pada Hari Berbangkit itu akan sangat dipengaruhi oleh perbuatan kita selama di dunia. Kalau kita banyak melakukan ‘kesalahan’ selama di dunia, maka kita akan ‘lahir kembali’ dalam keadaan cacat.
Ini mirip dengan kelahiran kita dari rahim ibu. Jika selama mengandung kita, ibu melakukan kesalahan’ tertentu misalnya salah minum obat, mengkonsumsi alkohol, dlsb, maka kelahiran kita akan mengalami masalah. Katakanlah ada yang terlahir dengan organ tubuh tidak lengkap. Ada yang bisu, ada yang tuli, buta, sumbing dan lain sebagainya.
Hal ini juga akan terjadi pada kita, saat dibangkitkan kembali. Perbedaannya adalah : kalau selama dalam rahim ibu, kualitas baik buruknya kelahiran kita dipengaruhi oleh tingkah laku ibu kita. Akan tetapi, untuk ‘kelahiran kembali’ nanti, kualitas itu ditentukan oleh perbuatan kita sendiri selama hidup di dunia.
Orang-orang yang banyak berbuat ’salah’, dia akan terlahir cacat ketika dibangkitkan nanti. Hal ini dijelaskan dalam berbagai ayat di dalam Al Qur’an. Terutama, kecacatan yang berkait dengan penglihatan, pendengaran, dan kemampuan bicara. Meskipun, pada saat hidup di dunia dia tidak seperti itu.

Dosa-dosanya telah menyebabkan terjadinya kecacatan tersebut. Dan itu, tentu saja, akan sangat menyengsarakan mereka ketika hidup di alam Akhirat nanti.
QS. Az Zalzalah 6, “Pada hari itu, manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan bermacam macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka.”
QS. Al Israa’ 97, “…dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan tuli. Tempat kediaman mereka adalah Neraka jahannam…”
QS. Al Mu’minuun 103 – 104, “Dan barangsiapa ringan timbangannya maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka jahannam.”
“Muka mereka dibakar api Neraka, dan mereka di dalam Neraka itu dalam keadaan cacat”
Ayat-ayat yang saya cuplikkan di atas memberikan gambaran yang sangat gamblang kepada kita tentang keadaan orang-orang yang dibangkitkan. Khususnya mereka yang memiliki banyak dosa. Atau dalam istilah ayat di atas, ringan timbangan amal kebaikannya.
Hal-hal tidak baik yang mereka jalankan sepanjang hidupnya ternyata memberikan pengaruh negatif yang besar bagi ‘kelahirannya kembali’. Itu merugikan diri mereka sendiri, kata Allah. Sama dengan yang terjadi pada orang hamil di atas.
Karena itu kita harus sangat berhati-hati pada saat hidup di dunia ini. Jangan ‘makan’ sembarangan, dan jangan ‘berbuat’ sembarangan yang menyebabkan problem dalam kehidupan berikutnya. Karena, ternyata segala apa yang kita perbuat itu langsung berimbas pada kualitas kehidupan kita nanti.
Yang harus dilakukan adalah menjalani hidup ’sehat’ sesuai dengan tuntunan Ahli Kehidupan, yaitu Allah dan rasulNya. Insya Allah kelahiran kita yang kedua nanti akan ’sehat’ dan selamat.
QS. Al Israa 72, “Dan barangsiapa buta (hati) di dunia ini, maka ia akan buta di Akhirat nanti, dan lebih sesat lagi jalannya.”
QS. Thahaa 124 – 125, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu maka sesungguhnya baginya adalah penghidupan yang sempit Dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
“Berkatalah ia : Ya Tuhanku, mengapa Engkau himpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah orang yang melihat ”
QS. Hajj 46, “. . . Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
QS. An Naml 66, “Sebenarnya pengetahuan mereka tentang Akhirat tidak sampai malahan mereka ragu-ragu tentang Akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka itu buta daripadanya.”
Ayat-ayat di atas memberikan penegasan dan penjelasan lebih lanjut kepada kita. Bahwa indera yang akan dominan kita gunakan dalam kehidupan Akhirat nanti adalah hati. Bukan mata. Kenapa demikian? Karena ‘mata fisik’ kita ini sangatlah terbatas kernampuannya.
Mata kita tidak bisa digunakan untuk melihat jin yang hidup di langit kedua. Mata kita juga tidak bisa digunakan untuk melihat arwah yang ‘hidup’ di langit ke tiga sampai ke enam. Mata kita juga tidak bisa digunakan untuk melihat malaikat yang hidup di langit ke tujuh. Mata kita juga tidak mampu untuk melihat Surga dan Neraka, apalagi melihat Allah Azza wa Jalla. Semua itu hanya bisa kita ‘lihat’ dengan ‘mata batin’, yaitu Hati.
Karena itu, kalau hati kita tidak kita latih selama berada di dunia, maka hati kita akan buta ketika berada di Akhirat nanti. Kita akan tersesat-sesat sebagaimana digambarkan oleh ayat di atas.
Ayat-ayat tersebut dengan sangat jelas memberikan gambaran itu. Bahwa, orang yang dulunya bisa melihat di dunia, ternyata mereka buta di Akhirat. Kenapa bisa buta, sebab dia tidak pernah melatih mata hatinya lewat ibadah-ibadah yang diajarkan Rasulullah Muhammad saw. Seluruh ibadah yang beliau ajarkan itu sebenarnya untuk melatih indera ke enam kita, yaitu Hati.

Shalat kita, puasa kita, haji, dzikir, zakat, dan lain sebagainya adalah upaya-upaya untuk melembutkan hati dan melatih kepekaan hati seorang manusia. Kalau kita tidak pernah melatihnya, maka jangan heran jika nanti kita akan Iahir kembali’ di Akhirat dalam keadaan buta.
Dalam QS Al hajj : 46, Allah mengatakan dengan jelas, bahwa bukan matanya yang buta melainkan hati yang di dalam dada. Dan kemudian ditegaskan lagi dalam QS. An Naml : 66, bahwa kebutaan itu dikarenakan pengetahuan mereka tentang Ahirat yang kurang cukup, bahkan ragu-ragu serta. buta tentangnya.
Ini sama dengan seorang ibu yang tidak paham tentang kondisi kelahiran bayinya, lantas berbuat semau-maunya pada saat hamil. Efeknya bisa fatal buat bayi yang akan dilahirkannya.
Sama, kita harus paham tentang Hari Kebangkitan, supaya kita tidak mengalami kondisi yang fatal saat ‘kelahiran kembali’ itu terjadi. Semua itu harus sudah kita persiapkan sejak dini, ketika kita masih hidup di dunia. Jika tidak, sungguh kita akan menyesal dibuatnya.
REKAMAN PERBUATAN DAN PENGADILAN AKHIRAT
Setelah dibangkitkan, maka manusia akan mengalami masa pengadilan. Seluruh perbuatan kita pada saat hidup di dunia akan ‘diputar’ kembali di hadapan kita. Yang menjadi pertanyaan adalah : bagaimanakah proses pengadilan itu berlangsung? Apakah seperti pengadilan di dunia ini? Dan bagaimana pula mekanisme ‘pemutaran film dokumenter atas seluruh perbuatan kita itu? Di bawah ini saya mencoba melakukan rekonstruksi terhadap berbagai penjelasan Allah di dalam Al Qur’an.
Allah Merekam Seluruh Kejadian
Berbicara tentang rekaman kejadian, saya jadi teringat kepada seorang kakak saya dan seorang kawan. Keduanya pernah ‘melihat’ hasil rekaman kejadian tersebut.
Suatu ketika, kakak saya pulang dari mengajar. la seorang dosen di sebuah perguruan tinggi di Malang. Waktu itu, menjelang maghrib, dan hujan rintik-rintik.
Ketika melewati sebuah gedung penjara di daerah Lowok Waru, wiper (karet pembersih kaca) mobilnya tiba-tiba terlepas dari tangkainya dan jatuh tercecer. Maka ia menghentikan mobil. Dan lantas, berjalan mencari wiper yang jatuh itu.
Saat sedang ‘asyik’ mencari wiper, tiba-tiba ia dikagetkan oleh sebuah kecelakaan yang terjadi sangat dekat dengan dia berada. Ada sebuah sepeda motor yang dinaiki oleh laki laki dan perempuan ditabrak sebuah mobil kijang berwarna putih. Tabrakan itu demikian kerasnya, sehingga pengendara sepeda motor terpelanting dan jatuh ke aspal bersimbah darah. Agaknya mereka meninggal dunia.
Maka, macetlah lalu lintas di daerah itu. Kakak saya termasuk orang yang sibuk menghentikan berbagai kendaraan yang berdatangan di belakang kejadian itu.
Tak berapa lama kemudian, ia minggir menuju mobilnya. la ingin menenangkan diri. Sebab, tidak menyangka, ia bakal menyaksikan kecelakan yang mengerikan tersebut.
Sejurus kemudian, ia menoleh kembali ke lokasi terjadinya kecelakaan. la berharap orang-orang yang berkerumun disana bisa mengurusi dan menyelesaikan peristiwa itu. Tetapi ia sangat heran, sebab kerumunan orang yang demikian banyak itu ternyata sudah tidak ada. Tentu saja ia tolah-toleh. Tetapi, tetap saja suasananya sepi, seperti tidak pernah terjadi apa-apa.
la penasaran. Maka dicarilah orang di sekitar situ untuk bertanya. Diketemukannya seorang lelaki tua penjual rokok. Didekatinya orang itu. Lantas, ia bertanya kemanakah orang-orang yang berkerumun tadi pergi. Dan korban kecelakaan itu pun dibawa kemana. Jawaban Pak Tua itu justru membuatnya semakin bingung. Penjual rokok mengatakan bahwa dari tadi ia tidak melihat ada kecelakaan seperti yang diceritakan. Apalagi kerumunan orang…?!! Dalam keheranan dan kebingungannya, kakak saya memutuskan untuk pulang.
Esok harinya, ketika mengajar, dia bercerita tentang kejadian aneh yang dialaminya semalam kepada mahasiswanya. Dan, kebetulan di kelas itu ada seorang mahasiswa yang bertempat tinggal di daerah Lowok Waru, tempat kecelakaan itu berlangsung. Apa yang dikatakan oleh mahasiswa tersebut sungguh membuat kakak saya ‘merinding’. Ternyata, kecelakaan yang disaksikannya semalam adalah kejadian 11 tahun sebelumnya! Si Mahasiswa tahu peristiwa itu karena rumahnya memang berada di dekat tempat kejadian. Begitulah, sebuah motor ditabrak oleh kijang putih. Dan korbannya 2 orang, lelaki perempuan meninggal dunia. Persis seperti yang disaksikannya. la telah menyaksikan rekaman alam..!
Kejadian yang kedua dialami oleh seorang kawan. Ia adalah seorang tourguide alias pemandu wisata. Suatu kali, dia. membawa sepasang turis bule ke Candi Kidal, di Malang selatan. Saat berada di kawasan candi itu, ia banyak bercerita tentang sejarah candi kepada sepasang turis manca tersebut.
Saat asyik bercerita, ia mendapati si lelaki bule seperti orang yang termenung, seakan-akan tidak mendengar cerita yang ia sampaikan. Maka, ia menegur lelaki itu. Bahkan kemudian menepuk pundaknya.
la bertanya kepadanya, kenapa ia termenung saat dijelaskan sejarah Candi Kidal. Dan jawaban turis itu agak mengagetkan kawan saya. Si Bule mengatakan bahwa sambil mendengarkan cerita dari pemandu wisata, dia seperti melihat detil bangunan-bangunan candi dan berbagai aktivitas di seputar candi tersebut. la melihat orang-orang sedang memperbaiki bagian-bagian Candi. Ada yang bersembahyangan. Ada juga perempuan-perempuan yang berdatangan sambil membawa sesaji di atas kepalanya.
Kawan saya jadi merinding mendengarkan cerita turis itu. Kemudian, ia mencari ‘Juru Kunci’ alias si penjaga candi. la bertanya, apakah candi tersebut memang memiliki bagian-bagian bangunan seperti yang diceritakan oleh si turis. Ternyala kata si Juru Kunci, memang dulu candi tersebut memiliki patung-patung, dan bagian lain seperti yang ‘dilihat’ dan diceritakan oleh si turis. Tapi, seiring dengan waktu, bagian itu telah mengalami kerusakan
Dua cerita yang saya sampaikan di atas adalah kejadian sesungguhnya. Bahwa, suatu ketika, ternyata kita bisa melihat peristiwa peristiwa yang telah terjadi di masa lampau. Bagaimanakah hal itu bisa dijelaskan? Di bagian-bagian berikut ini pembaca akan saya ajak untuk memahami, betapa alam semesta memang memiliki kemampuan merekam seluruh peristiwa yang terjadi di dalamnya.
Manusia memancarkan Gelombang.
Setiap kita ternyata adalah pemancar. Seluruh aktivitas yang kita lakukan selalu memancarkan gelombang dan energi. Baik itu berupa perbuatan, suara, maupun sekadar pikiran atau perkataan dalam hati.
‘Perbuatan’ selalu memantul-mantulkan cahaya yang kemudian bisa ditangkap oleh orang lain lewat matanya. Cahaya adalah gelombang yang memancarkan energi dan bisa direkam. Baik oleh otak kita maupun oleh kamera perekam.
Demikian pula suara. la adalah gelombang yang dipancarkan akibat pita suara bergetar. Dan pancaran gelombang itu menghasilkan energi yang bisa direkam oleh otak kita lewat telinga ataupun oleh alat perekam elektronik digital maupun analog.
Termasuk pula pikiran. Setiap kali kita berpikir dan berkata-kata dalam hati, maka kita juga memancarkan gelombang dan energi yang bisa direkam. Penelitian di berbagai negara maju, termasuk di Rusia, mendapati bahwa ketika seseorang berpikir atau bertelepati (berkomunikasi dengan menggunakan hati) ternyata ota.knya selalu memancar-mancarkan gelombang elektromagnetik. Dan getaran-getaran itu bisa direkam dengan menggunakan alat perekam gelombang otak, misalnya EEG (Electric Encephalo Graph).
Maka, apalagi yang kita ragukan. Seluruh perbuatan manusia ternyata selalu memancarkan gelombang dan getaran-getaran elektromagnetik. Baik itu suara dari mulut, perbuatan sehari-hari maupun niatan atau pikiran di dalam benak dan hati kita. Seluruhnya gelombang yang bisa direkam. Maka Allah mengatakan di dalam Al Qur’an bahwa setiap manusia selalu diikuti oleh ‘petugas’ yang merekam seluruh perbuatannya, sepanjang hidupnya.
QS. Ar Ra’d 11, “Bagi manusia ada (malaikat-malaikat) yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaga atas perintah Allah…”
Merekalah yang bertugas untuk merekam seluruh perbuatan manusia. Baik itu yang berupa suara, perbuatan, maupun berupa bisikan bisikan dalam hati atau yang masih berada dalam pikiran.
Saya teringat ketika mengaji semasa kecil. Ustadz mengatakan bahwa setiap kita dijaga oleh 2 orang malaikat, yaitu Raqib dan Atid. Raqib duduk di sebelah kanan, tugasnya adalah mencatat kebaikan. Sedangkan, Atid duduk di sebelah kiri, tugasnya mencatat keburukan atau kejahatan apa pun yang kita lakukan. Barangkali, ustadz saya itu mengambil pemahamannya dari ayat berikut ini.
QS. Qaaf 16 – 18, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”
“Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan, dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Di ayat tersebut, memang dikatakan bahwa ada dua ‘petugas’ yang mencatat. Satu duduk di sebelah kanan, satunya di sebelah kiri. Mereka adalah pengawas yang selalu hadir (raqiibun ‘atiid). Tetapi di QS. Ar Ra’d : 10 dikatakan bahwa para malaikat itu selalu mengikuti manusia secara bergiliran di muka dan di belakang. Jadi, pemahamannya menjadi lebih umum, bahwa pada prinsipnya di sekitar kita selalu ada pengawas. Kadang di muka, kadang di belakang, kadang di kanan maupun di kiri.
Tetapi, tentu janganlah kita membayangkan mereka duduk di pundak kita sambil membawa kertas dan pensil atau ballpoint untuk mencatat segala perbuatan kita. Pemahaman yang demikian tentu terlalu merendahkan kemampuan malaikat
Kita tahu malaikat adalah makhluk ‘canggih’ yang badannya terbuat dari cahaya. Karena itu, ia memiliki badan yang sangat ringan, yang bisa melesat dengan kecepatan sangat tinggi. Telah saya uraikan di bagian depan, bahwa malaikat bisa mengelilingi Bumi sebanyak delapan kali dalam waktu 1 detik. Dan kecepatannya bisa berubah-ubah sesuai yang dikehendaki sebagaimana disimbolkan di ayat bawah ini dengan jumlah ’sayapnya’.
QS. Faathir 1, “Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan Bumi yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang bersayap dua-dua, tiga-tiga, empat empat. Allah menambah apa yang Dia kehendaki tentang ciptaanNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Malaikat merekam perbuatan kita dengan sangat canggih. Adalah sangat naif, kalau kita membayangkan malaikat mencatat segala perbuatan kita menggunakan alat-alat tradisional seperti di atas. manusia modern telah menggunakan alat-alat yang canggih seperti kamera digital, dan teknologi berbasis cahaya.
Tentu Allah dan malaikatNya memiliki teknologi yang jauh lebih canggih dari itu semua. Dan perangkat teknologi untuk perekaman itu sudah dipasang di sekitar kita oleh Allah swt. Kenyataan menunjukkan, bahwa manusia direkam oleh Allah lewat 3 mekanisme, yaitu :
1. Rekaman memori otak
2. Rekaman genetika
3. Rekaman struktur alam semesta
Rekaman Memori Otak

Kita semua mengetahui bahwa otak kita bisa merekam perbuatan kita. Ia bekerja sebagai ingatan. Setiap kita melakukan aktivitas, maka otak kita akan merekamnya. Perbuatan yang kita lakukan itu akan menimbulkan kesan lewat panca indera, dan kemudian diteruskan ke otak, dan lantas disimpan sebagai memori.
Misalkan, kita berbuat menyakiti seseorang. Tentu, orang tersebut akan memberikan reaksi. Reaksi itulah yang kita tangkap lewat panca indera. Baik lewat pendengaran, lewat penglihatan, maupun lewat indera yang lainnya.
Reaksi itu akan kita tangkap sebagai gelombang yang menggetarkan sensor di panca indera kita, lantas diteruskan sebagai pulsa-pulsa listrik lewat jaringan saraf menuju otak. Di otak, reaksi tersebut akan disimpan sebagai tegangan listrik tertentu, yang disebut memori.
Kerja otak sangatlah kompleks, dimana manusia belum sepenuhnya memahami. Akan tetapi secara umum, kita tahu bahwa ternyata mekanismenya dalam bentuk pulsa-pulsa listrik.
Kita jadi teringat pada mekanisme kerja sebuah komputer. Akan tetapi kecanggihan otak kita berjuta-juta kali lipat dibandingkan kemampuan komputer, yang tercanggih sekali pun.
Maka, setiap kali kita berbuat, sebenarnya kita sama saja dengan menginput data ke dalam memori otak kita. Hanya saja, rekaman yang dibuat oleh memori otak tersebut adalah data sekunder.
Kenapa saya sebut data sekunder? Sebab yang direkam dalam memori tersebut adalah ‘reaksi’ dari sekitar kita terhadap apa yang kita lakukan. Bukan ‘perbuatan’ itu sendiri. Dan, memori itu bersifat tidak langsung, karena sinyal-sinyal yang masuk tersebut harus melewati panca indera terlebih dahulu. Padahal panca indera kita memiliki distorsi (penyimpangan) yang besar terhadap kenyataan. Sebagai contoh, kalau kita melihat sebuah gunung berwarna biru, sebenarnya gunung itu tidaklah berwarna biru. la berwarna hijau, karena memiliki banyak pepohonan. Begitu juga ketika kita melihat rel kereta api, semakin jauh kelihatan semakin menyempit dan pada suatu titik akhirnya bersatu. Padahal keadaan yang sebenarnya tidaklah demikian. Demikian pula, ketika kita melihat bintang di langit terkesan berukuran sangat kecil dan berkedip-kedip. Padahal sesungguhnya bintang adalah benda langit yang sangat besar dan tidak berkedip. Kita mendengar suara klakson mobil yang sedang berjalan, seakan akan berubah dari pelan menjadi keras. Padahal, sesungguhnya suara tersebut sama kerasnya. Dan lain sebagainya. Dan lain sebagainya.
Pada prinsipnya, segala pemahaman yang melewati panca indera kita adalah sebuah ‘kebohongan’ alias penyimpangan dari kenyataan yang sesungguhnya. Tetapi itu tetap kita perlukan untuk kelangsungan hidup kita. Karena itu, rekaman yang terjadi di memori kita juga sifatnya terdistorsi. Akan tetapi itu telah membantu kita untuk mengingat masa lampau. Naum demikian, rekaman ini bersifat jangka pendek, ketika kita hidup di dunia, maupun sampai di Akhirat nanti.
Secara struktur, memori otak kita dibagi menjadi tiga bagian, yaitu memori yang sedang berlangsung (Working Memory), memori jangka panjang (Long Term memory), dan memori yang berkait dengan ketrampilan (Skill Memory).
Working memory adalah memori yang berkait dengan apa yang sedang terjadi dan dialami seseorang. Biasanya terkait langsung dengan penglihatan, pendengaran dan perasaan. Bagian ini terletak di permukaan otak sebelah depan yang disebut sebagai Pre Front Cortex.
Long Term Memory berfungsi untuk mengingat hal-hal yang berkait dengan pengalaman sesesorang dalam memahami kenyataan hidup. Bagian ini terletak di Otak sebelah dalam.
Sedangkan Skill memory terdapat di Otak bagian belakang yang disebut Cerebelum. Fungsinya terkait dengan ketrampilan seseorang. Karena itu, ia berhubungan dengan organ-organ motorik, seperti kaki dan tangan.

Rekaman Genetika

Mekanisme yang kedua adalah rekaman lewat genetika. Seperti telah saya jelaskan di depan bahwa manusia memiliki ‘mata rantai’ pembawa sifat di dalam sel-sel tubuhnya, yang disebut Gen. Pembawa sifat tersebut diperkirakan berjumlah sekitar 31.000 gen yang tersebar di seantero sel di tubuh kita.
Tugas utama genetika ini sebenarnya untuk menjaga garis keturunan seseorang. Dengan adanya gen-gen ini maka sifat-sifat seseorang akan diwariskan secara turun temurun kepada anak-anaknya, kepada cucunya, kepada cicitnya dan seterusnya. Tentu, keturunan tersebut hanya menerima warisan sebanyak separo dari bapaknya, dan separo lagi dari ibunya.
Akan tetapi, kini mulai muncul gejala-gejala dalam penelitian bahwa gen-gen tersebut bisa dipengaruhi dari luar. Baik yang berupa pengalaman hidup seseorang yang sangat ekstrem maupun oleh rekayasa tertentu lewat kegiatan biomolekuler.
Ada seseorang yang dulunya sangat pemarah, kasar dan memiliki tingkat emosi tinggi; tetapi karena mengalami suatu kejadian yang sangat berkesan dalam hidupnya, dia bisa berubah menjadi seorang yang penyabar.
Hal ini, kalau kita tinjau dari sisi biomolekuler, ternyata terjadi karena adanya pergeseran peran salah satu jenis gen (MOA) di dalam tubuhnya. Dan. kondisi yang demikian nantinya akan diwariskan kepada anak turunnya. Berarti, pergeseran sifat tersebut berpengaruh juga pada susunan genetikanya. Dan tentu ini akan dibawanya sampai mati, dan kemudian menjadi ‘acuan’ ketika dia dibangkitkan kelak.
Selain itu, tentu saja, adalah perubahan- perubahan yang dilakukan secara rekaya genetika. Perkembangan ilmu rekayasa genetika ini sangat pesat pada dekade terakhir. Seorang ahli biomolekuler bisa mengubah ubah sifat-sifat permanen yang dimiliki oleh makhluk hidup tertentu. Kebanyakan telah dilakukan pada tumbuhan dan hewan, seperti pada padi, kedelai, tembakau dan lain lain yang disebut sebagai tanaman Transgenik. Atau juga pada hewan percobaan seperti yang talah dilakukan pada domba Dolly, dengan proyek cloning.
Akan tetapi, kini telah dilakukan berbagai pada manusia, agar bisa merekayasa gen-gennya. Kebanyakan untuk tujuan kesehatan. Misalnya untu pengobatan kanker. Sebab telah ditemukan gejala, bahwa
kanker itu sebenarnya dipicu dari gen seseorang. Karena itu sulit diobati. Benjolannya sudah dipotong lewat sebuah operasi, ternyata masih tumbuh juga. Ini karena, pertumbuhan benjolan tak terkendali itu ‘diperintahkan’ dari susunan genetikanya.
Maka, kini muncul usaha-usaha untuk menghentikan ‘perintah’ itu lewat rekayasa genetika. Susunan gen-gennya dipengaruhi dari luar, sehingga gen yang memerintahkan pertumbuhan tak terkendali itu berubah menjadi ‘jinak’. Tidak liar lagi. Dan itu, akan terekam terus sampai diturunkan kepada anak cucunya.
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa genetika kita ternyata menjadi salah satu media perekam atas segala perbuatan yang kita lakukan. Namun, tugas utama bukan untuk merekam seluruh perbuatan kita, melainkan untuk menjaga ‘garis sifat’ dari seseorang kepada anak cucunya. Dan kemudian, kelak, akan berperan sebagai ‘acuan’ untuk kebangkitan seseorang pada Hari Kiamat.
Jika tidak ada perekam sifat ini, maka ‘kelahiran kembali’ kita di Akhirat kelak menjadi kacau. Sifat-sifat yang kita miliki bisa tertukar dengan manusia lain, atau bahkan makhluk lain yang sama-sama berbahan dasar DNA atau protein jasmani seperti kita. Allah telah menciptakan sistem genetika untuk ‘menjaga’ garis sifat seseorang, sebagaimana Dia firmankan berikut ini.
QS. Qaaf (50) : 4 - 5
“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat).”
“Sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.”
Kondisi ‘kacau balau’ pada saat berbangkit itu ternyata benar benar terjadi. Dan hal itu digambarkan oleh Allah sebagaimana di atas, disebabkan oleh dosa-dosa, yang kita lakukan. Itulah yang saya sebutkan sebagai terlahir kembali dalam keadaan cacat: buta, bisu, tuli dan lain sebagainya.

Rekaman Alam Semesta

Mekanisme rekaman yang ketiga adalah oleh alam semesta. Allah membuat struktur yang sangat unik di alam semesta ini, sehingga secara otomatis seluruh perbuatan kita direkam olehnya.
Struktur alam semesta ini sepenuhnya tersusun dari materi dan energi. Materi adalah benda-benda yang tampak, sedangkan energi adalah ‘kualitas’ yang muncul disebabkan oleh keberadaan benda-benda itu. Jadi setiap benda akan memunculkan energi, karena energi tidak bisa dipisahkan dari keberadaan benda. ‘Kualitas’ itu bisa muncul sebagai kualitas Panas, Dingin, Daya Tarikan (kemagnetan & gravitasi),
Kelistrikan, Kimiawi, Gerakan (mekanik), dan Nuklir, Keberadaan benda dan energi bisa diibaratkan sebagai sebuah timbangan. Jika, kebendaannya muncul dominan, maka energinya akan muncul lemah. Tetapi ia tersimpan sebagai potensi saja. Sebaliknya kalau energinya dominan, maka kebendaannya akan melemah.
Sebagai contoh adalah kayu. Kayu memiliki sosok kebendaan yang dominan, maka energinya rendah. tetapi kalau kayu itu kita bakar maka sosok kebendaannya akan melemah, yang muncul adalah energi panas.
Dan yang unik, energi satu dengan yang lainnya itu bisa saling berubah. Energi listrik bisa berubah menjadi energi, panas, misalnya setrika listrik. Energi listrik juga bisa berubah menjadi energi gerak, misalnya kipas angin. Atau menjadi energi cahaya pada lampu, dan lain sebagainya. Sebaliknya energi listrik juga bisa berasal dari energi panas Bumi, dari panas batu bara, minyak dan nuklir. Juga bisa berasal dari gerakan-gerakan putaran dinamo, dan lain sebagainya.
Saya, sebenarnya, hanya ingin menunjukkan bahwa alam semesta ini sesungguhnya tersusun dari materi (benda) dan energi. Dimana di situ tidak ada benda, masih tetap ada energi. Sehingga di ruangan yang kosong sekalipun, sebenarnya di situ tetap ada energi yang ‘berkeliaran’. Artinya, kesimpulannya adalah tidak ada satu ruang kosong pun di alam semesta ini. Kalau tidak ada benda pasti ada energi. Atau malah justru ada kedua-duanya .
Pemahaman ini penting untuk menjelaskan proses rekaman alam yang dilakukan oleh Allah dan malaikatNya kepada setiap manusia. Di mana pun kita berada, sebenarnya kita tidak pernah sendirian. Kita selalu dikelilingi oleh benda atau pun ‘lautan energi’. Kita tenggelam di ‘lautan energi’ itu. Hanya saja, karena energi tersebut tidak kelihatan, maka kita menganggapnya tidak ada. Padahal ia selalu ada di sekitar kita, kemana pun kita pergi.
Dan karena kita selalu memancarkan energi, maka setiap tingkah laku kita selalu memberikan perubahan kepada ‘lautan energi’ yang melingkupi kita. Sesedikit apa pun perubahan yang kita berikan, maka akan tedadi perubahan susunan struktur energi lingkungan kita.
Dan perubahan itu selalu memberikan dua akibat perubahan positip atau perubahan negatip. Kebaikan akan menimbulkan perubahan positip, sedangkan kejahatan akan menimbukan perubahan negatip. Itulah yang dijelaskan oleh Allah di dalam firmanNya.
QS. Qaaf (50): 16 - 18
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, yang satu duduk di sebelah kanan, dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”
Coba lihat, betapa Allah mengatakan bahwa Dia lebih dekat kepada kita dari urat leher kita. Ya, karena energiNya memang telah meliputi kita. Kita ini sebenarnya ‘terendam’ di dalamNya. Energi Allah lah yang menggerakkan jantung kita sehingga terus berdenyut. Energi Allah lah yang menggerak paru- paru kita sehingga terus-menerus menyerap oksigen dari atmosfer. Energi Allah jugalah yang menggerakkan pulsa-pulsa listrik di dalam otak kita, sehingga kita bisa terus berpikir di dalam kesadaran. Dan energi Allah itulah yang menggerakkan seluruh potensi kehidupan kita. SUNGGUH KITA INI ‘TERENDAM’ DI DALAM ALLAH.
“Lautan Energi’ Allah telah meliputi kita, dalam setiap ucapannya, dan siapa yang berterus terang dengan langkah kehidupan kita. Dalam setiap tarikan nafas dan denyut jantung kita. Dalam seluruh pikiran dan gerak kehidupan kita. Maka, sangat benarlah adanya, ketika Dia mengucapkan :
AKU LEBIH DEKAT KEPADAMU DARIPADA URAT LEHERMU.
Kalau sudah demikian adanya, bagaimana kita bersembunyi dan Allah. Tidak ada peluang sedikitpun untuk, bersembunyi dari padaNya. Allah mengatakan pada ayat berikutnya, bahwa ada dua unsur energi yang selalu mengikuti kita, yaitu unsur positip dan unsur negatip. Yang mencatat perbuatan baik dan jahat.
Sekali lagi, seluruh perbuatan kita itu akan menyebabkan perubahan otomatis terhadap struktur alam yang melingkupi kita. Positip maupun negatip. Cara kejanya, di satu sisi, seperti proses rekaman pada lempengan laser disc atau VCD dan DVD, yaitu memberikan ‘noktah-noktah’ penandaan di atas disc. Di lain sisi, mempengaruhi ‘langit positip dan langit negatip’, yaitu Surga dan Neraka.

Hanya saja bedanya, rekaman laser menggunakan lempeng perekam (disc), sedangkan pada rekaman alam semesta ini ‘lempengannya’ berupa struktur energi di sekitar kita. Maka, karena media rekaman itu selalu ada bersama kita, tidak ada satu pun tingkah laku kita yang tidak terekam. Persis seperti diucapkan oleh Allah dalam ayat tersebut di atas : “Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya (malaikat) pengawas yang selalu hadir.”
QS. Ar Ra’d (13) : 10
“Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.”
Di dalam ayat yang lain Allah menyebut struktur energi alam semesta itu sebagai ‘buku amalan’. Dan buku amalan kita itu selalu dalam keadaan terbuka. Kapan pun, sejak dulu sampai saat diberikan kepada kita di hari kiamat nanti. Maka Allah mengatakan :
QS. Al Israa (17) : 13
“Dan tiap tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.”
Kehidupan manusia adalah sebuah drama. Sebagaimana kita membaca buku- buku cerita. Kita buka halaman demi halaman untuk mengikuti runtut ceritanya. Maka, seluruh kejadian dalam hidup kita itu sebenarnya berada di dalam lembaran-lembaran kehidupan. Dan, lembaran-lembaran itu terpampang secara terbuka di hadapan kita sejak lahir sampai nanti kita mati, kemudian dibangkitkan kembali; pada hari kiamat. Cerita hidup ini tersimpan dalam bentuk ’struktur energi’ Alam Semesta.
Di ayat yang lain lagi, Allah mengatakan bahwa seluruh kejadian di alam semesta ini sebenarnya telah tercatat di dalam Kitab yang Nyata (fii kitaabin mubiin), baik yang ghaib maupun tidak.
QS. An naml (27) : 74 - 75
“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengetahui apa yang disembunyikan hati mereka dan apa yang mereka nyatakan.” “Tidak sesuatu pun yang ghab di langit dan di Bumi, melainkan dalam kitab yang nyata.”
Inilah yang dimaksud olehNya: bahwa seluruh alam semesta ini memang bagaikan sebuah kitab atas segala kenyataan yang terjadi di dalamnya. Setiap kejadian adalah sebuah drama yang kisahnya tercatat di dalam ‘Kitab’, yaitu di dalam struktur Alam Semesta itu sendiri. Bahwa ghaib itu pun sebenarnya adalah sebuah kenyataan, yang kebetulan kita tidak bisa melihatnya.
Karena itu, Dia mengatakan bahwa pada hari kiamat nanti Allah akan menggulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. Setiap langit memiliki struktur tertentu yang bertugas untuk mencatat segala kejadian. Mulai dari langit pertama sampai langit yang ketujuh.
QS. Al Anbiyaa’ (21) : 104
“Yaitu pada hari Kami gulung langit sebagai menggulung lembaran lembaran kertas. Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati, sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakan.”
Setiap langit, memang memiliki struktur yang berbeda. Akan tetapi langit yang lebih rendah termuat oleh langit yang lebih tinggi. Langit ketujuh adalah yang paling besar, dia memuat langit yang ke enam. Sedangkan langit ke enam memuat langit ke lima. Langit ke lima memuat langit ke empat, memuat langit ke tiga, kedua dan pertama, secara bertingkat-tingkat.
Karena langit pertama dimuat oleh langit-langit yang lebih tinggi, maka seluruh kejadian yang terjadi di langit pertama sebenarnya juga ‘terasa’ dan direkam oleh langit ke dua sampai ke tujuh.
Sehingga, meskipun kita berbuat dosa di langit pertama, efek perbuatan kita itu sebenarnya langsung mengimbas sampai ke langit yang ke tujuh. Artinya, Neraka dan Surga itu sebenarnya telah ‘tahu’ dan ‘merekam’ seluruh perbuatan kita sejak dini. Tidak usah menunggu sampai hari Kiamat pun mereka sebenarnya sudah tahu siapa yang bakal masuk Neraka dan menghuni Surga.
Karena itu, masuknya seseorang ke Neraka atau ke Surga sesungguhnya adalah sekadar ‘konsekuensi’ dari rekaman itu. Hanya saja, untuk pembuktian atas kesalahan dan kebaikan seseorang, Allah tetap akan menggelar pengadilan tersebut di Padang Makhsyar saat kiamat nanti.

REKAMAN ITU DIPUTAR KEMBALI

Bagaimanakah rekaman alam semesta itu diputar kembali? Ada dua faktor yang berperanan ketika rekaman itu diputar kembali.Yang pertama, Allah memperkuat kemampuan Indera kita. Dan yang kedua, Allah merubah struktur alam sehingga rekaman tersebut bisa terbaca oleh manusia.
1. Indera Kita Dipertajam.
Rekaman seluruh perbuatan kita ditempatkan di struktur alam semesta oleh Allah. Karena itu, pada saat pemutaran kembali tidak diperlukan peralatan tertentu untuk memainkannya. Yang diperlukan adalah meningkatkan kemampuan manusia untuk melihat rekaman tersebut. Baik berupa pendengaran, penglihatan, maupun ingatan.
Dan ternyata, pada saat kita dibangkitkan nanti Allah telah memperkuat kemampuan kita itu, sebagaimana diterangkan di beberapa ayat al Quran.
QS. Al Furqan (25) : 22
“Pada hari mereka melihat malaikat, di hari itu tidak ada kabar gembira bagi orang-orang yang berdosa dan mereka berkata : hijraan mahjuura”
Ayat di atas menjelaskan bahwa kita kelak bisa melihat malaikat. Padahal sekarang kita tidak bisa melihatnya Karena malaikat adalah makhluk dimensi 9 di langit yang ke tujuh. Sedangkan manusia adalah makhluk berdimensi 3 di langit yang pertama.
Penglihatan manusia selama di dunia ini sangatlah terbatas. Dari segi frekuensi, penglihatan kita dibatasi oleh Allah pada frekuensi 10 pangkat 14 Hertz. Di atas itu tidak tertangkap oleh penglihatan kita. Demikian pula frekuensi di bawah itu.
Dan, intensitas cahaya serta ukuran benda pun dibatasi oleh Allah. Jika intensitas cahayanya terlalu lemah, mata kita juga tidak bisa melihatnya. Misalnya di kegelapan malam. Begitu pula jika benda itu terlalu kecil, mata kita tidak bisa malihatnya. Misalnya, Atom dan molekul. Sebaliknya kalau terlalu besar, juga tidak bisa terlihat secara utuh. Pun, jika bendanya terlalu jauh atau terlalu dekat. Pendek kata, mata kita memiliki keterbatasan yang sangat besar.
Namun, pada saat kebangkitan nanti, kemampuan penglihatan dan pendengaran kita ditingkatkan oleh Allah. Hal-hal yang selama ini tidak bisa kita lihat dan kita dengar tiba-tiba menjadi bisa terlihat dan terdengar. Tentu saja, itu mengagetkan orang-orang yang dibangkitkan waktu itu. Mereka tidak menduga bisa menjadi seperti itu.
QS. Maryam (19) : 38
“Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang orang yang zalim pada hari ini berada dalam kesesatan yang nyata.”

DAN PENGADILAN PUN DIGELAR

Rekaman atas seluruh perbuatan manusia, hanyalah sebagai alat bukti terhadap proses pengadilan di Akhirat. Setelah kedua hal tersebut ketajaman indera & struktur alam dibuka oleh Allah, maka diputarlah segala rekaman atas seluruh perbuatan kita selama di dunia.
QS. Az Zumar : 69
“Dan terang benderanglah Bumi dengan cahaya Tuhannya, dan diberikanlah buku (perhitungan perbuatan) dan didatangkanlah para nabi dan saksi-saksi, dan diberi keputusan di antara mereka dengan adil, sedang mereka tidak dirugikan.”
Bagaikan sedang menonton bioskop, maka layar pertunjukan pun ‘dinyalakan’ oleh Allah. Di manakah layar pertunjukkan itu dibentangkan? Di seluruh penjuru Bumi, meliputi angkasa, daratan dan lautan. Pendek kata, ruang 3 dimensi ini menjadi ‘arena petunjukan’ untuk menggelar seluruh rekaman alam sernesta. Kita seperti melihat kembali kejadian yang sesungguhnya digelar di depan kita.
Seluruh indera kita termasuk ‘mata hati’ bisa mengobservasi kejadian-kejadian yang pernah kita lakukan sepanjang hidup. Semua orang menyaksikan, termasuk para nabi. Hal ini persis seperti peristiwa yang dialami kakak dan kawan saya, yang telah saya ceritakan di depan.
Setiap orang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Tidak ada yang terlewatkan. Mereka datang sendiri-sendiri kepada Allah, diadili dengan disaksikan manusia seluruhnya.

QS. Huud : 103
“…hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapinya) dan hari itu adalah suatu yang disaksikan (oleh segala makhluk).”
QS. Maryam (19) : 95
“Dan tiap tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari Kiamat dengan sendiri sendiri.”
QS. Al Oiyaamah : 13 -15
“Pada hari itu diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya”
“Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri”
“Meskipun dia mengemukakan alasan alasannya”
Di ayat al Qiyaamah tersebut digambarkan oleh Allah, betapa kita menjadi saksi atas perbuatan kita sendiri. Kita seperti sedang menonton bioskop, dimana pemainnya adalah kita sendiri. Dan kemudian, kita boleh melakukan pembelaan atas apa yang kita lakukan itu dengan segala argumentasi yang kita sampaikan kepada majelis pengadilan. Kata Allah, tidak akan ada yang dirugikan sedikitpun. Allah memberikan jaminan atas adilnya proses tersebut. Tidak seperti di dunia, dimana proses ‘pengadilan’ justru menjadi ajang terjadinya ketidakadilan.
QS. At Anbiyaa’ (21) : 47
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari Kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkannya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.”
Bahkan sebetulnya, tidak perlu Allah yang menghitung segala perbuatan kita. Cukup kita sendiri. Sebab, memang sudah sangat jelas. Seluruhnya terekam. Tidak ada kecuali.
QS. Al Israa : 13 - 15
“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari Kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka”
“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab (penghitung) terhadapmu.”
“Barang siapa yang berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk (keselamatan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain dan Kami tidak akan Meng’azab sebelum Kami mengutus seorang rasul.”
QS. An Nuur (24) : 24
“Pada hari (ketika) lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
Memang dengan melihat rekaman video tersebut, seluruh anggota badan kita telah bersaksi dengan sendirinya Bagaimana tidak, Iha wong kita bisa menyaksikan mulut kita saat berbicara bohong, atau kita melihat tangan kita yang melakukan pencurian, atau kaki kita yang berjalan menuju tempat-tempat yang tidak semestinya. Semua anggota badan kita memberikan ‘kesaksian’ secara langsung, Iewat Perbuatannya.
Proses pengadilan itu berjalan secara paralel. Setiap diri kita langsung bisa melihat rekaman tersebut dalam waktu yang bersamaan. Layar pertunjukkan itu, dalam waktu yang sama bisa langsung diakses oleh miliaran manusia. Seperti yang kini telah ditunjukkan oleh teknologi komputer, dengan multitasking nya. Layar komputer bisa dibagi-bagi dalam format windows, sehingga tidak perlu melakukan antrean.
QS. Al Baqarah (2) : 202
“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan, dan Allah sangat cepat perhitunganNya.”
QS. Ali Imraan (3) : 199
“… sesungguhnya Allah amat cepat perhitunganNya”
QS. An Nuur (24) : 39
“Dan orang-orang yang kafir, amal mereka adalah laksana fatamorgana di lanah yang datar…”
Orang-orang yang berdosa dibalasi yang setimpal dengan dosanya. Dan orang yang beriman serta banyak amal kebajikannya juga memperoleh balasannya. Banyak orang yang kecele pada waktu itu. Mereka menganggap bahwa mereka telah banyak berbuat kebajikan, tetapi ternyata tidak dinilai oleh Allah.
Amal perbuatannya seperti fatarnorgana. Seperti ada, tetapi ketika didekati ternyata tidak ada. Amalan mereka hapus begitu saja, karena dilakukannya tidak lillaahi ta’ala bukan karena Allah.
QS. Al Kahfi (18) : 103 - 106
“Katakanlah : apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang orang yang paling merugi perbuatannya ?”
“yaitu orang-orang, yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”
“Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi mereka pada hari Kiamat.”
“Demikianlah balasan mereka itu Neraka jahannam disebabkan kekafiran mereka dan disebabkan mereka menjadikan ayat-ayatKu dan rasul-rasulKu sebagai olok-olok”
QS. Al Furqaan (25) : 70
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka kejahatan mereka diganti oleh Allah dengan kebajikan, dan adalah Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.”

WAJAH WAJAH YANG BERCAHAYA

Bagaimanakah ciri-ciri orang yang bakal masuk Surga atau masuk Neraka? Salah satunya digambarkan Allah lewat idiom cahaya. Orang-orang yang beriman dan banyak amal salehnya, kata Allah, akan memancarkan cahaya di wajahnya. Sebaliknya, orang-orang yang kafir dan banyak dosanya akan ‘memancarkan’ kegelapan. Hal itu dikemukakan olehNya di ayat-ayat berikut ini

QS Al Hadiid (57) : 12, “Pada hari dimana kalian melihat orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanannya.”

QS. Yunus (10) : 27, “… seakan-akan wajah mereka ditutupi oleh kepingan-kepingan malam yang gelap gulita, mereka itulah penghuni Neraka, mereka kekal di dalamnya.”

Kenapakah orang-orang yang beriman dan banyak pahalanya memancarkan cahaya, sedangkan yang banyak dosa ‘memancarkan’ kegelapan alias kehilangan cahaya?. Ini memang rahasia yang sangat menarik. Allah sangat sering menggunakan istilah cahaya di dalam Al Qur’an. Dia mengatakan bahwa Allah adalah cahaya langit dan Bumi (QS. 24:35). Firman firmanNya juga berupa cahaya (Qur’an QS. 4:174; Taurat QS. 5:44; Injil QS. 5:46). Malaikat sebagai hamba-hamba utusanNya juga terbuat dari badan cahaya. Dan pahala adalah juga cahaya (QS. 57:19). Karena itu orang-orang yang banyak pahalanya memancarkan cahaya di wajahnya (QS. 57:12).

Kunci pemahamannya adalah di Al Qur’an Surat An Nuur: 35. Di ayat itu Allah membuat perumpamaan bahwa DzaNya bagaikan sebuah pelita besar yang menerangi alam semesta. Pelita itu berada di dalam sebuah lubang yang tidak tembus. Tetap di salah satu bagian yang terbuka, ditutupi oleh tabir kaca. Dari tabir kaca itulah memancar cahaya ke seluruh penjuru dunia, bagaikan sebuah mutiara. Pelita itu dinyalakan dengan menggunakan minyak Zaitun yang banyak berkahnya, yang sinarnya memancar dengan sendirinya tanpa disentuh api. Cahaya yang dipancarkan pelita itu berlapis-lapis, mulai dari yang paling rendah frekuensinya sampai yang tertinggi menuju cahaya Allah. Ayat tersebut memberikan perumpamaan yang sangat misterius tetapi sangat menarik. Dia mengatakan bahwa hubungan antara Allah dengan makhlukNya adalah seperti hubungan antara Pelita (sumber cahaya) dengan cahayanya. Artinya makhluk Allah ini sebenarnya semu saja. Yang sesungguhnya ADA adalah DIA. Kita hanya ‘pancaran atau pantulan’ saja dari eksistensiNya.

Nah, cahaya yang dipancarkan oleh Allah itu berlapis-lapis mulai dari yang paling jelek (Kegelapan) sampai yang paling baik (Cahaya Putih Terang). Allah telah menetapkan dalam seluruh ciptaanNya itu bahwa Kegelapan mewakili Kejahatan dan Keburukan. Sedangkan Cahaya Terang mewakili Kebaikan.

Maka, kalau kita ingin memperoleh kebaikan dan keberuntungan, kita harus memperoleh cahaya terang. Dan sebaliknya kalau kita mempoleh kegelapan berarti kita masuk ke dalam lingkaran kejahatan dan kerugian.
Yang menarik, ternyata ‘cahaya’ dan ‘kegelapan’ itu digunakan oleh Allah di dalam firmannya sebagai ungkapan yang sesungguhnya. Misalnya ayat-ayat yang saya kutipkan di atas. Bahwa orang-orang yang beriman, kelak di hari kiamat, benar-benar akan memancarkan cahaya di wajahnya. Sedangkan orang-orang kafir, justru kehilangan cahaya alias wajahnya gelap gulita.
Dari manakah cahaya di wajah orang beriman itu muncul? Ternyata berasal dari berbagai ibadah yang dilakukan selama ia hidup di dunia. Setiap ibadah yang diajarkan rasulullah kepada kita selalu mengandung dua unsur, yaitu ingat kepada Allah (dzikrullah) dan membaca firmanNya yang berasal dari KitabNya. Baik ketika kita membaca syahadat, melakukan shalat, mengadakan puasa, berzakat, maupun melaksanakan ibadah haji.
Nah, dari kedua kedua unsur itulah cahaya Allah muncul. Bagaimanakah mekanismenya? Sebagaimana dikatakan di atas, bahwa Allah adalah sumber cahaya langit dan Bumi. Maka ketika kita berdzikir kepada Allah, kita sama saja dengan memproduksi getaran getaran cahaya. Asalkan berdzikirnya khusyuk dan menggetarkan hati. Kuncinya adalah pada ‘hati yang bergetar.’
Hati adalah tempat terjadinya getaran yang bersumber dari kehendak jiwa. Ketika seseorang marah, maka hatinya akan berdegup keras. Semakin marah ia, semakin kencang juga getarannya. Demikian pula ketika seseorang sedang sedih, gembira, berduka, tertawa, dan lain sebagainya.
Getaran yang kasar akan dihasilkan jika kita sedang dalam keadaan emosional. Sebaliknya getaran yang lembut akan muncul ketika kita sedang sabar, tenteram dan damai.
Ketika sedang berdzikir, hati kita akan bergetar lembut. Hal ini dikemukan oleh Allah, bahwa orang yang berdzikir hatinya akan tenang dan tenteram.
QS. Ar Ra’d (13) : 28, “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah lah hati menjadi tenteram.”
Ketika seseorang dalam keadaan tenteram, getaran hatinya demikian lembut. Amplitudonya kecil, tetapi frekuensinya sangat tinggi. Semakin tenteram dan damai hati seseorang maka semakin tinggi pula frekuensinya. Dan pada, suatu ketika, pada frekuensi 10 pangkat 13 sampai pangkat 15, akan menghasilkan frekuensi cahaya.
Jadi, ketika kita berdzikir menyebut nama Allah itu, tiba-tiba hati kita bisa bercahaya. Cahaya itu muncul disebabkan terkena resonansi kalimat dzikir yang kita baca. lbaratnya, hati kita adalah sebuah batang besi biasa, ketika kita gesek dengan besi magnet maka ia akan berubah menjadi besi magnetik juga. Semakin sering besi itu kita gesek maka semakin kuat kemagnetan yang muncul daripadanya.
Demikianlah dengan hati kita. Dzikrullah itu menghasilkan getaran-getaran gelombag elektromagnetik dengan frekuensi cahaya yang terus menerus menggesek hati kita. Maka, hati kita pun akan memancarkan cahaya. Kuncinya, sekali lagi, hati harus khusyuk dan tergetar oleh bacaan itu. Bahkan, kalau sampai meneteskan air mata.
Unsur yang kedua adalah ayat-ayat Qur’an. Dengan sangat gamblang Allah mengatakan bahwa Al Qur’an ada cahaya. Bahkan, bukan hanya Al Qur’an, melainkan seluruh kitab-kitab yang pernah diturunkan kepada para rasul itu mengandung cahaya.
QS. An Nisaa’ (4) : 174, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur’an).”
QS. Al Maa’idah (5 ) : 44, “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat, di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya …”
QS Al Maa’idah (5 ) : 46, “Dan Kami telah memberikan kepadanya kitab Injil, sedang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya . . . ”
Artinya, ketika kita membaca kalimat-kalimat Allah itu kita juga sedang mengucapkan getaran-getaran cahaya yang meresonansi hati kita. Asalkan kita membacanya dengan pengertian dan pemahaman. Kuncinya, hati sampai bergetar. Jika tidak mengetarkan hati, maka proses dzikir atau baca Al Qur’an itu tidak memberikan efek apa-apa kepada jiwa kita. Yang demikian itu tidak akan menghasilkan cahaya di hati kita.
Apakah perlunya menghasilkan cahaya di hati kita lewat kegiatan dzikir, shalat dan ibadah-ibadah lainnya itu? Supaya, pancaran cahaya di hati kita mengimbas ke seluruh bio elektron di tubuh kita. Ketika cahaya tersebut mengimbas ke miliaran bio elektron di tubuh kita, maka tiba-tiba badan kita akan memancarkan cahaya tipis yang disebut ‘Aura’. Termasuk akan terpancar di wajah kita.
Cahaya itulah yang terlihat di wajah orang-orang beriman pada hari kiamat nanti. Aura yang muncul akibat praktek peribadatan yang panjang selama hidupnya, dalam kekhusyukan yang sangat intens. Maka Allah menyejajarkan atau bahkan menyamakan antara pahala dan cahaya, sebagaimana firman berikut ini.
QS. Al Hadiid (57) : 19, “… bagi mereka pahala dan cahaya mereka…”

Dan ternyata cahaya itu dibutuhkan agar kita tidak tersesat di Akhirat nanti. Orang-orang yang memililki cahaya tersebut dapat berjalan dengan mudah, serta memperoleh petunjuk dan ampunan Allah. Akan tetapi orang-orang yang tidak memiliki cahaya, kebingungan dan berusaha mendapatkan cahaya untuk menerangi jalannya.
QS. Al Hadiid (57) : 28, “…dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu.”
QS. Al Hadiid (57) 13, “Pada hati ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman : “Tunggulah kami, supaya kami bisa mengambil cahayamu.”
Dikatakan (kepada mereka): “Kembalilah kamu ke belakang, dan carilah sendiri cahaya (untukmu). “Lalu diadakanlah di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya ada siksa.”
QS. Ali lmraan (3) : 106 – 107, “Pada hari yang di waktu itu ada muka yang menjadi putih berseri dan ada Pula yang menjadi hitam muram. ‘Ada pun orang-orang yang hitam muram mukanya, (dikatakan kepada mereka) : kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.
“Adapun orang-orang yang putih berseri mukanya, maka mereka berada di dalam rahmat Allah, mereka kekal di dalamnya.”
Jadi, selain wajah yang memancarkan cahaya, Allah juga memberikan informasi tentang orang-orang kafir yang berwajah hitam muram. Bahkan di QS. 10 : 27 dikatakan Allah, wajah mereka gelap gulita seperti tertutup oleh potongan-potongan malam.
Dalam konteks ini memang bisa dimengerti bahwa orang -orang kafir yang tidak pernah beribadah kepada Allah itu wajahnya tidak memancarkan aura. Sebab hatinya memang tidak pernah bergetar lembut. Yang ada ialah getaran-getaran kasar.
Semakin kasar getaran hati seseorang, maka semakin rendah pula frekuensi yang dihasilkan. Dan semakin rendah frekuensi itu, maka ia tidak bisa menghasilkan cahaya.
Bahkan kata Allah, di dalam berbagai firmanNya, hati yang semakin jelek adalah hati yang semakin keras, tidak bisa bergetar. Seperti yang pernah saya singgung sebelumnya, tingkatan hati yang jelek itu ada 5, yaitu : 1. Hati yang berpenyakit (suka bohong, menipu, marah, dendam, iri, dengki disb), 2. Hati yang mengeras. 3. hati yang membatu. 4. Hati yang tertutup. dan 5. Hati yang dikunci mati oleh Allah.
Maka, semakin kafir seseorang, ia akan semakin keras hatinya. Dan akhirnya tidak bisa bergetar lagi, dikunci mati oleh Allah. Naudzu billahi min dzalik. Hati yang:seperti itulah yang tidak bisa memancarkan aura. Wajah mereka gelap dan muram.
QS. Az Zumaar (39) : 60, “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta kepada Allah, mukanya menjadi hitam.”
QS. Al An’aam (6) : 39, “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak, bisu dan berada dalam gelap gulita…”
Seperti yang telah saya kemukakan di depan, bahwa ternyata kegelapan itu ada kaitannya dengan kemampuan indera seseorang ketika dibangkitkan. Di sini kelihatan bahwa orang-orang kafir itu dibangkitkan dala keaaan tuli, bisu, buta, dan sekaligus berada di dalam kegelapan. Sehingga mereka kebingungan. Dan kalau kita simpulkan semua itu disebabkan oleh hati mereka yang tertutup dari petunjuk-petunjuk Allah swt.
QS. Al Hajj (22) : 8, “Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab yang bercahaya.”
QS. Al Maa’idah (5 ) : 16, “…dan (dengan kitab itu) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya.”
QS. Al A’raaf (7) : 157, “…dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Qur’an), mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
QS. An Nuur (24) : 40, “…dan barangsiapa tidak diberi cahaya oleh Allah, tidaklah ia memiliki cahaya sedikit pun.”
QS. At Tahriim (66) : 8, “Hai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah, dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan para nabi dan orang-orang beriman yang bersama dengan dia, sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan : Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Islam Tuntunan Bukan Tontonan

Gara-gara salah memahami syiar, gara-gara salah memahami Islam sepenggal-sepenggal, gara-gara memahami Islam sebatas kulit belaka, gara-gara berambisi menjadikan Islam sebagai kekuatan profan, gara-gara kemunafikan memanfaatkan lambang dan simbol Islam, gara-gara terlalu bangga pada diri sendiri, ibadahnya sendiri, amalnya sendiri, gara-gara suka apriori kepada pluralisme internal ummat, gara-gara ingin cepat jadi ustadz, ingin cepat jadi ulama, ingin cepat jadi kyai…..
Maka Islam hanya jadi bulan-bulanan tontonan, Islam hanya jadi ajang bisnis, Islam jadi alat menyerang kelompok yang tak sepaham, Islam jadi alat legitimasi politik, Islam jadi sasaran empuk dan bahan baku industri kapitalisme, Islam jadi bahan lawakan, Islam jadi tontonan yang menyakitkan. Bahkan Islam dijadikan alat untuk membela kebatilannya, kemunafikannya, keriya’annya, kebusukannya, kebanggaan harga dirinya, prestasi sosial dan jabatannya.
Seorang ulama sepuh hanya bisa prihatin, lalu bermunajat kepada Allah swt. “Tuhan, kini Islam yang kami lihat di media massa, bukan lagi Islam Tuntunan, tetapi Islam tontonan…”
Itulah munajat kyai sepuh dan tokoh ulama yang barangkali mewakili ribuan suara ulama dan kyai di Indonesia, prof KH Alie Yafie, ketika memperingati kemerdekaan RI menurut kalender Hijriyah, bertepatan di bulan suci Ramadhan lalu.
Selama bulan suci Ramadhan lalu, ada fenomena unik yang sangat menjemukan dan memuakkan. Pada sepertiga malam terakhir, biasanya umat Islam sangat khusyu’ beribadah, memohon ampunan, bertasbih, berdzikir dalam Qiyamullail serta tadarrus. Tetapi lepas tengah malam, jutaan umat Islam bangun, bukan untuk menghadap Tuhan, tetapi untuk menghadap TV dengan berbagai pilihan channel acara Ramadhan. TV telah menjadi berhala baru bagi mereka, karena sesungguhnya bukan mereka mendalami agama atau mendengarkan ceramah ustadznya, namun hanya ingin menonton entertainmet dalam jubah agama. Bahkan acara paling bermutu dari kajian tafsir Al-Qur’an prof Quraish Shihab, rating penontonnya paling rendah, padahal acara tersebut paling bermutu dari segi kualitasnya dibanding acara-acara lainnya.
Apakah Islam di negeri ini sudah banyak digiring dan ditentukan oleh para produser TV dan media massa? Bukan ditentukan alurnya oleh para ulama? Apakah Islam harus mengikuti jalannya industri kapitalisme media, kemudian membangun image bahwa life style Islam adalah sebagaimana sosok-sosok di media itu? Politik media macam apakah yang telah merangsek ajaran Islam dan cakrawala Islam di negeri ini? Siapakah yang menjadi Imam ummat? Ulama? Artis? Mubaligh Panggungan? Ustadz teaterikal? Selebritis?
Merinding bulu kuduk kita, ketika mendengar dan melihat fakta tontonan agama di media massa. Tetapi memang, agama paling empuk, paling ramai di pasar dunia, paling mudah untuk dimanipulasi, paling gampang untuk dagangan, paling kuat untuk dijadikan legitimasi apapun, hingga cap halal haram untuk sebuah produk. Ini semua salah siapa? Apakah ummat mengalami kebosanan, kejenuhan, kehilangan simpati kepada para ulamanya, para ustadnya? Lalu beralih pada “Islam hiburan, Islam tontonan, Islam tangisan, Islamlawakan, Islam horor, Islam ruqyahan, Islam kuburan, Islam blatungan, Islam….” Entah apalagi namanya, yang mengeksploitir emosi penonton, untuk sebuah industri ketakutan dan kegembiraan.
Ataukah para kapitalis media sangat gemes dengan potensi empuk agama untuk dijadikan mesin uang? Barangkali saling kerjasama antar ustadznya untuk saling menguntungkan melalui bisnis agama ini? Inilah yang disinggung sejak lama oleh Al-Ghozali, ibnu Athaillah as-Sakandary, bahkan zaman semacam ini pernah diprediksi Kanjeng Nabi saw. “Nafsu dibalik kemaksiatan itu sudah jelas. Tetapi nafsu dibalik ketaatan (ibadah) itu tersembunyi. Terapinya sangat sulit, karena bedanya sangat tipis”
Inilah yang pernah diperingatkan secara keras oleh Abul Hasan asy-Syadzily, seorang sulthan Auliya’ di zamannya, ketika menafsiri ayat, “Rasul tidak pernah berkata dengan dorongan nafsu, melainkan karena wahyu yang diwahyukan…” maka, siapapun jangan merasa senang manakala kata dan ucapannya di “iya” kan oleh pendengar, tetapi senanglah kalian kalau Allah meng “iya” kan hatimu.
Jika seorang penceramah, seorang ustadz bicara di depan publik, dan publik menyambut dengan rasa simpati atas apa yang dikatakan ustadz, lalu sang ustadz gembira karena pandangannya mendapat dukungan, berarti sang ustadz itu telah berbicara karena dorongan hawa nafsunya. Sang ustadz bukan gembira, karena Allah membenarkan kata-katanya, tetapi gembira karena pendengar membenarkan ucapannya.
Seluruh gerakan “Islam tontonan” hanya mengeksploitasi penonton, pembenaran pemirsa, kesenangan pembaca, kenikmatan penyimak. Nafsu penonton, penyimak dan pemirsa adalah ladang bagi industrikomunikasi, apalagi agama, yang dianut oleh semua orang.
Kita tidak usah terlalu menyudutkan media, karena memang media itu industri yang ingin mengeruk keuntungan besar. Mari kita tengok para pelaku, para ustadz, para sosok yang mewakili Islam disitu. Apakah mereka tidak risih dijadikan tontonan ummat? Dijadikan bahan tawaan ummat? Dijadikan pelampiasan emosi semu dari kegersangan ummat? Apakah mereka tidak pernah mendengar jika ummat memunculkan sejumlah kata-kata, “Ayo kita nonton ustadz A….Ayo kita nonton ustadz Aa’ B, ayo kita lihat ustadz J,?” sama sekali tidak ada bau tuntunan dari kata yang terucap. Lalu sekian program diekploitasi. Misalnya ustadz A atau B atau J, bisa dijual segi kehidupan sehari-harinya, keluarganya, seni suaranya, deklamasinya, airmatanya, dan sebagainya.
Islam tontonan juga telah memenuhi judul-judul sinetron. Seperti Rahasia Illahi, Hidayah, Sakratul maut, Takdir Illahi, Taubat, Misteri dua dunia, yang hampir mengaduk-aduk dunia kuburan untuk industri sineas ini. Islam begitu memuakkan dimata anak-anak, begitu mengerikan dan horor dimata orang luar, demikian memuntahkan dimata ummat sendiri. Lalu bermunculan Nama-nama Allah untuk dijadikan industri sineas, seperti Subhanallah, Allahu Akbar, Astaghfirullah…dll
Lalu Ruqyah, okh…sangat memilukan. Apakah pemahaman ruqyah sebegitu dangkal seperti di media dan TV itu? Coba pemirsa lihat bagaimana anda menatap para peruqyah itu, apakah ada Cahaya Illahi yang muncul dari keikhlasan jiwanya? Apakah Islami seperti tontonan Ruqyah itu? Itu ruqyah atau Riya’ah?
Islam tontonan juga membangun imej, bahwa menjadi ustadz, Da’i, Mubaligh, adalah karir dan profesi, lalu muncullah perlombaan jadi da’i, pildacil, jangan-jangan ada lomba jadi Kyai…
Gara-gara Formalisme?
Menurut telaah, kenapa Islam tontonan ini muncul begitu kuat? Sejak kata-kata Islam phobia mulai menyingkir di negeri ini, muncullah Islamisasi diberbagai bidang dalam landskap dan mosaik keseharian, saling tarik menarik antara kepentingan politik, kepentingan semangat agama, dan kebodohan akan agama itu sendiri yang merajai manusia-manusia kota yang konon lebih senang disebut manusia terpelajar.
Semangat formalisme Islam, membuat ummat Islam tergila-gila dengan lambang serba Islam, serba syari’at, jargon serba ummat, disatu sisi lebih merasa terpuaskan oleh rasa bangga, bila Islam ditonton oleh banyak orang, “Inilah Islam!”. Tetapi kita semua tahu, karena “inilah Islam!” terorisme ada dimana-mana, Islam garis keras memanfaatkan momentum maksiat untuk bisa eksis di media massa. Kebiadaban atas nama Islam macam mana lagi ini? Bukankah kita hanya memetik kemunafikan demi kemunafikan ketika meneriakkan Islam sementara hati kita kosong, hati kita kering, jiwa kita sendiri yang sangat menjijikkan untuk divisualkan?
Islam tontonan adalah salah satu dari sekian teater akhir zaman edan. Karena Islam tontonan adalah wujud lain dari Riya’ yang maniak, Riya’ yang didukung teknologi, Riya’ yang dibungkus nama-nama Tuhan, Riya’ yang menumpuk sampah kebanggaan, Riya’ yang membangun lapisan kebodohan, Riya’ yang menghancurkan agama dari pahalanya dari dalam.
Islam tontonan sesungguhnya adalah sampah, yang muncul dari limbah sejarah klarifikasi ad-Din al-Haq. Allah mengumpulkan limbah ini, agar mudah dibersihkan dari jiwa ummat.
Islam tontonan sebagaimana dalam Al-Qur’an, “adalah mereka yang tersesat perjalanan hidupnya di dunia dan menduga apa yang mereka lakukan itu adalah perilaku yang baik.” (Al-Kahfi).
Itulah tema paling mutakhir abad kita, Islam di tengah-tengah kelemahan para ulamanya, para ustadznya, para kyainya, bertemu dengan kebodohan dan ketololan para ummat yang mengikutinya, lalu dijadikan industri empuk tontonan para kapitalisnya, Entertainment nafsu agama. Masya Allah!
Ya Allah, akhir zaman model apalagi ini? Zaman akhir seperti apalagi setelah ini?
Semoga semua itu sebagai caraMu untuk mengubah ummat lebih dekat kepadaMu, yang terkadang Engkau menakdirkan mereka lebih dahulu bermaksiat kepadaMu.
Assalamu’alaikum wr.wb.,
Sebuah tulisan menarik dari seorang sahabat, mudah-mudahan bermanfaat. Menurut beliau, segala komentar (apalagi yang kontra), akan sangat diharapkan.
http://www.gusmus.net/page.php?mod=dinamis&sub=2&id=172

Perintah untuk mencari Wasilah/Nurun ala Nurin

Ilmu Fiqih dan Ilmu Tasawuf(yang metodenya disebut Tarekat) itu merupakan saudara kembar. Seperti sudah kita ketahui, tiga pilar agama islam yaitu iman(ilmu Tauhid), Islam(ilmu Fiqih) dan Ihsan(ilmu tasawuf).
Bid’ah dan Sunah:
Hadist tentang Bid’ah dan Sunah:
1. Rosululloh SAW bersabda, “Hindarilah perkara-perkara yang baru, karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”.
2. Rosululloh SAW bersabda, “Barang siapa merintis jalan yang baik dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikuti jalannya, tanpa berkurang sedikitpun pahala mereka; dan barang siapa merintis jalan yang buruk dalam islam maka akan menanggung dosanya dan dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa berkurang sedikitpun dosa mereka”.
3. Dan dari Rifa’ah Ibn Rofi Al-Zarqi, berkata”pada suatu hari saya sholat di belakang Nabi SAW; kemudian ketika bangun dari ruku beliau mengucapkan sami’allahu liman hamidah dan seorang makmum mengucapkan allahumma lakal hamdu katsiran thayyiban mubarakan fihi. Ketika selesai sholat Rosululloh bertanya, “siapa yang mengucapkan doa tadi?, mukmin tadi menjawab, “saya ya Rosululloh”, lalu Nabi SAW berkata, “tadi aku melihat 30 lebih malaikat berebut untuk mencatat amalan doa itu pertama kali”(HR Al-Bukhari, Muslim, Ibn Hibban, dan kitab hadist sahih lainnya).
Jadi tidak setiap perbuatan yang tidak dilakukan Rosul jadi bid’ah…lalu alirannya sesat…bukan!. Hal baru dan baik adalah sunah juga, adapun kenapa tidak dilakukan Rosululloh, sama sekali bukan karena Rosululloh tidak mampu tapi umat yang pada waktu itu belum mampu menerima ajaran tersebut. Pada jaman Rosululloh SAW, juga belum ada istilah syariat, tauhid, halal, haram, dan sunah.
Tarekat:
Alquran yang berhuruf sebenarnya hanya kulitnya saja, intinya jauh tersembunyi dan tersirat, tidak dapat disentuh oleh orang-orang musrik yang belum disucikan.
QS Al Waaqiah 77-81: sesungguhnya Alquran ini adl bacaan yg sangat mulia, pada kitab yg terpelihara(Lauh Mahfuzh), tidak menyentuhnya keculai hamba-hamba yg disucikan, diturunkan dari Tuhan semesta alam, maka apakah kamu menganggap remeh saja Alquran ini?.
Alquran yang berhuruf sebagai pedoman yang mengatur jasad kita, begitu pula hadist Rosululloh SAW, tapi jiwa kita?,, tentu karena dimensi ruh beda dengan dimensi Alquran yang berhuruf, maka jiwa kita juga diisi dengan Alquran yang ada dalam dada Rosululloh(Alquran yang tidak berhuruf dan bersuara) dan disalurkan secara turun temurun ke sahabat Rosul, Ahlul Bait, para wali Allah dan sampai ke jaman mutatahirin ini melalui tarekat. Pada saat kita meninggal, jasad kita kembali ke tanah(karena mempunyai sifat sama dan jasad berasal dari Tanah), tapi jiwa/ruh kita tentu kembali ke Allah karena ruh kita berasal dari sisi-Nya.
QS Al Hijr 29, “maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan kedalamnya Ruh(ciptaan) KU maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”.
Rosululloh berpesan, bahwa jihad terbesar jihad melawan hawa napsu sendiri, yaitu tentu saja melawan pasukan iblis(iblis adalah sarjana-sarjana surga yang usianya ribuan tahun lebih tua dari manusia, sedang kita hanyalah sarjana-sarjana dunia).

Tarekat adalah jalan untuk mengenal Tuhan secara Haqqul Yaqin dan sekaligus cara melatih diri untuk bisa kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih atau jiwa yang tenang.
QS Al-Fajr 27-30, “hai jiwa yg tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yg puas lagi diridhoiNya, maka masuklah kedalam jamaah hamba-hambaKu, dan masuklah kedalam surgaKu”. Mengenal disini, adalah merasakan kehadiran Tuhan merasakan bahwa ada suatu dzat yang maha Akbar melihat gerak-gerik kita, hingga dalam setiap hembusan nafas kita bahkan setiap detak jantung kita selalu mengingat Tuhan.
Allah menurunkan Alquran dalam dua kelompok, ayat Muhkamat(jelas maksudnya) dan ayat Mutasyabihat(samar maksudnya). Oleh karena itu surat pertama yang diturunkan Allah adalah surat Al ‘Alaq, kita disuruh membaca apa yang tersirat dari ayat-ayat Allah dan alam. Perintah Allah bukan hanya terangkum dalam fiqih saja.
QS Lukman 27, “dan seandainya pohon-pohon dibumi menjadi pena dan laut(menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut(lagi) sesudah(kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya(dituliskan) kalimat Allah, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. Perhatikan ayat-ayat yang ini:
QS Al Hasyr 21, “ kalau sekiranya Kami menurunkan Alquran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah dan perumpaan itu Kami buat ke manusia supaya mereka berpikir”.
QS Al Anfaal 17, “ maka(yang sebenarnya) bukan kamu yg membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka dan bukan kamu yg melempar ketika kamu melempar, tetapi Allahlah yg melempar(Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan”.
QS Al Mujaadilah 21, “Allah telah menetapkan: Aku dan rosul-rosulKu pasti menang. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa”.
QS Ar Ra’d 31, “ dan sekiranya ada suatu bacaan(kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yg sudah mati dapat berbicara(tentu Alquran itulah dia). Sebenarnya segala itu adl kepunyaan Allah. Maka tidakkah orang-orang yang beriman itu mengetahui bahwa seandainya Allah menghendaki(semua manusia beriman), tentu Allah memberi petunjuk kepada manusia semuanya. Dan orang-orang yg kafir senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka, sehingga datanglah janji Allah. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji. QS An Nur 35, “ Allah pemberi cahaya kepada langit dan bumi, perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu didalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang yang bercahaya seperti mutiara yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur dan tidak pula disebelah baratnya yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api, cahaya diatas cahaya(berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Apa ayat-ayat itu hanya sebagai dongeng saja?. sedangkan Allah tidak memberikan mudharat apa-apa yang ada di Bumi dan di Langit(HR Abu Daud dan Tarmizi)…..Hanya orang yang menguasai ilmu tarekat yang dapat membuktikannya. Sedangkan firman Allah agar kita meriset Alquran adalah diantaranya,
QS Yusuf 105, ‘dan banyak sekali tanda-tanda(kekuasaan Allah) dilangit dan dibumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling daripadanya”.
“sesungguhnya ada sebagian ilmu(agama) itu bagaikan perhiasan tersimpan rapi, tidak ada yang membantah taktala ilmu itu disampaikan oleh ulama Allah, melainkan mereka yang hatinya lalai kepada Allah(Al Hadist).
Abu Hurairah ra, berkata, “kuterima dari Rosululloh SAW dua jenis ilmu,satu daripadanya kusebarluaskan, sedangkan satunya lagi apabila kusebarluaskan niscaya dipotong oranglah leher ini(yakni karena kejahilan mereka)”.
Bahkan Rosululloh berpesan, “ajarkan agama sesuai dengan jamannya”.
Ilmu yang disimpan rapi itu adalah ilmu hakekat dan sebagai anak tangga pertama ataupun pintunya adalah ilmu tasawuf(sedangkan metode/caranya disebut tarekat/jalan/cara). Rosululloh SAW sebenarnya sudah mempraktekkannya, bahkan dengan sempurna(Rosululloh SAW adalah Musyid Sejati yang paling sempurna), dan rosululloh SAW juga punya mursyid yaitu malaikat Jibril, begitu pula para nabi dari nabi Adam as, sampe nabi Isa as…semua mempunyai mursyid dan mempraktekkan ritual tarekat, hanya saja secara ilmu belum terang-terangan…karena ilmu hakekat itu sangat luas dan sangat tinggi, yang jelas tak terhingga lebih tinggi daripada teknologi nuklir sekalipun. Tapi di Indonesia sangat jarang ditemukan Guru Besar yang benar-benar memahami tarekat secara ilmu maupun amalnya. Itulah sebabnya di perguruan tinggi, sangat jarang sekali terdapat jurusan METAFISIKA yang membuktikan kekuatan Alquran dan membuktikan kebenaran ayat-ayatnya. Hingga ilmu tarekat cenderung diabaikan, bahkan diabaikan, lebih buruk lagi…malah dianggap sesat!.
Nabi SAW pernah bersabda, “permulaan islam ini asing dan akan kembali asing pula, maka bergembiralah orang-orang yang dianggap asing”.
HR Ibnu Majah dan Tirmizi : Rosululloh SAW bersabda, “akan datang umatku, suatu masa dimana agama tinggal namanya dan Alquran tinggal tulisannya saja tanpa energi”.
Allah berfirman, masuklah kedalam islam secara keseluruhan.
QS Al Baqarah 208, “hai orang yang beriman masuklah kedalam islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syetan. Sesungguhnya syetan itu musuh yang nyata bagimu”. Tapi apa kita sudah keseluruhan?, apa kita memang sudah beriman?, apa kita sudah benar-benar menTauhidkan Allah?….begitu banyak larangan Allah, tapi kita melanggarnya…ampuni kami ya Allah, Kami sungguh khufur akan nikmatMu!.
Kenapa banyak ulama yang menganggap tarekat sesat?
Laurens Of Arabian seorang orientalis telah membuat kajian tentang puncak kekuatan islam dan diperoleh kesimpulan bahwa kekuatan islam adalah karena barisan terdepannya(islam dapat diterima di Indonesia karena tradisi mistik berhasil digempur kekuatan spiritual yang ada dalam Alquran yang disalurkan orang-orang tarekat, barulah orang fiqih bisa menyebarkan akidah islam), dalam pengkajiannya Laurens menyamar sebagai ulama dan mendalami ilmu islam di mekah dan mesir, dia bertemu dengan ratusan ulama yang mansyur, yang akhirnya Laurens mengetahui kekuatan Islam adalah ilmu tarekat. Oleh karena itulah, penjajah belanda melarang dan menyebarkan isu melalui media masa untuk membuat opini bahwa tarekat adalah sesat, bukan itu saja mereka membuat suatu tarekat sesat yang ajarannya menyimpang dari tarekat yang ada sanadnya(pertalian) dengan Rosululloh. Itulah keberhasilan kaum orientalis barat, kemenangan iblis yang telah berhasil memecah belah umat islam. Ajaran dari Laurens terus berkembang hingga kini, didukung pula oleh RA Nicholsen, JA Arbery L Massignon, dan Goldziher penginjil barat yang menentang ajaran islam melahirkan buku-buku propaganda, hingga banyak buku-buku dari orang islam tulen sendiri yang menganggap sesat ajaran tarekat. Bahkan Ibnu Taymiyah(661-728H) seorang pemikir islam bermazhab Hambali menuduh tarekat mengajarkan wihdatul wujud(penyatuan wujud) padahal ke-4 imam Mazhab juga pengamal tarekat, padahal tak satupun ajaran tarekat yang mengajarkan penyatuan wujud(orang yang berilmu logika pasti paham bahwa gak mungkin kan wujud kok bisa bersatu, ilmu alam mengajarkan bahwa benda padat selama tidak berubah wujud tidak akan dapat menyatu dengan benda padat lain). (sumber, majalah Sarina Malaysia Edisi Maret 1985 dengan judul antara tarekat sesat dan tarekat yang baik).
Orang-orang tarekat sendiri telah berhasil menunjukkan bahwa dari tarekat-tarekat yang ajarannya asli dari Rosululloh SAW sama-sama bernaung dalam mazhab tasawuf.
Padahal yang mendapat kemenangan (tentu saja menang dari jihad terbesar) adalah umat yang berhati khusyuk dalam sholatnya, dan kalau tidak menguasai metodenya maka jelas tidak akan mampu membuahkan kenyataan satu ayat/satu hadistpun.
QS Al Mu’minun 1-2, “sesungguhnya beruntunglah orang-orang yg beriman, (yaitu) orang-orang yg khusyuk dalam sholatnya”. nah metodenya adalah tarekat/jalan/cara/metode.
Perintah agar kita bertarekat adalah:
1. QS Thaha 124: Barang siapa tidak mau dzikir akan Aku dia akan mendapat kehidupan sulit di dunia dan di akherat dan akan dikumpulkan sebagai orang buta(karena tidak berjuang untuk mencari wasilah/Nurun ala Nurin(Cahaya diatas Cahaya), hingga tidak mendapat petunjuk.
2. QS Al-Maidah 35: …bertaqwalah kepada Allah(termasuk banyak sholat&dzikir) dan carilah jalan(bahasa arabnya tarekat) dan berjihadlah pada jalanNya agar mencapai kemenangan.
3. QS An Nur 35: …Nur Illahi beriringan dengan Nur Muhammad, yang diberikanNya pada orang-orang yang dikehendakiNya
4. QS Asy Syuura 52 : dan Kami jadikan dia(Alquran) Nur, Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba Kami”.( jika dihubungkan dengan surat Al ‘Alaq, bahwa Rosululloh pada waktu disuruh membaca beliau menjawab”saya tidak dapat membaca”, bahkan sampai berulang kali. Padahal Allah jelas tau kan kalau Rosululloh tidak dapat membaca?…yang disuruh membaca ruh Rosululloh SAW. Alquran yang inti diturunkan berupa Cahaya diatas Cahaya yang tak berhuruf tapi bersuara, kedalam dada Rosululloh SAW).
5. QS Ali Imran 103: berpeganglah pada Tali Allah dan janganlah kamu bercerai berai
6. HR Abu Daud: tak dapat memuat zatKu, bumi dan langitKu, yang dapat memuat zatKu ialah hati hambaKu yang mukmin lunak dan tenang….(untuk dapat menerima Nurun ala Nurin, tidak sembarang jiwa. Ibaratnya untuk dapat memantulkan cahaya, cermin harus bersih dulu kan, jiwa yang banyak dosa laksana cermin yang penuh debu hitam…jangankan memantulkan cahaya…cahaya saja tidak bisa masuk
7. HR Muslim: tidak akan datang kiamat, kecuali kalau di muka bumi tidak ada lagi umat yang berdzikir ALLAH ALLAH
8. QS Al Muzammil 19: …barang siapa hendak mendapat pengajaran, niscaya diambilnya jalan/metodel/tarekat untuk menyampaikannya kepada Tuhan.
9. Nabi Isa, as dalam kitab injil bersabda, “Roti ini adalah jasmaniku, anggur ini adalah darahku. Mari kita makan dan minum bersama”.
10. QS Jin 16: dan jika mereka tetap berdiri diatas metode/tarekat/cara yang benar, niscaya Aku akan turunkan hujan yang lebat. (hujan yang lebat, maksudnya rahmat yang banyak).dll

Mursyid: adalah wali Allah/Ahlul Bait yang ditugaskan untuk memberikan rahmat ke umat, di dalam dadanya/jiwanya telah tertanam Nurun ala Nurin/wasilah dari Allah karena jiwanya telah terhubung dengan Rosululloh. Sedangkan ruh Rosululloh sangat hampir dengan Allah. Para Nabi memiliki mu’jizat, sedangkan para syekh mursyid/wali Allah memiliki karomah-karomah dan orang yang berakal tidak akan mendustakannya.
1. QS Al Khahfi 17: …dan siapa yang dibiarkanNya sesat, maka tidak ada seorang pemimpinpun yang memberinya petunjuk.
2. HR Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, Nasai : ….barang siapa dalam sholatnya tidak beriman-imam(ruhani) ia akan disambar iblis dan syetan.
3. HR Qudsi, Ath Thabrani, Al Hakim&Abu Naim : wali-waliKu dari para hambaKu dan kekasihKu dari makhlukKu, yaitu mereka yang disebut namanya, jika orang menyebut namaKu dan aku disebut bila orang menyebut nama mereka. Sebut nama waliKu, aku telah hadir pada sisimu, jika kita sebut nama Muhammad dalam sholawat, Allah langsung hadir untuk menolong, jelas terlihat bahwa namaKu tidak bercerai dengan nama Muhammad dan nama wali-waliKu.
4. HR Abu Daud: jadikanlah dirimu(ruhmu) berserta Allah, jika belum bisa maka jadikan dirimu(ruhmu) beserta dengan orang-orang(ruhnya) yang telah beserta dengan Allah, maka sesungguhnya orang itulah(ruhnya berisi Nurun ala nurin/wasilah) yang menghubungkan engkau dengan Allah.
5. QS Al Maidah 56: barang siapa mengangkat Allah dan RosulNya dan orang –orang yang beriman menjadi pemimpinnya, maka sesungguhnya akan meraih kemenangan.
6. Hadist Qudsi: kalau engkau melihat ada seseorang yang dikunjungi masyarakat ramai dan ia menaburkan kebajikan dan rahmat serta berkah, bersaksilah bahwa ia adalah kekasihKu, yang aku wakilkan kepadanya untuk menaburkan rahmatKu sebanyak banyaknya, bernaunglah engkau dalam lindungannya, engkau akan selamat dunia dan akhirat.
7. QS Qaaf 16: Aku sangat akrab pada hambaKu yang kukasihi lebih hampir daripada urat lehernya.
8. HR Al Qudha’ie dari Abi Said : carilah kebaikan dari orang yang mempunyai sifat kasih dan hiduplah dibawah lindungannya, karena rahmatKu ada pada mereka. Dan janganlah mencari kebaikan dari orang yang kejam, karena murkaKu ada bersama mereka.
9. HR Qudsi: Allah bersabda, “para waliKu dibawah naunganKu, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan taufiq dan hidayahNya. Supaya ia langsung mengenal Allah dan kebesaranNya yang diberikan kepada hambanya yang dikehendakiNya.
10. HR Abu Syuraih Al Khuja’I : “Alquran itu satu ujungnya ditangan Allah dan satu lagi di tangan kamu(Muhammad), maka peganglah kuat-kuat akan dia, dan barangsiapa yang menghubungkan diri ruhaninya dengan Tali Allah itu yang berada dalam ruhani Muhammad, maka ia juga akan langsung berhubungan dengan Allah”.
11. QS Annisa 69:…..kurnia kepada Nabi, Orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid, orang-orang yang saleh. Adalah sebaik-baiknya bersahabat dengan mereka.
12. QS Attaubah 36 : …Allah bersama orang yang taqwa.
13. Hadist Qudsi, oleh Imam Bukhari dalam Al Islam hal 362 : barangsiapa memusuhi waliKu aku mengumumkan perang kepadaNya, dan bila hambaKu menghampiriKu dengan amalan-amalan yang lebih daripada yang diwajibkan, kemudian terus menerus mendekatkan dirinya denganKu, hingga Aku mencintainya, adalah Aku pendengarannya bila ia mendengar, Aku penglihatannya bila ia melihat, Aku tangannya bila ia mengambil, dan Aku kakinya bila aku berjalan
Sebagai tambahan:
Ruh kita sebelum bersatu dengan jasad, adalah dekat denganNya…ruh kita memiliki sifat yang mirip dengan sifat Allah, “Sesungguhnya aku menciptakanmu memiliki kemiripan denganku”. Ruh kita berisi 99 intuisi-Nya, yang kita sebut nurani. Setelah dimasukkan dalam jasad dan diberi napsu juga, lalu manusia mulai mengenal dunia….maka ruh kita jadi merasa jauh dari Allah, meski sebenarnya Allah lebih dekat daripada kedua urat leher kita. Oleh karena itulah agar ruh kita dekat dengan Allah, kita wajib berdzikir(di Alquran perintah Dzikir jauh lebih banyak lho daripada Sholat).
QS Al Anbiyaa 107 : “Kami tidak mengutus engkau ya Muhammad, melainkan menjadi rahmat untuk semesta alam”. Ini berarti, “tiada Aku turunkan engkau ya Rosul ke dunia melainkan untuk membawa rahmat-Ku ke seluruh alam, langsung dari-Ku”.

Tafsir lirik CINTA Ahmad Dhani

1. MISTIKUS CINTA (terinspirasi dari Syekh EL Jallaludin Rumi)

Lirik : Ketika pertama kali jiwaMu ingin selalu. dekat dengan jiwaku yang belum bisa memahami segala. Arti pertemuan ini arti cumbu rayu ini. Yang mungkin bisa mengungkapkan kenyataan hidup yg terjadi.

Maksudnya: Seorang yg menempuh jalan menujuNya seakan-akan merasa bahwa ia yang menuju dan ingin mendekat kepada Nya, padahal sebetulnya DIA-lah yang mendekat dahulu sehingga orang tersebut berinisiatif untuk berjalan di JalanNya (karena pada hakikatnya semua intuisi , keputusan , tindakan adalah kehendakNYA, bukan kehendak orang/manusia).

Lirik : Ketika jiwaMu merasuk kedalam aliran darahku dan meracuniku. Ketika jiwaMu memeluk hatiku dan biarkan jiwaku cumbui jiwaMu

Maksudnya: Lalu pada saat kita mulai mantap di Jalan Nya, kita akan merasakan tahapan di mana kita menyadari KehadiranNya, maka di manapun kita berada ke manapun kita memandang di sanalah Wajah-Nya (itulah makna logo sampul album LASKAR CINTA). Pada saat itulah terjadi Mabuk Illahi/Ekstase/ KERACUNAN ILAHI.

Lirik : ketika kamu aku melebur mjd satu. dan hanya waktu yg mungkin bisa memahami apa yg tjd. apa yg sedang kau rasa. apa yang sedang kurasa adl CINTA yang tak bisa dijelaskan dgn kata-kata.

Maksudnya : Dan pada tahap terakhir perjalanan spiritual terjadilah apa yg orang bilang dengan Wahdahtuh Syuhud / PENYATUAN KESAKSIAN. Di situlah terwujud kalimat tertinggi / terindah LA ILAHA ILALLAH / tiada Tuhan selain Allah / tiada yang lain selain Allah / tiada yang wujud melainkan WUJUD ALLAH / YANG ADA HANYA ALLAH SATU. di sini nurani kita sudah memancarkan cahaya ILLAHI kembali seperti waktu kita terlahir ke dunia dan ruh kita benar-benar terbebas dari bisikan syetan. Yang dapat mencapai kondisi ini ya Rosululloh, Khalifah, wali, dan orang-orang seperti kita? wah jauh.

2. Indonesia Saja (terinspirasi oleh syekh al-Hallaj)

Lirik: Aku bukan orang jawa aku juga bukan sunda. Aku bukan orang aceh. Aku juga bukan ambon. Aku bukan cina aku juga bukan arab. Aku bukan kiri aku juga bukan kanan. Aku bukan hijau aku juga bukan merah. Reff. Aku hanya merasa aku orang Indonesia saja.
Maksudnya: pada masanya masing-masing agama itu adalah KEBENARAN (jaman Musa AS : Yahudi, Jaman ISA AS : Nasrani , Jaman Rasulullah sampe kiamat : Islam Mulia Raya ) isinya juga sama-sama pesan Tuhan, tapi karena jamannya berbeda, jadi bahasa , tata adat dsbnya ya berbeda tapi jangan kita terpaku pada dogma dan budaya ARABIAN yang kita serap mentah-mentah, Islam harus sesuai dengan zamannya agar aktual dengan manusia pada zamannya juga. Makanya perlu meriset ALQURAN (meriset Alquran wajibkan?…perhatikan makna tersirat dari surat yang pertama diajarkan kepada Rosululloh SAW. Di Alquran dikatakan kalimat ALLAH dapat menundukkan gunung, islam adalah kemenangan, dll tapi baru sebatas dongeng saja, kita-kita ini tidak berusaha membuktikan kebenaran Alquran padahal Teknologi Alquran itu jelas tak terhingga lebih hebat daripada teknologi nuklir sekalipun tapi kita tidak mau meriset alangkah bodoh dan khufurnya kita, kalau merubah Alquran hanya karena ketidakmampuan kita menterjemahkan dan meriset, hanya karena ketidakilmiahan kita, hanya karena nafsu & hasutan syetan, gak bakalan produk kita dapat menandingi produk Tuhan bahkan manusia mulai mengabaikan islam yang berakhir dengan salam keselamatan seluruh umat manusia.

Nabi saw. bersabda: “Hiduplah dengan setiap orang sesuai dengan kebiasaan dan wataknya.”, Muhammad SAW juga bersabda, “ajarkan agamaku sesuai dengan jamannyaâ€�. Muhammad SAW juga bersabda, “Islam itu ilmiah dan alamiahâ€�. Apa gak malu kalau sebagai orang islam, kita dikatakan gak ilmiah atau gak modern/ketinggalan jaman….tentu ucapan Rosululloh harus bisa dibuktikan. Tapi gimana mau jadi ilmiah…kalau kita sebagai umat islam saja selalu memperdebatkan perbedaan pendapat…aliran yang pendapatnya beda dianggap sesat.

Hingga semakin jauh kita dari ajaran rosullulloh SAW, tentang keharusan mencintai sesama muslim, mendoakan orang yang berbuat kejahatan kepada kita, saling mengingatkan dalam kebaikan, tidak merasa lebih beriman, karena yang mengetahui hati setiap orang hanyalah ALLAH…ALLAH hanya melihat hati, bukan wujud/penampilan umatnya (tidak sedikit umat muslim yang baru punya ilmu sedikit…sudah merasa lebih alim/beriman daripada orang laen(seperti iblis yang sudah merasa diciptakan dari api, sebagai sarjana surga….hingga tidak mau menghargai Adam, as yang terbuat dari tanah), itulah gambaran bagi orang yang hanya melihat penampilan.

3. ATAS NAMA CINTA

Lirik: Katamu kau cinta aku. Demi Tuhan kau bersumpah. Katamu kau akan setia. Demi Tuhan kau berjanji. Begitu mudah mulutmu berkata. Atas nama Tuhan demi kepentinganmu. Reff. Atas nama cinta saja.Jangan bawa nama Tuhan

Kekuasaan Tuhan tak terbatas dan tidak dapat dipikirkan oleh manusia salah satu ciptaanNya, sesuai dengan ketentuan Al-Qur’an “Dia berkuasa atas segala sesuatu”(Huwa ‘ala kuli shai’in qadir). Jadi hanya Tuhan yang demikianlah yang patut disembah. Karena itu segala macam perbuatan manusia tidak dapat dikaitkan dengan Tuhan. Bahkan manusia juga tidak akan bisa memikirkan & menganalisa tentang Tuhannya, tapi tugas kita merasakan kehadiran Tuhan.

4. NONSENS

Lirik : Tak ada kebenaran hakiki yang ada cuma hanya Kamu di sana dan akulah milikMu. Keyakinan akan sebuah kebenaran. Bukanlah kebenaran kebenaran yang sejati. Bila tak benar diuji kebenarannya.

Maksudnya: KEBENARAN hakiki hanyalah milikNYA, kita sering dan bahkan selalu merasa benar cuma dari sudut pandang kita padahal sisi kebenaran sangat banyak. Nah…manusia yang memang sangat terbatas akalnya kadang tidak dapat menerima pernyataan TAK ADA KEBENARAN HAKIKI KECUALI MILIK TUHAN YANG HAQQ. Padahal kebenaran bagi kita belum tentu benar bagi mereka.

5. HADAPI DENGAN SENYUMAN

Lirik : Hadapi dgn senyuman. Semua yg terjadi biar terjadi. Hadapi dgn tenang jiwa semua akan baik-baik saja. Bila ketetapan Tuhan telah ditetapkan tetaplah sudah. Tak ada yang bisa merubah dan takkan bisa berubah.

Maksudnya: dhani sebenarnya mengajak agar urusan dunia jangan dimasukkan ke hati, hidup adalah permainan. Hati ini hanyalah kita isi dengan CINTA kpd TUHAN saja. Maka akan ada DAMAI yg tercurahkan RAHMAT ALLAH.

Lirik : Relakanlah saja ini. Bahwa semua yang terbaik. Terbaik untuk kita semua. Menyerahlah untuk menang

Maksudnya: sebetulnya memang kunci kemenangan dunia akhirat memang itu. Menyerah berserah diri memang inti sari Islam Mulia Raya, Islam kan artinya = berpasrah serah diri pada kehendakNya. Karena segala keputusan itu hanya ALLAH yang pegang, bukan karena besarnya usaha kita atau doa kita yang terkabul. Berdoa adalah cara mendekatkan diri kepada ALLAH, ALLAH tetap memberi rahmat kepada orang yang tidak berdoa kepada-Nya kan?.

6. Syair AKU TETAPLAH AKU

Lirik: Aku tetaplah aku begini. Kamu tetaplah kamu begitu. Aku tetaplah aku.

Maksudnya: ini sama aja = LAKUM DINUKIM WALIYADIN. Agamamu bagimu , agamaku bagiku bahkan bisa juga: Pemahamanmu bagi mu, pemahamanku bagi ku.

Nah! karena perbedaan inilah kadang umat muslim di Indonesia ribut-ribut. Yang benar menurut sebagian orang dianggap sesat. Nabi SAW telah mewasiatkan kepada umat ini bahwa perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat. Sungguh, kemuliaan umat ini takkan pernah menjadi rahmatan lil’aalaamiin sepanjang umat tetap berpandangan picik terhadap perbedaan-perbedaan yang ada dan rosululloh bersabda, “Jangan kau umatku mengganggu wanita, anak-anak, tempat ibadah, binatang ternak, pohon-pohon.”. Berkat kesantunan dan kearifan Baginda Muhammad SAW inilah, gak sedikit lho musuh Rosul yang masuk islam.

ALLAH mengajak umatNya bertoleransi dalam “Jangan ada paksaan dalam beragama” (Albaqarah, 2:256). “Kalau Tuhan kamu menghendaki, maka akan berimanlah semua manusia yang ada di muka Bumi. Apakah kalian hendak memaksa manusia agar mereka beriman?”(Yunus, 10:99).

Jika kamu mempunyai kekuasaan, ingatkan pelaku maksiat dengan kekuasaanmu (tentu saja bagi para penegak hukum di pemerintah), jika tidak berilah nasehat/teguran (tentu saja secara pribadi, tidak mempermalukan, tidak membuka aib di depan umum seperti cara yang diajarkan Baginda Rosululloh SAW karena jika tidak syetan akan menyusup dan membuat kita merasa lebih beriman, ALLAH akan merendahkan derajat suatu kaum yang merasa lebih beriman dari kaum yang lainkan? (urusan lebih beriman atau tidak benar-benar urusan ALLAH kan?), jika tidak dapat memberi nasehat, maka doakanlah.

7. Pangeran Cinta

Lirik : Semua ini pasti akan musnah tetapi tidak cintaku padamu. Karena aku sang pangeran cinta

Maksudnya: perhatikan surat Ar-Rahman ayat 27

8. Kuldesak

Lirik: Tolonglah TUHAN beri petunjukMu jalan yg benar menuju jalanMU agar tak tersesat dipersimpangan jalan

Maksudnya: Syair ini merupakan Doa dhani agar tidak tersesat karena ada hadist yang mengatakan bahwa di akhir jaman umat islam akan terpecah menjadi 73 aliran.

9. Kembali ke timur

Menceritakan kekaguman dhani pada sosok Imam AL-GHAZALI seorang ahli fiqih, makrifat dan hakekat yang akhirnya menempuh jalan sufi. Imam Al-Ghazali terkenal dengan sebutan Hujjahtul Islam karena karyanya menjadi pedoman bagi ulama lain. Kata Ahmad Dhani, di luar negeri Al-Ghazali menjadi salah satu mata kuliah wajib di beberapa jurusan ilmu islam.

10. Kosong

Lirik: Kosong yang kini kurasakan Kau terus membayangi aku. di dalam keramaian aku masih merasa sepi sendiri memikirkan Kamu, Kau genggam hatiku dan Kau tuliskan namaMu

Maksudnya : ini menceritakan kondisi seseorang yang telah berada pada maqam/tingkatan mencintai ALLAH meski jasadnya berada dalam keramaian/aktivitas dunia tapi hatinya dalam hal ini ruhnya bahkan pikirannya selalu mengingat Allah, karena nama Allah sudah tertulis dan tertanam di hatinya.

11. Satu

Lirik: Aku ini adalah diriMU, cinta ini adalah cintaMu, Jiwa ini adalah JiwaMu

Maksudnya: pernyataan tentang kesatuan kesaksian/bahwa ruh yang ada pada setiap manusia pada hakekatnya adalah ruh ALLAH (nurani). Ruh yang ada pada setiap manusia berasal dari ruang yang lebih tinggi dan bersifat malaikat. Ruh yang ada pada manusia dikirim ke ruang yang lebih rendah ini berlawanan dengan kehendaknya demi memperoleh pengetahuan dan pengalaman, sebagaimana Allah berfirman di dalam al-Qur’an, “Turunlah dari sini kamu semuanya, akan datang padamu perintah-perintah dari-Ku dan siapa yang menaatinya tidak perlu takut dan tak perlu pula mereka gelisah.” Ayat: “Aku tiupkan ke dalam diri manusia ruh-Ku” juga menunjukkan asal samawi jiwa manusia.

Manusia yang akalnya terbatas dan pemikirannya cenderung pada konsep wujud akan menganggap bahwa pemikiran ini adalah sesat, seperti syetan yang tidak mau menyembah Adam (yang oleh allah telah ditiupkan ruhNya kepada Adam yg berisi 99 intuisiNya) dan karena malaikat memahami bahwa ALLAH menyuruhnya menyembah ruh ALLAH yg ada dlm jasad Adam..maka malaikatpun tunduk dan menyembah ruh ALLAH yg ada pada Adam.

Lirik : dengan tanganMu aku menyentuh…dengan kakiMu aku berjalan…dengan MataMu aku memandang

Maksudnya: Coba perhatikan ayat ALLAH, “˜TANGAN-KU berada di atas tangan mereka, (Wajah-KU berada di atas wajah mereka ) (Q.S Al Fathu, 10), kalau mereka mengambil, aku tangannya, kalau mereka berjalan, aku kakinya, kalau mereka digempur Musuh, Aku lawannya, (H.Qudsi R.Bukhari): Jika Muhammad memanah, Aku yang memanah .! (Q.S. Al Anfal,17).

Lirik : di setiap hembusan nafasku kusebut namaMu

Maksudnya : ajakan agar dalam setiap kita menarik nafas bahkan setiap detak jantung kita jangan pernah melupakan Allah, ajakan agar selalu berzikir menyebut namaNya setiap saat setiap waktu selalu bersamaNya agar jiwa kita ini (yang pada intinya setiap manusia hanyalah mampu menjadi sarjana dunia tapi syetan adalah sarjana surga yang usianya jauh lebih tua dari kita, agar tidak terpedaya oleh bujukan iblis maka kita harus mengingat Allah bahkan dalam tiap detak jantung kita). karena pada awalnya, ruhani/nurani kita dekat dengan Allah (ayat Alquran, “Aku lebih hampir daripada urat lehermu sendiri”), tetapi setelah ruh kita bersatu dengan nafsu dan diberi wujud yang indah yaitu jasad kita lalu mulai mengenal indahnya dunia maka rohani kita (yang berisi 99 intuisiNya) jadi semakin jauh dengan Allah makanya agar kembali dekat. Di Alquran perintah untuk selalu berdzikir Allah lebih banyak daripada perintah Sholat, sebagai mana rukun iman pertama beriman kepada Allah (Allah melihat tingkatan jiwa manusia, bukannya melihat penampilan. smoga kita tidak termasuk orang-orang yang terkena bujukan iblis dengan mencela keburukan orang laen hanya dengan mata & akal kita yang terbatas ini karena hanya Allah yang dapat mengetahui hati dan keilkhlasan umatNya. Ampuni kami ya Rabbi, ampuni kami yang khufur akan nikmatMu)

12. Hidup ini Indah

Lirik: Matahari menyinari seisi bumi, seperti Engkau menyinari ruh di dlm jasadku ini selamanya seperti hujan Kau basahi jiwa yg kering. Hidup ini indah, bila aku selalu ada disisiMu setiap waktu hingga aku hembuskan nafas yg terakhir dan kitapun bertemu.

Maksudnya: syair lagu ini dari doa, “ALLAAHUMMA NAWWIR QULUUBANAA BINUURI HIDAYATIKA KAMAA NAWWARTAL ARDHLO BI NUURI SYAMTIKA ABADAN ABADAN ABADAN BIROHMATIKA YAA ARHAMAR ROHIMIIN”.

Dhani mengingatkan penggemarnya agar selalu bersyukur kpd TUHAN setiap saat, karena Dhani mengetahui dalam ALQURAN sangat sedikit sekali umat yg bersyukur.

“Dan Ingatlah ketika Tuhanmu memberitahukan, jika kamu bersyukur, niscaya aku benar-benar akan menambahkan nikmat-Ku kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-nikmat-Ku, sungguh azab-Ku sangat pedih”. (QS.Ibrahim,14:7)

13. Jika Surga dan Neraka tak pernah ada

Lirik: Jika surga dan neraka tak pernah ada masihkah kau sujud kepadaNya. Apakah kita semua benar-benar sujud menyembah padaNya. Atau kita memang hanya takut pada neraka dan inginkan surga.

Maksudnya: lagu ini juga diprotes oleh sebagian ulama, karena dhani dianggap menyebarkan aliran yang tidak mau surga dan neraka. Beberapa ulama memang berpendapat bahwa seorang hamba tidak akan bisa mencintai Allah, jadi hubungan manusia dengan Tuhan hanya sebatas ketaatan bukannya kecintaan. Jika kita mau berlogika, seorang direktur perusahaan akan lebih menyukai seorang pekerja yang motivasi kerjanya karena memang suka dan senang bekerja pada sang direktur daripada seorang pekerja yang motivasi kerjanya karena imbalan uang.

Lagu ini merupakan refleksi dhani terhadap kenyataan umat islam di Indonesia, terhadap diri sendiri tentang CINTA-nya kepada TUHAN, terhadap kenyataan ajaran sebagian ulama yang hanya sebatas itung-itungan surga dan neraka serta antara dosa dan pahala.

Tidak sedikit ulama di Indonesia yang hanya mengajarkan agama sebatas pahala dan dosa, padahal dalam setiap niat sholat saja, umat selalu berniat “lillahi ta’allaâ karena Ridhlo ALLAH saja. Tapi kenyataannya, setiap amalan karena pahala semata.

TUHAN itu hanya satu dan bukan hanya milik orang islam, islam adalah agama untuk seluruh umat, ALLAH adalah TUHANnya seluruh umat. Dhani menuliskan dengan ALLAH LORD OF THE LORDS Tuhan dari segala sesuatu yg disebut orang sebagai Tuhan (pernyataan ini bagi orang yg tidak berpikir dgn akal, tentu akan menganggap bahwa dhani beranggapan bahwa TUHAN itu banyak, padahal dhani hanya melihat kenyataan bahwa Tuhan bagi setiap manusia itu satu tapi berbeda-beda bagi orang laen sehingga jika dihitung jadi banyak). Smoga kita tidak KHUFUR terhadap nikmat TUHAN. Di dalam islam yang dibawa rosululloh tidak ada yang namanya penampilan islami, musik yang islami (tapi yang ada bahwa musik & segala macam hiburan jangan sampe membuat kita melupakan ALLAH), musik dan syair yang kau dengar hanyalah sebagai penyelaras dalam mengingat kebesaran ALLAH. Bahkan baru kali ini ada seorang anak band yang dengan lantang meneriakkan rahasia dan pesan ILLAHI, meski dihujat seluruh ulama di Indonesia. Smoga melalui syair, dhani dewa dapat menciptakan kuantum kesadaran bagi penggemarnya.

source: milis bumibaladewa

Lelaki Buaya Darat

Artist: RATU
Album: belum diketahui

   

Pengin denger lagunya?? klik aja tombol play-nya!
======================================

lihatlah
pada diriku
aku cantik dan menarik
dan kau mulai dekati aku

ku beri sgalanya
cinta harta dan jiwaku
tapi kau malah menghilang
bagai hantu tak tau malu

lelaki buaya darat
busyet aku tertipu lagi
mulutnya manis sekali
tapi hati bagai serigala

ku tertipu lagi oh
ku tertipu lagi oh

ku beri sgalanya
cinta harta dan jiwaku
tapi kau malah menghilang
bagai hantu sakitnya aku

mungkin aku bodoh
mungkin aku naif
atau mungkin memang kamu
penjahat wanita

tapi untung nya
aku masih punya kekasih yang lain
tapi mengapa aku
masih saja tertipu olehnya